Shankly Dixie

486
DI's Way di Victoria St, Liverpool. Bangunan di kanan itu adalah The Shankly Hotel. Sedangkan di kiri The Dixie Dean Hotel.

Oleh :
Dahlan Iskan

Untung saya terusir dari hotel. Tidak bisa lagi tambah satu malam. Padahal acara saya masih belum selesai. Di Kota Liverpool ini.

Semula saya
masgul. Kok harus pindah hotel lagi. Padahal hotel kedua ini sudah pas.
Lokasinya enak banget. Di komplek Liverpool One. Satu kawasan pusat kota yang
ditata sangat menyenangkan.

Hotel
pertama saya juga enak. Di daerah marina Liverpool. Tapi harus jalan kaki 15
menit ke pusat kota. Saya pun pindah ke hotel yang kedua. Di down town.
Dua malam lagi. Saya pikir cukup. Ternyata tidak.

Sebenarnya
saya bisa tambah satu malam lagi. Tapi kamar yang ada hanya suite. Taripnya Rp
10 juta/malam. 

Ya sudah,
pindah hotel lagi. Cari yang di sekitar Liverpool One. Semua penuh.

Akhirnya
saya dapat di pinggirannya. Nama hotelnya belum pernah saya dengar: The Shankly
Hotel.

Begitu masuk
lobi saya terperangah: kok seperti sport bar. Lobi itu penuh hiasan foto
sepak bola: dindingnya, lantainya, langit-langitnya.

Ketika saya
ke toilet, ups, penanda pria-wanitanya juga khas: pria atau wanita yang lagi
nyepak bola.

Lantas saya
ingat wajah yang fotonya bertebaran di situ. Lho itu kan fotonya Bill Shankly.
Ia manajer legendaris Liverpool FC. Zaman dulu. Prestasi J├╝rgen Klopp sekarang
ini masih di sumur dibanding Shankly yang di langit. 

“Apakah
hotel ini milik Bill Shankly?” tanya saya.

“Milik
cucunya. Ia punya sebagian saham di sini,” jawab petugas Hotel
Shankly. 

Sang cucu
mengajak beberapa investor. Untuk mengenang jasa sang kakek.

“Saya
dilahirkan untuk Liverpool. Liverpool dilahirkan untuk saya,” bunyi
tulisan besar di belakang reception itu. Itulah kutipan kalimat Bill
Shankly. 

Di lantai
lobi itu ada lubang yang ditutup kaca terang. Besarnya sekotak sepatunya Saskia
Gotik. Di dalamnya ada lampu yang terus menyala. Terlihatlah di lubang itu
sebuah kunci besar berwarna emas. Dengan penjelasan: inilah kunci asli pintu
gerbang stadion Anfield, Liverpool.

Di lobi
samping terlihat kotak besar. Isinya bola tua –10 buah. Saya buka kotak itu.
Saya ambil satu bola. Tebakan saya: bola ini pasti masih pakai sistem dipompa.
Ternyata benar. Lihatlah foto bola yang saya pegang itu.

Bill Shankly
sebenarnya lahir di Skotlandia. Ia menangani Liverpool ketika tim itu lagi
terdegradasi ke divisi dua.

Baru tahun
kedua di tangannya Liverpool bisa naik lagi ke divisi satu.

Tahun
pertama divisi satu di tangan Shankly, Liverpool hanya di papan tengah. Tahun
kedua urutan lima. Baru tahun ketiga bisa juara. Lalu juara lagi. Dan juara
lagi. Tiga tahun berturut-turut. Lalu juara FA pula. 

Hotel ini
penuh dengan benda peninggalan Bill Shankly. Termasuk sepatunya, bajunya,
kausnya, surat-suratnya dan apa saja.

Di kamar
saya pun penuh nuansa Bill Shankly. Di langit-langit kamar saya tertulis
kesaksian seorang pemain.

Waktu itu
Liverpool away ke Amsterdam. Menghadapi Ajax. Stadion Ajax lagi berkabut tebal.
Shankly sering masuk lapangan –bicara ke pemain. Tidak terlihat oleh wasit.

Liverpool
kalah 5-1.

Itulah zaman
mudanya Johan Cruiff. Jaya-jayanya Ajax.

“Kita
belum kalah,” kata Shankly pada pemain. Shankly selalu pintar membuat
pemain bersemangat. “Di kandang nanti kita akan bisa menang 7-0. Saya pun
percaya ucapannya,” kata pemain itu. 

Ternyata di
kandang Anfield pun Liverpool kalah 3-7.

Kisah itu
tertulis di langit-langit kamar. 

Shankly juga
pandai memainkan trik. Di lapangan maupun luarnya. Kostum Liverpool merah-merah
itu, misalnya. Dulunya merah-putih-putih (kaus merah, celana putih, kaus kaki
putih). Sejak Shankly-lah menjadi merah-merah-merah. Sehingga julukannya pun
tepat: The Reds.

Alasan perubahan itu sederhana: agar pemainnya kelihatan lebih berpostur
tinggi.

Tapi tepat
ia umur 60, Liverpool meraih juara FA Cup. Ia pun menyatakan pensiun. Istrinya
yang meminta. Sudah lebih 10 tahun Shankly dalam hidup penuh stres. Waktunya
istirahat. 

Delapan
tahun kemudian Shankly kena serangan jantung. Ia pun dilarikan ke rumah sakit.
Meninggal. Dalam usia 68 tahun.

Saya
beruntung terusir ke Hotel The Shankly ini. Bisa tahu ada hotel unik di
Liverpool. 

Selesai.

Ups, belum.

Ada yang
menarik lagi. Di seberang hotel ini ada bangunan tua. Setua bangunan yang
diubah menjadi Hotel Shankly ini.

Di bangunan
tua di seberang itu tertulis “Hotel Dixie”.

Lho, Dixie
itu kan nama bintang sepak bola Inggris. Dari klub tetangga berisik Liverpool:
Everton. Dixie-lah legenda Everton. 

Ternyata
nama hotel Dixie itu benar-benar diambil dari nama penyerang tengah Everton.
Inisiatif membangun Hotel Dixie pun cucu Dixie sendiri. Dia berhasil mengajak
beberapa investor untuk mengenang jasa kakeknya itu.

“Hotel
Dixie akan dibuka menjelang hari Natal nanti,” ujar petugas Hotel Shankly.

Saya pun
menyeberang jalan. Mengintip dari jendela kaca. Sedang ada tukang menyelesaikan
interiornya. 

Interior
Hotel Dixie nanti juga serba Dixie. Semua peninggalan Dixie akan dipamerkan di
hotel ini. 

Nuansa hotel
pun akan biru –warna Everton. Dan bar utama di hotel itu diberi nama “No
9”. Itulah kostum Dixie di masa jayanya. 

Nama asli
Dixie adalah William Raphl Dean.

Dixie adalah
nama panggilan waktu kecilnya. Diambil dari judul lagu yang populer saat itu.
Lagu Amerika Serikat bagian selatan. 

Dua prestasi
Dixie belum terkalahkan sampai hari ini. Ia mencetak 60 gol dalam satu musim.
Ia juga melakukan hatrick 37 kali dalam karirnya.

Di awal
karirnya Dixie pernah kecelakaan motor di Wales. Kakinya harus dipasangi pen.

Banyak yang
khawatir Dixie tidak bisa lagi main bola. Ketika dicoba dimainkan untuk pertama
kalinya Dixie mencetak gol –dengan kepalanya. 

Sejak remaja
Dixie sudah berita-cita jadi pemain Everton. Saat pertama dipanggil manajer
Everton, Dixie begitu semangatnya –dari rumahnya berlari 4 km ke stadion
menemui sang manajer.

Hari itu ia
mengkhayal akan dikontrak dengan bayaran 300 poundsterling. Ia akan berikan
uang itu semuanya ke bapaknya. Yang selalu mengajaknya ke stadion di masa
kecilnya. 

Ternyata
kontraknya hanya 30 poundsterling. Tapi tahun berikutnya langsung 3000
poundsterling.

Hari tua
Dixie Dean sakit-sakitan. Kaki kanannya harus diamputasi. Bertahun-tahun ia
harus hanya di rumah.

Dixie Dean
terus mengikuti perkembangan sepak bola lewat surat kabar. Hari itu ia tidak
tahan: ingin ke stadion Everton. Nonton big match: Everton lawan Liverpool.

Di stadion
itu Dixie Dean kena serangan jantung. Dilarikan ke rumah sakit. Meninggal.
Dalam usia 73 tahun. 

Di pinggiran
kota, di satu kawasan, tim Liverpool bersaing dengan tim Everton.

Di tengah
kota, di satu jalan, Hotel Shankly nan Liverpool bersaing dengan Hotel Dixie
nan Everton.(Dahlan
Iskan)