Warga Ciamis Melihat Ridwan Saidi Tidak Seperti Mengakui Kesalahan, Hanya Pembelaan Diri

448
Aep Supriyadi, Alumni Universitas Galuh (Rizki Aldi Saputra)

RadarPriangan.com, GARUT – Luka warga Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terkait pernyataan kontroversial Ridwan Saidi masih membekas. Banyak pihak yang keberatan makna Galuh diartikan brutal oleh Ridwan Saidi dan juga Kabupaten Ciamis dikatakan tidak memiliki kerajaan.

Walau demikian, di beberapa media dan konten youtube, Ridwan Saidi sudah mengeluarkan permohonan maaf atas pernyataannya tersebut. Menurutnya, apa yang dikatakannya bukan untuk mencari sensasi atau menjelekkan Kabupaten Ciamis, melainkan untuk merekonstruksi sejarah.

Namun demikian, warga Ciamis menilai, permohonan maaf yang disampaikan Ridwan Saidi tersebut masih terkesan mengandung pembelaan diri. Artinya tidak ada itikad baik untuk mengakui kesalahan atau meralat pernyataan. Tapi yang dikatakannya terkesan masih mempertahankan bahwa pendapatnya tidak salah.

“Babe Ridwan Saidi sama sekali tidak ada indikasi mau mengakui kesalahan ataupun beritikad baik mengklarifikas semua ucapannya terhadap Galuh yang diartikan brutal,” ujar Aep Supriyadi, S.I.P Alumni Universitas Galuh, Rabu (19/02/2020).

Aep juga mengaku heran dengan definisi galuh yang diambil Ridwan Saidi dari kamus Armenia Kaukasus. Menurutnya referensi tersebut tidak bisa dijadikan rujukan untuk menghancurkan fakta sejarah.

” Sebuah referensi entah dari mana asalnya yang menurut Babe Ridwan sangat valid dan bisa dipertanggungjawabkan. Aneh sekali seorang tua mengklaim tahu sejarah bahkan banyak sejarah dengan sumber referensi kamus Armenia kaukasus dan gilanya mementahkan sejarah yang sudah disahkan melalui penelitian para ahli,” katanya.

Aep juga meyakini bahwa pernyataan Ridwan Saidi tersebut akan berujung pada pelaporan ke pihak Kepolisian. Karena masalah ini adalah tentang harga diri suatu daerah.

“Apalagi menurut Kapolres Ciamis kasus ini sudah dibawa ke ahli bahasa untuk ditinjau dan sudah layak secara pidana untuk diperkarakan,” katanya.

Aep menambahkan kembali, kalau menyangkut harga diri, kehormatan dan identitas mestinya memang tidak ada istilah rekonsiliasi berupa sikap memaafkan. Apalagi dari pihak Babe Ridwan sendiri tidak ada itikad mengklarifikasi pernyataannya, serta menarik semua pernyataan itu dan mengakui apa disampaikannya salah kaprah.

“Rekonsiliasi yang harus dilakukan adalah apabila Ridwan Saidi mengakui kesalahannya dan meminta maaf bukan memaafkan tanpa kejelasan klarifikasinya hanya karena melihat ketokohan Ridwan Saidi. Itu artinya secara tidak langsung membenarkan pernyataan Ridwan Saidi, dan membenarkan pernyataan Ridwan Saidi berarti menerima harga diri dan kehormatan diinjak-injak serta mementahkan sejarah Galuh yang selama ini kita yakini,”jelasnya.

“Persoalan harga diri dan eksistensi tanggungjawab kita warga tatar Galuh kalau bukan oleh kita diluruskan dan dibela, orang lain mungkin cuma menonton dan mengiyakan, sementara kita mampu merapatkan barisan untuk melakukan pembelaan,” tambahnya.

Permasalahan ini kata Aep akan sangat berpengaruh pada generasi penerus. Apabila kesalahan ini tidak diluruskan, khawatir citra buruk itu akan melekat di generasi penerus di Ciamis.

Padahal kata Aep, selama ini yang tergambar di masyarakat bahwa Galuh itu memiliki makna yang sangat luhur. Dan Galuh menjadi sejarah yang sangat luar biasa bagi warga Ciamis.

“Galuh itu mempunyai sejarah yang panjang dan membanggakan tatar Galuh dan sunda pada umumnya. Galuh merupakan cikal bakal kerajaan Sunda Galuh (Pajajaran) serta mempunyai keterkaitan dengan kerajaan Mataram Kuno, karena Dinasti Sanjaya yang menurunkan raja-raja Jawa adalah keturunan Galuh, bisa dibaca di buku Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa ), karya Drs. Yoseph Iskandar,”jelasnya.

Aep menambahkan, Galuh itu dalam berbagai referensi bermakna bagus, dilihat dari Bahasa Jawa Galuh berarti perak dan ratna (intan). Dalam Bahasa Sunda Galuh berarti permata. Dalam Kamus Bahasa Indonesia Galuh sendiri diartikan perak, ratna (intan) sebagai sebutan untuk putri raja.

Dalam budaya masyarakat Galuh (Sunda), makna kata ”galuh” identik dengan ”galeuh”, bagian tengah (inti) pohon atau kayu berwarna kehitam-hitaman dan keras, bukan galeuh yang berarti beli.

Kata ”Galuh” juga dipahami identik dengan “galih” (qolbu), sehingga ada ungkapan dalam bahasa Sunda, ”Galuh galeuhna galih” “Galuh intinya hati” atau “inti hati adalah galuh”.

Ungkapan itu menunjukkan bahwa kata ”galuh” memiliki makna filosofis yang dalam. W.J. van der Meulen S.J. dalam bukunya berjudul Indonesia di Ambang Sejarah (1988), menyatakan kata ”galuh” berasal dari kata “saka lo” (bahasa Tagalog) yang berarti “dari sungai asalnya” = air. Kata itu berubah menjadi “segaluh/sagaluh”.

Galuh dalam Bahasa Banjar Kalimantan Selatan Kata ”galuh” dalam bahasa Banjar Kalimantan Selatan artinya gadis, atau memiliki makna pula sebutan bagi anak perempuan yang disayangi, panggilan kesayangan oleh orangtua atau keluarga terdekatnya.

“Jadi tidak ada satupun pemaknaan kata Galuh yang konotasinya negatif, seperti yang di ungkapkan Babeh Ridwan Saidi sebagai Brutal dalam Kamus Armenianya,” kata Aep. (mg2)