Upah Dirasa Kecil, Ratusan Petugas Sorlip Mengundurkan Diri

308

Gudang Surat Suara Terbatas, KPU Garut Ingin Pinjam GOR Ciateul

RADARPRIANGAN.COM, GARUT – Ratusan orang yang bertugas menyortir dan melipat surat suara mengundurkan diri dari pekerjaannya karena upah yang diterima terlampau kecil.

Mereka mengaku antara informasi yang diterima dengan realitanya tidal sama sehingga mundur menjadi pilihan.

“Kita tidak mengatahui kalau upah yang akan kita terima setiap lembarnya hanya Rp 75 saja, taunya kita perlembar Rp 100. Dan saat petugas KPU mengumumkan upahnya hanya segitu, banyak yang kecewa dan memilih mengundurkan diri,” kata HS, 55, salah seorang pelipat dan lenyortir surat suara, Kamis (14/3).

HS menyebut bahwa petugas pelipat dan penyortir surat suara yang mengundurkan diri jumlahnya mencapai 60 persen. Namun meski kecewa, sebagian petugas termasuk dirinya, ada juga yang memilih untuk meneruskan pekerjaannya.

“Kalau saya berfikirnya sambil mengisi waktu luang saja, lumayan,” katanya.

Sekretaris KPU Garut, Ayi Dudi Supriadi membenarkan banyaknya petugas sorlip yang berasal dari kelompok masyarakat yang mengundurkan diri atau tidak mau melanjutkan pekerjaannya. Hal ini dikarenakan jasa premi sorlip yang dianggap terlalu kecil yakni hanya Rp 75 per lembar.

“Para pertugas juga menyebutkan tingkat kesulitan dalam pengerjaan sorlip surat suara untuk Pemilu 2019 ini dinilai terlalu besar dibandingkan dengan surat suara waktu Pilkada.Mereka berharap uang premi yang mereka terima akan lebih besar dan jika tidak mereka tidak akan mau meneruskan pekerjaannya,” jelasnya.

Meski jumlah petugas sorlip yang mengundurkan diri cukup banyak, akan tetapi diakui Ayi hal ini tidak akan berpengaruh terhadap pemunduran jadwal pendistribusian logistik ke daerah.

Hal ini dikarenakan animo masyarakat untuk menjadi petugas sorlip yang sangat tinggi sehingga tak sulit untuk mencari petugas yang mengundurkan diri.

“Dari total kebutuhan yang hanya mencapai 1.500 orang, ternyata peminatnya jauh lebih besar yakni mencapai kurang lebih 3 ribu orang,” kata Ayi.

Di sisi lain Ayi menjelaskan kendala utama saat ini sebenarnya bukan petugas yang mengundurkan diri tapi ketersediaan gudang yang terbatas.

Saat ini KPU memiliki tiga gudang akan tetapi semuanya diisi oleh logistik Pemilu sehingga sulit untuk mencari tempat sorlip surat suara.

“Upaya yang dilakukan KPU untuk mempercepat pendistribusian logistik yang berada di luar kotak suara kepada PPK di antaranya dengan cara meminjam GOR Beladiri Ciateul.

Rencananya GOR tersebut akan digunakan untuk perakitan kotak suara sehingga nanti gudang yang ada di Pasirmuncang dan di Copong dapat digunakan untuk kegiatan sorlip surat suara,” jelasnya.

Ketua KPU Garut, Junaidin Basri menyebut untuk mempercepat proses sorlip, pihaknya akan mengoptimalkan aoutshorshing yang ada dengan memperpendek gilirannya.

“Dari yang tadinya diatur perminggu, nanti bisa diubah menjadi per 2 atau 3 hari jadwal sorlip. Terkait minimnya upah atau uang premi sorlip surat suara kita dari awal sudah mengajukan agar ada kenaikan. Semoga segera ada revisi pagu premi sorlip dari pusat,” katanya. (igo)