Sebut Guru Makan Gaji Buta di Facebook, Warga Garut Dipolisikan

480

RadarPriangan.com, GARUT – Insan pendidik dibuat geram oleh pemilik akun facebook Dede Iskandar yang diketahui merupakan warga Kabupaten Garut. Pasalnya, postingan Dede itu dinilai telah menghina profesi guru. Unggahan itu menyebut jika guru menerima gaji buta selama pandemi Covid-19.

Alhasil, semua elemen guru yang tergabung dalam beberapa organisasi meminta klarifikasi dari yang bersangkutan. Kumudian dia pun menemui perwakilan guru di PGRI Kabupaten Garut.

Bahkan secara khusus, Dede yang diketahui berprofesi sebagai seorang sopir itu hadir pada agenda mediasi di Kantor PGRI Garut untuk menyampaikan langsung permintaan maaf dan mengaku khilaf atas perbuatannya tersebut.

Ketua MGMP PJOK Kabupaten Garut, Asep Sopian, merasa tak terima dengan unggahan Dede. Ia menyebut jika unggahan Dede itu tak berdasar.

“Padahal kami ini masih memberi pelajaran secara daring (dalam jaringan, red) ke anak-anak. Kata siapa gaji buta, dia tidak merasakan sulitnya bikin materi daring,” kata Asep ditemui di Gedung PGRI Garut, Jalan Pasundan (28/7/2020).

Para guru, lanjutnya, semakin sakit hati dengan komentar Dede Iskandar di kolom komentar. Bahkan ada komentar Dede yang menyebut lebih baik menjadi penjahat ketimbang sekolah.

Ketua PGRI Garut, Mahdar Suhendar mengungkapkan, para guru merasa terhina dengan unggahan akun Dede Iskandar tersebut. PGRI telah memediasi Dede Iskandar dengan perwakilan guru.

Meski secara pribadi pihaknya memberi maaf, namun para guru menginginkan kasus itu untuk melanjutkan ke ranah hukum sebagai efek jera.

“Dia sudah minta maaf tapi tetap para guru mau diproses hukum,” kata Ketua PGRI Garut, Mahdar usai mediasi antara pelaku postingan penghina guru dengan PGRI.

Dalam postingan tersebut, Dede juga menyebut seharusnya guru tak diberi gaji karena sekolah diliburkan selama pandemi Covid-19

“Nagara ngagajih buta ieu mah hayoh we sakola di liburkeun, kudunamah guru nage ulah di gajih meh karasaeun sarua kalaparan (negara kasih gaji buta, terus saja sekolah diliburkan, harusnya guru juga jangan di gaji supaya ikut merasakan kelaparan, red),” tulis Dede dalam unggahannya.

Akun Dede Iskandar kini sudah tak bisa ditemukan. Namun tangkapan layar status Dede Iskandar sudah menyebar di kalangan guru sejak pekan lalu.

Tak hanya guru dari Garut, namun perwakilan guru dari Tasikmalaya, Ciamis, hingga Bandung juga datang ke Gedung PGRI Garut.

Terpisah, Ketua MKKS SMP Kabupaten Garut, Yusup Satria Gautama, mengungkapkan, peristiwa ini seharusnya tidak terjadi di tengah para guru yang harus berjibaku lebih keras mendidik anak selama pandemi.

“Kita di sekolah bersama para guru terus mengajar anak didik semaksimal mungkin. Dengan upaya daring, menyiapkan bahan ajar yang lebih efektif melalui video dan banyak lagi. Ini demi anak-anak kita bisa terus mendapatkan ilmu. Dengan adanya kasus ini, kita bisa ambil pembelajaran. Misalnya kalau berbicara kebijaksanaan ya kita maafkan, tapi untuk pembelajaran proses hukum harus terus berlanjut. Kita (MKKS, red) apresiasi sekali dengan banyaknya dukungan dari PGRI, MGMP dan pihak lain yang datang ke Garut untuk penyelesaian masalah ini,” pungkas Yusup. (erf/RP)