STIT Qurrota A’yun Buka 3 Program Studi

1817
SIMBOLIS. Wakil Bupati Garut, dr. Helmi Budiman bersama Ketua STIT Qurrota A'yun, Perwakilan Yayasan dan para Dosen saat Grand Launching Perguruan Tinggi Qurrota A'yun

Perguruan Tinggi Garut yang Berada di Lingkungan Pesantren

GARUT – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrota A’yun resmi dibuka tahun ini. Perguruan Tinggi yang berada di bawah Yayasan Qurrota A’yun itu membuka tiga program studi, yakni Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

Prosesi Grand Launching STIT Qurrota A’yun yang digelar di Jalan Raya Samarang No.114 Kampung Cikamiri, Desa Sirnasari, Kecamatan Samarang, Sabtu (3/8/2019), turut dihadiri oleh Wakil Bupati Garut, dr. Helmi Budiman, perwakilan Yayasan Qurrota A’yun, dosen dan para tamu undangan.

Ketua STIT Qurrota A’yun, KH. Deden Jahir Alamsyah,  S.H.I.,M.Pd.I, mengatakan, keberadaan STIT Qurrota A’yun diharapkan memberi kontribusi dalam peningkatan indeks pendidikan di Kabupaten Garut.

Tidak hanya itu, perguruan tinggi yang berada di bawah Yayasan Qurrota A’yun ditujukan sebagai wadah bagi masyarakat Garut pada umumnya, maupun alumni pesantren yang berminat untuk terjun sebagai pendidik.

“Pada dasarnya kita melihat rata-rata lama pendidikan di tahun 2018 (Garut, red) di angka 7,5 tahun. Tapi di RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, red) saya melihat ada targetan terkait harapan lama sekolah di 2024 di angka 13 lebih. Oleh sebab itu kami di Qurrota A’yun mendukung program pemerintah daerah tersebut agar tercapai. Sebelumnya tingkat pendidikan di Qurrota A’yun baru di tingkat SMK, dan sekarang hadir di tingkat pendidikan tinggi. Insya Allah mudah-mudahan diterima dan memberi kontribusi untuk masyarakat Garut, mendukung seluruh program pemerintah Kabupaten dalam bidang pendidikannya. Mudah-mudahan kami hadir sebagai salah satu solusi,” kata KH. Deden kepada Radar Garut.

“Begitu banyak alumni pesantren atau sekolah jurusan apapun mereka kebanyakan ngajar di bidang pendidikan, sedangkan salah satu syarat pemerintah untuk mengajar sertifikasi yang diakui itu Strata Satu (S1, red).  Makanya kami hadir disini dalam bidang perguruan tinggi pendidikan islam anak usia dini, guru ibtidaiyah, dan manajemen pendidikan islam, karena di wilayah kita masih banyak guru-guru yang belum sesuai dengan apa profesinya,” tambahnya.

KH.Deden mengatakan, perguruan tinggi Qurrota A’yun telah memiliki izin operasional dengan no.182/SK/BAN-PT/Min-Akred/XII/2018. STIT Qurrota A’yun juga telah menyiapkan tenaga dosen dengan kualifikasi pendidikan Strata Dua (S2) untuk tiga program studi yang ada.

“Awal dibuka pendaftaran, STIT Qurrota A’yun sudah diminati, ada 64 orang yang sudah mendaftar. Pendaftaran masih dibuka, tahun pertama ini mudah-mudahan bisa mencapai 100 mahasiswa,” katanya.

Terpisah, Wakil Bupati Garut, dr. Helmi Budiman, mengatakan, keberadaan STIT Qurrota A’yun dinilai bisa memberi kontribusi dalam meningkatkan IPM pendidikan di Kabupaten Garut.

“IPM kita dipengaruhi oleh lama rata-rata sekolah dari SD, SMP, SMA/SMK hingga perguruan tinggi, jadi misalkan ada masyarakat Garut hanya sampai sma kemudian diberikan kesempatan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi ini bisa meningkatkan IPM pendidikan. Disamping itu, kita juga tengah mempersiapkan masyarakat Garut yang berkualitas sangkan mampu bersaing di dunia internasional atau global, tidak ada pilihan lain kecuali kita meningkatkan pendidikan, termasuk perguruan tinggi,” katanya.

Lanjut Helmi, selain bisa berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas intelektual, Perguruan Tinggi yang berada di lingkungan pesantren dengan pendidikan agama yang mumpuni diyakini bisa berperan dalam peningkatan kualitas moral.

Helmi melihat, STIT Qurrota A’yun yang berada di wilayah non perkotaan diharapkan bisa memudahkan aksesibilitas masyarakat desa yang ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

“Saya lihat perguruan tinggi ini kan di daerah dekat perkampungan dan di lingkungan pesantren, dengan disini mungkin biaya bisa relatif lebih murah, akses dekat, lulusan pesantren (Qurrota A’yun, red) setiap tahunnya ada 300 orang, diantara mereka yang ingin dekat untuk kuliah tidak susah-susah cari perguruan tinggi yang jauh, bagi mereka yang ingin jadi guru bisa mewujudkan cita-citanya dengan kuliah di wilayah terdekat,” katanya.

Helmi mengingatkan, Perguruan Tinggi harus bisa mewadahi, menjadi batu loncatan, serta menjadikan anak-anak yang berguna bagi bangsa, negara dan agama.

“Qurrota A’yun telah sukses sebagai penyelenggara pendidikan di tingkat SD, SMP, SMA mudah-mudahan juga berhasil pada tingkat perguruan tinggi. Kita menghadapi berbagai macam tantangan global, permasalahan sosial moral. Tentu kita harus bisa menghadapinya, makanya harus dipersiapkan. Perguruan tinggi ini menjadi bagian persiapan, agar anak-anak punya bekal dan mampu bersaing secara global,” pungkasnya. (*)