Warga Ciamis Tersinggung dengan Pernyataan Babe Saidi, Dikatakan Tidak Punya Kerajaan

135
Dewan kebudayaan Ciamis atau Tatar Galuh, Yat Rospia Brata membantah pernyataan Babe Saidi (Rizki Aldi Saputra)

RadarPriangan.com, CIAMIS – Warga Tatar Galuh Ciamis marah besar, mereka tersinggung atas pernyataan Ridwan Saidi atau yang akrab disapa Babe Saidi.

Ketersinggungan itu berawal dari video berdurasi 12,73 menit yang ada di YouTube Macan Idealis. Dalam video tersebut, Babe Saidi mengatakan bahwa di Kabupaten Ciamis tidak ada kerajaan.

Dalam video tersebut Babe Saidi mengatakan, “Saya mohon maaf dengan saudara dari Ciamis. Di Ciamis itu nggak ada kerajaan, karena indikator ada kerajaan itu adalah indikator ekonomi, di Ciamis penghasilannya apa? Sehingga bisa membiayai kerajaan dari mana,” ucapnya.

Ketersinggungan warga Ciamis juga tak hanya di situ. Karena Babe Saidi juga mengartikan makna Galuh itu bermakna brutal.

“Apakah Sunda Galuh agak keliru, ya? Pemberian nama “Galuh” ini, karena artinya itu brutal,” ujar Babe Saidi dalam video tersebut.

Babe Saidi pun melanjutkan perbincangannya, di Kabupaten Ciamis itu tidak memiliki penopang ekonomi yang bisa membiayai kerajaan. Misalnya dari sektor kelautan seperti pelabuhan.

Jika memang terdapat pelabuhan, maka kata Babe Saidi, pelabuhan itu bukan pelabuhan niaga seperti halnya pelabuhan Tanjung Priuk. “Lalu dia dagang apa?” ujar Babe Saidi.

Tidak hanya itu saja, Babe Saidi bahkan menyoroti kisah Dyah Pitaloka dan perang Bubat antara Kerajaan Sunda Galuh dengan Kerajaan Majapahit. Menurutnya, arti bubat itu adalah lapangan olahraga, bukan nama tempat.

“Saya tidak yakin ada cerita Dyah Pitaloka dipanggul-panggul menuju Majapahit untuk dikawinkan. Nggak ada di Indonesia itu mau kawin dijungjung-jungjung dibawa ke rumah lelaki. Itu kagak ada,” katanya.

Ia menambahkan, bahwa budaya Indonesia itu pihak lelaki yang mendatangi perempuan jika akan menikah, bukan sebaliknya perempuan yang mendatangi laki-laki.

“Harus lelaki yang nyamperin. Itu tidak ada di Indonesia wanita yang mendatangi laki-laki,” bebernya.

Selain itu Babe Saidi juga menyebut, Belanda terlebih dahulu datang ke Ciamis, sebelum ke tempat lain di Pulau Jawa. Menurutnya Belanda yang membuat prasasti di Ciamis.

“Dulu kan Belanda yang pertama kali ke Jawa, pastinya ada prasasti palsu yang dibuat di Ciamis oleh Belanda untuk Ciamis,” jelasnya.

Menanggapi pernyataan Babe Saidi, Rektor Unigal sekaligus Dewan kebudayaan Ciamis atau Tatar Galuh, Yat Rospia Brata, membantah semua pernyataan tersebut.

Terkait apa yang di ucapkan di video youtube tersebut. Menurutnya, pernyataannya itu membawa dampak yang besar.

“Pernyataan Ridwan Saidi membuat warga Tatar Galuh menjadi terusik dan akan melayangkan surat kepada Saidi untuk mempertanggung jawabkan semua omongan yang keluar dari mulutnya,” jelasnya.

Menurutnya, penamaan “Galuh” tidak hanya dapat dilihat dari historisnya saja, tetapi banyak dipakai juga oleh lapisan masyarakat Ciamis dan intansi di Ciamis sehingga sangat dihormati dan dijungjung tinggi.

“Nama Galuh sudah melekat di masyarakat Ciamis, saking melekatnya nama Galuh dipakai sebagai nama salah satu instansi pendidikan di Ciamis bernama Universitas Galuh Ciamis dan dengan pernyataan sikap Ridwan Saidi bahwa “Galuh” itu brutal, itu sangat menyakitkan warga Ciamis, warga Ciamis serasa diinjak-injak oleh semua perkataannya,” ucapnya di aula pascasarjana Universitas Galuh (13/02/2020).

Maka dari itu katanya, seluruh budayawan dari berbagai daerah berkumpul, seperti dari Kuningan, Tasik, Banjar, Cilacap, dan Ciamis untuk menyatakan sikap kepada Ridwan Saidi atas pernyataannya tersebut. Mereka tidak menerima pernyataan bahwa di Ciamis tidak ada kerajaan karena tidak ada indikator ekonomi.

“Kata siapa di Ciamis tidak ada ekonomi? Coba lihat darmaga pertumbuhan ekonomi di Tatar Galuh itu. Kata siapa tidak ada? Dia tak tau apa-apa tentang Ciamis. Jadi, jangan suka bicara tentang Galuh kalau tak hapal dengan budaya di Ciamis,” katanya.

Selain itu, masyarakat Ciamis juga tidak menerima nama “Galuh” diartikan dengan kata “brutal”.

Menurutnya, arti dari kata “Galuh” itu adalah hati yang murni, tidak tergoyahkan dan bersinar terang bagaikan permata.

“Galuh memiliki beberapa arti dan makna. Galuh dipahami secara umum berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti permata. Dalam kehidupan kerajaan di Indonesia, khususnya di Jawa,”ucapnya.

“Di Ciamis prasasti sungguh banyak. Di setiap jengkalan tanah di Galuh terdapat prasasti yang berarti bagi Ciamis,” ujarnya lagi.

Dengan pernyataan tersebut, warga Tatar Galuh Ciamis meminta Saidi dalam waktu 2×24 jam untuk datang ke Ciamis dan membuktikan pernyataannya tersebut.

” Ridwan Saidi harus datang ke Ciamis dan membuktikan semua perkataan yang keluar dari mulutnya, kalau tidak datang dalam waktu 2×24 jam, kami warga Tatar Galuh Ciamis akan melaporkan kepada pihak yang berwajib,” tegasnya.

Sementara itu, di tempat yang sama, Kepala Disbudpora Kabupaten Ciamis, Erwan Dermawan, menyampaikan, agar warga Ciamis Tatar Galuh tetap tenang dan menahan diri sehingga dapat membuktikan bersama-sama bahwa arti kata “Galuh” itu bukan brutal.

“Galuh itu tidak brutal, tapi mempunyai arti yang baik dan bagus bagi masyarakat Tatar Galuh Ciamis,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan ini sudah diketahui oleh Bupati Ciamis dan akan ditindaklanjuti sesuai langkah-langkah yang telah dibahas Rektor sekaligus Dewan Kebudayaan.

“Dengan persoalan yang sedang dialami saat ini Bupati Ciamis pun tau, tapi beliau tidak sempat hadir karena ada acara ke Purwakarta bersama dengan Gubernur, tapi dari semalam kita sudah laporkan tentang Galuh yang dibilang Brutal oleh Ridwan Saidi,” ucapnya.(mg2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here