Siswa Indonesia Tertinggal dalam Penguasaan Mata Pelajaran

11

RadarPriangan.com, JAKARTA – Bank Dunia dalam laporannya menyatakan, bahwa tantangan sektor pendidikan di Indonesia saat ini terletak pada masing-masing siswa yang dinilai masih sedikit tertinggal dalam hal penguasaan mata pelajaran (Mapel).

Spesialis senior dalam bidang pendidikan di Bank Dunia, Noah Yarrow mengatakan, bahwa beberapa siswa bahkan ada yang tertinggal 2-4 tahun di belakang dalam hal penguasaan materi mata pelajaran dibandingkan teman-teman mereka.

“Dalam beberapa mata pelajaran, contohnya matematika, siswa di Indonesia masih sedikit tertinggal,” kata Yarrow di Jakarta, Kamis (19/11).

Menurut Yarrow, ketertinggalan tersebut, kemungkinan dapat disebabkan oleh beberapa fakta yang menunjukkan bahwa hanya 45 persen siswa di madrasah yang memiliki buku teks di hari pertama mereka belajar.

“Selain itu, material atau perlengkapan dalam pembelajaran juga jumlahnya sangat sedikit, begitu juga dengan dana anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan,” ujarnya.

Selain itu, kata Yarrow, laporan Bank Dunia juga menemukan bahwa secara umum para siswa memiliki penilaian yang positif terhadap guru dan proses belajar mengajar yang mereka jalani.

“Hal itu menunjukkan para siswa tampaknya tidak sadar dengan tantangan yang mereka hadapi sehingga mereka terbiasa dan menerima saja semua keterbatasan yang ada,” terangnya.

Untuk itu, laporan tersebut juga menyarankan kepada pemerintah Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran guna meningkatkan kualitas SDM yang diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

“Untuk mencapai penuh, anak-anak Indonesia harus belajar lebih banyak dari tingkatnya sekarang,” ucapnya.

Pendidikan memang menjadi salah satu permasalahan yang belum terselesaikan di Indonesia. Programme for International Student Assessment (PISA) mencatat posisi Indonesia yang berada di posisi randah untuk urusan pendidikan.

Nilai PISA Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 adalah: Membaca (peringkat 72 dari 77 negara), Matematika (Peringkat 72 dari 78 negara) dan Sains (peringkat 70 dari 78 negara).

Untuk menjawab permasalahan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemndikbud) tengah berupaya melakukan perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan di Indonesia, dengan membuat rancangan Asesmen Nasional.

Asesmen Nasional yang rencananya akan mulai diterapkan padda 2021 ini merupakan pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program keseteraan jenjang sekolah dasar dan menengah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makariem mengatakan, bahwa Asesmen Nasional tahun 2021 bakal dilakukan sebagai pemetaan dasar (baseline) dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan, sehingga tidak ada konsekuensi bagi sekolah dan murid.

“Hasil Asesmen Nasional tidak ada konsekuensinya buat sekolah, hanya pemetaan agar tahu kondisi sebenarnya,” kata Nadiem.

Nadiem menambahkan, bahwa AN difokuskan untuk mengukur dengan instrumen yang tepat. Artinya, instrumen tersebut tidak hanya mengukur kognisi, tetapi juga mengukur profil pelajar, dan yang terpenting seperti kemampuan bernalar kritis, dan juga nilai-nilai Pancasila.

“AN merupakan kebijakan Merdeka Belajar. Tujuannya untuk meningkatkan hasil pembelajaran. Pengukuran harus dilakukan dengan instrumen yang tepat dan sesuai standar dunia,” terangnya.

Hal serupa juga dilakukan Kementerian Agama (Kemenag). Pihaknya direncanakan akan melaunching program ‘Gerakan Madrasah Semangat Berhitung’ pada akhir November 2020.

Gerakan Madrasah Semangat Berhitung ini merupakan kerjasama Indonesia-Uni Emirat Arab. Tujuannya, memajukan pendidikan Madrasah, khususnya pada bidang pendidikan matematika.

“Kerjasama enam bulan pertama ini harus kita ambil dan lakukan secara maksimal. Menjadi pemicu bagi siswa madrasah khusus bidang studi matematika,” kata Menag Fachrul Razi.

“Madrasah harus lebih baik. Kita upayakan minimal supaya sejajar dengan sekolah umum. Mari semangat berhitung,” sambungnya.

Dalam program kerjasama Indonesia-Uni Emirat Arab ini, akan dimanfaatkan secara maksimal untuk madrasah, khususnya pada pendidikan matematika. Sebagai langkah awal, semua konten untuk video pembelajaran matematika sudah disiapkan.

“Untuk rekaman, konten kita suda ada. Kita siap running di tahun depan. Kita lakukan secara massif,” kata Dirjen Pendis, Muhammad Ali Ramdhani.

Sementara itu, Direktur KSKK Madrasah Ahmad Umar juga menambahkan, bahwa program-program untuk pengembangan madrasah sudah disiapkan secara baik. Terlebih bantuan-bantuan yang ada dimanfaatkan secara maksimal.

“Kita tetap mengambil program World Bank, untuk program madrasah swasta. Dan untuk program madrasah negeri, kita bantu melalui dana BOS,” pungkas Umar. (der/fin)