Tertekan Secara Psikologis, Begini Curhatan Keluarga Perawat di Puskesmas Cisurupan

831
Tatang bersama anggota Pemuda Pancasila Kecamatan Cisurupan tengah berdiskusi (ist)

RadarPriangan.com, GARUT – Pasca adanya kasus konfirmasi positif covid-19 di Puskesmas Cisurupan, Kabupaten Garut, keluarga tenaga medis (perawat) diliputi rasa cemas.

Ada beberapa permintaan mereka kepada pemerintah Kabupaten Garut, terutama kepada tim gugus tugas penanganan covid-19 Kabupaten ataupun kecamatan khusus bagi keluarga perawat ini.

Tatang S (48), warga Kecamatan Cisurupan, mengaku sebagai saudara dari salah seorang tenaga medis di Puskesmas Cisurupan. Dia menuturkan, hingga saat ini pihak keluarga masih berharap cemas menunggu hasil swab test terhadap keluarganya yang menjadi tenaga medis itu.

Walaupun secara rapid test hasilnya sudah keluar dan dinyatakan nonreaktif (negatif) namun mereka mengaku belum tenang ketika hasil swab test belum keluar.

“Saya mau bertanya itu hasil swab test memang lama ya,? berapa lama sampai hasilnya keluar?” kata Tatang saat dihubungi Minggu malam (3/5/2020).

Kecemasan Tatang dan keluarga cukup beralasan, karena saudaranya yang menjadi tenaga medis di puskesmas itu sudah banyak berinteraksi dengan keluarga di rumah.

Sehingga dia berharap hasil swab test cepat keluar agar keluarga bisa hidup tenang dan tidak merasa cemas seperti sekarang.

Kemudian, Tatang juga mengeluhkan, bahwa selama ini tidak ada pengarahan dari tim gugus tugas penanggulangan covid-19 kepada keluarganya. Apa yang harus dilakukan sebagai keluarga ODP dan seperti apa saja batasan interaksi di luar, mereka bingung.

“Tidak ada imbauan harus seperti apa kepada keluarga kami di rumah, kami bingung. Bahkan di rumah juga pintu pagar itu dikunci gembok, mau keluar masuk itu dikasih tahu pakai wa,” katanya.

Kemudian yang paling penting, Tatang meminta kepada Pemerintah Kabupaten Garut agar ada semacam trauma healing, untuk memulihkan psikologis mereka yang selama ini merasa tertekan.

“Kami butuh konsultasi kepada psikiater, karena yang paling utama bencana mental ini yang kami rasakan ketika tertimpa masalah seperti ini,” kata Tatang.

Selain itu Tatang ingin memberi masukan kepada Pemkab Garut, agar ke depan lebih waspada lagi dalam menangani warga yang ditetapkan status ODP. Dia berharap ketika ada warga yang sudah ditetapkan ODP, lebih baik diisolasi di satu tempat, jangan dibiarkan berinteraksi dengan keluarganya di rumah.

Kejadian yang menimpa saudaranya ini menjadi pelajaran. Sebab yang merasakan tertekan bukan hanya orang yang berstatus ODP, tapi juga pihak keluarga di rumah.

Maka dari itu dia berharap ada tempat isolasi khusus bagi masyarakat yang sudah ditetapkan ODP atauapun PDP. (fer)