Temuan BPJS Program Kartu Prakerja Meleset

27

JAKARTA – Program Kartu Prakerja diharapkan untuk menangani pengangguran di Indonesia. Karena dengan program tersebut pekerja yang terdampak Covid-19 akan mendapatkan subsidi gaji, pelatihan, berwirausaha maupun upskilling untuk bekal mencari kerja.

Namun dari temuan Badan Pusat Statistik (BPS), tujuan program tersebut bertolak belakang, karena mayoritas penerima Kartu Prakerja justru berstatus bekerja, yakni 66,47 persen.

“Sebanyak 66,47 persen penerima Kartu Prakerja itu statusnya adalah pekerja. Sementara 22,24 persennya pengangguran, dan 11,29 persennya merupakan Bukan Angkatan Kerja (BAK),” kata Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto, kemarin (27/11).

Ia menambahkan, dari penerima Kartu Prakerja yang masih bekerja, sekitar 63 persennya berstatus pekerja penuh. Sisanya sebesar 36 persen merupakan pekerja tidak penuh atau bekerja di bawah 35 jam per Minggu. Golongan ini disebut setengah pengangguran.

“Artinya income mereka sangat terbatas. Oleh karena itu bisa dimaklumi, meskipun statusnya mereka bekerja, mereka apply dalam program kartu prakerja,” tutur Kecuk.

Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menyayangkan terdapat 2,1 juta korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang tidak lolos sebagai peserta Program Kartu Prakerja.

“Kami sangat sayangkan keputusan Manajemen Pelaksana Program (PMO). Data pekerja terdampak 2,1 juta orang dan diperintahkan presiden langsung, dapat karpet merah seharusnya, ternyata hanya sebagian kecil yang diterima,” ujar Ida.

Dia mengatakan, dari 2,1 juta orang yang diprioritaskan itu disisir kembali hingga mendapat 555.540 orang yang masuk daftar whitelist. Sebanyak 25 ribu orang merupakan data usulan dari DPR RI, 20.700 usulan NU, 9.000 usulan Muhamadiyah, dan 500 ribu usulan Disnaker.

Data tersebut selanjutnya dikirimkan ke PMO Kartu Prakerja pada 1 Oktober 2020. Namun setelah dianalisa PMO, hanya 270 ribu orang yang disetujui. Selanjutnya, pada 3 November 2020, PMO Kartu Prakerja hanya menerima 95.559 orang dari data yang diusulkan untuk lolos di gelombang 11. Jumlah itu hanya sekitar 4,5 persen dari usulan sebanyak 2,1 juta tersebut. (din/fin)