September, SMP di Garut Rencanakan Belajar Tatap Muka

208
Kepala SMPN 1 Garut Aceng Mulyana saat memeriksa kesiapan sarana cuci tangan untuk menunjang protokol kesehatan di sekolah

Editor : Muhamad Erfan

RadarPriangan.com,GARUT – Pemerintah Kabupaten Garut melalui Dinas Pendidikan berencana memberlakukan sekolah tatap muka pada bulan September mendatang. Sekolah yang bisa membuka layanan belajar tatap muka ialah sekolah yang tempatnya berada di zona hijau maupun kuning serta fasilitas sekolah cukup untuk menunjang pemberlakuan protokol kesehatan bagi siswa, guru maupun orang-orang yang berada di lingkungan sekolah.

“Untuk tatap muka di Garut sesuai arahan pak Bupati setelah masuk SMA SMK itu dilanjutkan SMP selama satu bulan (percobaan dam dievaluasi, red), kemudian SD satu bulan selanjutnya, PAUD selanjutnya lagi, jadi bertahap,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Totong kepada wartawan.

Totong
(Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut)

Menurutnya, teknis pengajuan sekolah tatap muka tidak jauh berbeda dengan apa yang diprogramkan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, dimana pemetaan sekolah yang boleh dan tidak melaksanakan belajar tatap muka dilihat dari wilayah per kecamatan, ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah, serta izin orang tua.

Penjadwalan belajar tatap muka dimungkinkan akan dibagi sekitar 50 persen atau 30 persen jumlah siswa per harinya. Sehingga di sekolah tidak terlalu banyak siswa dan bisa melaksanakan social distancing.

“Kita ada kebijakan empat menteri, dari sana ada kurikulum darurat, tentu ini masuknya (jumlah siswa, red) 50 persen. Kami bukan 50 persen tapi bisa juga 30 persen,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Totong.

Misalnya, Kelas 7 dulu tatap muka, besoknya dia belajar daring atau luring di rumah, kemudian saat kelas 7 atau 9 di rumah, kelas 8 masuk, besoknya giliran kelas 9, yang tidak belajar di sekolah belajar di rumah secara daring atau luring sebagaimana dikasih arahan di sekolah,” kata Totong.

Selain daring, metode pembelajaran di SMP juga ada yang sudah menggunakan radio komunitas sekolah, menggunakan TV seperti di SMPN 3 Cilawu dan SMPN 6 Garut.

“Pada prinsipnya sekolah sudah siap (belajar, red) tatap muka, tapi harus dijaga agar tidak muncul klaster baru. Kita pun akan hati hati dan tidak terburu buru,” kata Totong.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Garut Aceng Maulana mengatakan, sekolahnya sudah mempersiapkan segala macam kebutuhan jika pada september mendatang mulai diberlakukan belajar tatap muka untuk sekolah yang memenuhi syarat dan siswanya mendapat izin orang tua.

“Kami berusaha siap-siap sekolah tatap muka. Kalau nanti mulai diberlakukan belajar tatap muka, kita akan perketat pemberlakuan protokol kesehatan,” kata Aceng.

Dalam upaya pencegahan penyebaran virus di sekolah, pihaknya sudah melakukan beberapa upaya diantaranya pembuatan 100 lebih titik tempat cuci tangan di sekolah, termasuk tempat wudhu dan lainnya.

“Kami berupaya dalam Pencegahan buat cuci tangan di depan begitu masuk ada 22 tempat cuci tangan, di belakang toilet putri ada 48 titik, putra sedang membuat termasuk tempat wudu dan wc kurang lebih 40 titik,” katanya.

Menurutnya, rencana pemberlakuan belajar tatap muka berdasarkan keluhan orang tua yang menginginkan anaknya belajar langsung di sekolah secara tatap muka.

“Jadi orang tua dasar pemikiran kami. Walaupun berbagai media pembelajaran sudah diberikan, anak belum belajar maksimal sehingga ingin tatap muka. Kita juga lakukan komunikasi dengan orang tua. Dari 1086, ada 800 orang tua setuju,” tambahnya.

Jika belajar secara tatap muka diberlakukan, maka ada habit yang harus dibentuk ke anak yang baru masuk dari SD ke SMP. Termasuk pemberian pemahaman kaitan protokol kesehatan. (erf)