Stok Cabai Stabil, Tapi Harga Naik

119
Pedagang cabai di pasar Garut (Iqbal Gojali)

GARUT – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Garut akan segera melakukan penelusuran di pasar. Hal tersebut dilakukan untuk mencari penyebab kenaikan harga cabai di sejumlah pasar seperti Pasar Induk Guntur, Garut, yang selama ini masih bertahan di atas harga normal.

” Kami mendapatkan laporan stok cabai sudah melebihi dari cukup, tapi heran harga masih tinggi,” kata Kepala Disperindag Kabupaten Garut, Nia Gania, Rabu (29/01/2020).

Nia menuturkan bahwa persoalan itu sudah dilaporkan ke Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Garut untuk mencari tahu penyebab kenaikan cabai di pasaran. Harga cabai di pasaran, kata dia, seperti cabai merah pernah mencapai Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per kilogram dari kisaran harga normal Rp30 ribuan per kilogram.

” Kami sudah menugaskan bidang perdagangan untuk mengetahui apa yang menjadi hambatan sehingga harga cabai merah masih tinggi di pasaran,” kata Nia.

Ia mengungkapkan, kenaikan suatu barang seperti cabai sebagai jenis bahan pangan biasanya akan terjadi apabila pasokan kurang atau tidak memenuhi kebutuhan pasaran sehingga harga akan naik.

Namun saat ini, lanjut dia, berbagai jenis cabai di pasaran sudah cukup melimpah, bahkan lebih cukup dari kebutuhan masyarakat sehingga harganya bisa turun atau normal. “Kenaikan cabai itu biasanya dipicu keterlambatan dan minimnya stok barang, tapi ini tidak terjadi dikeduanya, tapi harga tetap saja tinggi,” katanya.

Ia berharap, tim gabungan dari Disperindag dan TPID dapat secepatnya mengetahui penyebab kenaikan harga cabai dan barang lainnya di pasaran agar masyarakat bisa kembali membeli kebutuhan pangan dengan harga normal.

” Mudah-mudahan segera diketahui pemicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di pasaran,” katanya. (igo)