Terdampak Longsor, Puluhan Warga Talegong Terpaksa Mengungsi

63

RadarPriangan.com, GARUT – 73 orang warga Kampung Lebokbintinu, Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terpaksa mengungsi dari rumah-rumahnya. Hal tersebut dilakukan karena rumah mereka terdampak bencana longsor yang terjadi pada Senin (17/02/2020) dini hari.

“Ada 24 rumah dan satu masjid yang terdampak longsor, dimana 14 bangunan diantaranya masuk dalam zona merah yang terancam longsor. 14 rumah yang di zona merah sudah tidak bisa lagi ditinggali,” ujar Kepala Desa Sukamaju, Yeyet, Kamis (20/02/2020).

Yeyet mengatakan bahwa ke-73 warga itu mengungsi di rumah-rumah warga yang dianggap aman, namun sebagian besar tinggal di rumah ketua rukun warga.

“Kondisinya masih aman, kebutuhan logistik juga Alhamdulillah terpenuhi. Pos kesehatan juga didirikan di dekat tempat mengungsi sehingga saat ada yang sakit bisa langsung memeriksakan diri,” katanya.

Ia mengungkapkan, pasca bencana longsor juga menyebabkan warga tidak bisa beraktivitas di kebun milik mereka karena kebunnya terancam longsor.

Aktivitas yang bisa dilakukan hanya mencari rumput untuk memberi makan hewan ternak.

Yeyet mengungkapkan pihaknya belum bisa memastikan hingga kapan warganya akan diungsikan. Namun ia menyebut bahwa bantuan logistik hanya akan dilakukan hingga H+3 sejak warga mengungsi.

Walau begitu ia mengaku akan menggalang bantuan dari warga agar bisa membantu.
Selain itu, kata Yeyet, pemerintah desa berencana untuk merelokasi rumah warga yang terdampak longsor. Namun untuk relokasi harus melalui beberapa tahapan, dan ia mengaku akan berbicara kepada Bupati Garut terkait rencana itu.

Yeyet menyebut bahwa pihaknya pun sudah mencari tempat yang aman untuk relokasi.

“Kalau tidak direlokasi pemerintah kabupaten, dari desa juga siap walau dana desa tidak diperbolehkan beli tanah, tapi kalau membuat rumah siaga bencana bisa,” kata dia.

Sementara itu, salah seorang warga yang mengungsi, Agus (36) mengaku bahwa rumahnya tidak terdampak langsung longsor namun memilih mengungsi karena takut. Ketakutan tersebut bukan tanpa sebab.

“Tanahnya sampai sekarang masih terus gerak,” ucapnya.

Agus bersama keluarganya, saat ini tinggal rumah ketua RW. Ia pun tinggal bersama warga lainnya yang mengungsi dan harus berbagi tempat tidur dengan kondisi seadanya. Siang hari ia mengontrol rumah dan kandang tempat hewan ternaknya yang harus diberi makan.

“Kalau harus tidur di rumah mah gak berani. Kebayang nya kejadian longsor. Maunya sih pindah, tapi ya gimana baiknya saja,” ungkapnya.

Sejak tinggal di Kampung Legokbintinu di 2005, Agus menyebut bahwa longsor baru pertama kali terjadi di kampungnya. Ia juga menyebut bahwa tanda-tanda akan terjadinya longsor tidak nampak.

Warga lainnya, Nasih (35) mengatakan tanah longsor itu terjadi saat dirinya sedang tidur. Ia tiba-tiba mendengar suara keras, saat dicek ternyata longsor. Lokasi longsor berjarak sekitar 10 meter dari rumahnya.

“Saya dengan keluarga langsung ke rumah orang tua. Kalau disuruh memilih mending direlokasi karena rumah saya sudah tidak aman,” katanya.

Bupati Garut, Rudy Gunawan mengaku bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk merelokasi warga. Setidaknya ada dua tempat yang ditawarkan, namun pihaknya akan memeriksa lokasi tersebut sebelum dijadikan tempat relokasi.

“Kita akan minta geologi (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) untuk mengecek lokasi. Kalau bebas gempa atau gerakan tanah, kita beli. Saya sudah instruksikan BPBD Garut untuk mengawal proses itu dan dalam sepekan ini saya meminta agar sudah ada kepastian lokasi. Untuk pembelian tanahnya kita targetkan selesai sebulan,” ungkapnya.

Setelah tersedia, Bupati mengaku tidak akan menggunakan pemborong untuk proses pembangunannya, namun warga diharapkan ikut gotong royong.

“Jadi untuk sementara warga tinggal dulu di tempat aman. Pemkab Garut siap menanggung kebutuhan logistik untuk pengungsi,” tutupnya. (igo)