Zacky Jelaskan Nilai Pancasila dari Perspektif Islam

498
Anggota DPR RI, Komisi III Fraksi partai Golkar, foto bersama dengan pengurus FKDT Kabupaten Garut dalam seminar kebangsaan, di gedung Hikmat jalan Cimanuk, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut

GARUT – Anggota DPR RI, Komisi III, Fraksi partai Golkar, Drs. Ahmad Zacky Siradj, melaksanakan seminar kebangsaan dan serap aspirasi dengan tajuk “Menggali Nilai Pancasila dalam Perspektif Islam”, Senin (21/1/2019) di gedung Hikmat jalan Cimanuk, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut.

Hadir dalam seminar tersebut, peserta dari pengurus FKDT (Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah) sebanyak 150 orang perwakilan dari seluruh kecamatan di Kabupaten Garut.

Dalam seminar itu Zacky (sapaan akrabnya), menjelaskan bahwa Pancasila itu tidak bertolak belakang dengan ajaran Islam. Dan nilai Pancasila itu, sebagian terdapat dalam nilai-nilai Islam.

Yang pertama dan yang paling penting, Zacky terlebih dahulu meluruskan pemahaman bagaimana menempatkan posisi Islam dan Pancasila. Menurut Zacky, Islam tidak boleh disejajarkan dengan Pancasila, karena Islam itu adalah wahyu Allah.

“Jangan mensejajarkan agama dengan Pancasila, karena agama kita adalah wahyu. Tetapi nilai-nilai Pancasila itu ada sebagian di dalam ajaran Islam. Nah di situ caranya melihatnya, agar nilai-nilai Keindonesiaan tidak bertentangan dengan akidah kita,”jelasnya.

Sebab, jika salah dalam menempatkan pemahaman ini, maka akan terjadi penyimpangan. Seperti kelompok orang yang anti dengan Pancasila, karena mereka awalnya salah menempatkan ini, mereka mensejajarkan antara agama dengan Pancasila.

“Kalau salah menempatkan, maka ada orang yang anti pancasila, kenapa?. Karena pancasila disejajarkan dengan agama. Nah ini penting, cara pandang ini penting sebab jika salah cara pandang, salah mindset kita maka akan salah kita menyikapi sesuatu,” tegasnya.

Zacky membuat ilustrasi, dia mengibaratkan sebuah segi tiga, di mana segi tiga itu titik pertama yang atas diibaratkan nilai-nilai ajaran Islam. Titik kedua diibaratkan manusia dan titik ketiga diibaratkan nilai-nilai keindonesiaan.

“Kita sebagai manusia Indonesia akan berhubungan dengan nilai-nilai Islam dan nilai keindonesiaan. Tapi nilai keindonesiaan juga harus sesuai dengan nilai-nilai Islam. Sehingga dengan demikian tidak split personality, tidak pecah kepribadian kita. (Artinya) Ketika kita memperjuangkan Indonesia sekaligus memperjuangkan Islam,”kata Zacky.

Begitu juga sebaliknya, ketika kita memperjuangkan Islam, maka sama artinya dengan memperjuangkan Indonesia. Karena itulah kata Zacky, jangan sampai ragu, jangan bimbang, dan jangan sampai pecah kepribadian.

Maka dalam perspektif Islam itu, Zacky memahami sila Pancasila itu terkandung di dalam nilai-nilai Islam. Seperti pada sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa, Zacky menafsirkan nilai itu terkandung dalam islam dan sama dengan nilai Tauhid.

Kemudian kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua) dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila kelima), Zacky melihat nilai ini terkandung dalam Islam yaitu yang disebut dengan ketakwaan.

Dengan demikian kata Zacky, antara memahami nilai Islam dengan nilai Pancasila menyatu dalam pendirian. Tidak seperti kelompok anti Pancasila, yang menganggap bahwa ketika mengamalkan nilai Pancasila itu seperti berlawanan atau mengingkari ajaran Islam.

Begitu juga para pahlawan dahulu ketika membela bangsa Indonesia dari penjajah, itu sama artinya dengan membela Agama. “Jadi kalau para kiyai, ulama dulu berjuang untuk Indonesia, misalnya kiyai Zaenal Mustofa di Tasik yang gugur bersama para santrinya. Itu adalah (sama dengan) membela keadilan, sama dengan membela agama, agar penjajahan di muka bumi harus dihapuskan, karena bertentangan dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan,”katanya.

Ilustrasi lain, Zacky mengibaratkan seperti lampu rambu lalu lintas di perempatan jalan. Ketika lampu merah menyala maka pengendara berhenti, dan ketika lampu hijau menyala maka pengendara berjalan.

Kenapa di sana manusia menuruti sebuah lampu yang merupakan benda mati. Kenapa manusia mau diatur oleh benda mati. Karena menurutnya di sana ada nilai, ada jaminan keselamatan. Bahwa yang ditaati di sana bukanlah lampunya, melainkan sebuah nilai. Begitu juga ketika warga negara menaati Pancasila dan peraturan di bawahnya merupakan bentuk dari menaati nilai untuk keselamatan hidup di dunia.

“Warga negara itu akan selamat bilamana nilai-nilai yang ada dalam negara atau keindonesiaan tadi, ditaati, diperjuangkan, dirawat dan dipelihara. Nah ini saya kira penting untuk disikapi,”katanya.

Selanjutnya, Zacky juga menyampaikan satu konsep kemanusiaan. Dan Indonesia kata Zacky, memiliki konsep kemanusiaan yang adil dan beradab. Bahkan konsep ini pun menurutnya menjadi satu nilai yang universal di seluruh bangsa dunia.

Menurut Zacky, dalam Islam, nilai kemanusiaan yang adil dan beradab ini sama dengan yang disebut akhlakul karimah (akhlak yang terpuji). Artinya manusia yang adil dan beradab itu adalah manusia yang bermoral, manusia yang beretika atau manusia yang berakhlak.

“Maka agama itu harus menjadi sumber kehidupan. dengan begitu agama pun menjadi sumber nilai politik, karena politik bagian kehidupan manusia. Jangan dibalik agama menjadi alat politik,”kata Zacky. (fer/adv)