Sambut Reaktivasi KA, 5 Jam Jalan Kaki Telusuri Jalur Cibatu-Garut

314
Anggota Himpunan Sastrawan Dramawan Garut (Hisdraga) mengadakan kegiatan "Mapay Pijalaneun" Kareta Api (Menelusuri Bakal Jalan Kereta Api) Cibatu-Garut, yang hilang sejak 1988, Sabtu (13/7). (ist)

RadarPriangan.com, GARUT – Sejumlah seniman yang tergabung dalam Himpunan Sastrawan Dramawan Garut (Hisdraga) memiliki cara tersendiri untuk menyambut reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut.

Menjadi bagian dari sosial kontrol dan melihat progres reaktivasi kereta api di Garut, kelompok ini melakukan ‘Mapay Pijalaneun’ atau menelusuri bakal jalan kereta api yang hilang sejak tahun 1988.

Peserta yang terdiri dari anggota Hisdraga dan masyarakat umum menempuh perjalanan kurang lebih dari 20 Kilometer, dengan memakan waktu sekitar 5 jam dari Garut ke Stasiun Cibatu.

Salah seorang penggagas kegiatan, Fachroe mengatakan, jalan kaki menelusuri rel kereta api ini sebagai bentuk dan cara menyambut reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut, serta menyaksikan langsung sampai sejauh mana PT KAI dalam menyelesaikan reaktivasi ini.

“Di dalam perjalanan kami berbincang dengan masyarakat yang dilalui tentang akan dijalankannya kembali kereta apai Cibatu-Garut,” kata Fachroe sesaat setelah sampai di Stasiun Cibatu.

Fachroe menambahkan, respon peserta yang terdiri dari anggota Hisdraga dan masyarakat umum, ternyata bermacam-macam.

“Saat diajak, justru mereka mengungkapkan penuh keheranan. Ada yang setengah bertanya mengapa jalan kaki, naha (mengapa, red) gak pake kendaraan?,” ujar Fachroe.

Ia berharap, dengan diselenggarakannya kegiatan ini, aktivasi Kereta Api Garut-Cibatu segera terlaksana dan berjalan lancar, sehingga nantinya menjadi transportasi alternatif masyarakat menuju Garut, bahkan mempermudah pengunjung berwisata ke Garut.

Meski tanpa hadiah, ia berharap kegiatan ini menjadi semacam ekspedisi perjalanan untuk memperdalam spirit kebersamaan dalam membangun Garut yang berbudaya.

“Kesan yang kami rasakan, bahwa reaktivasi sungguh pekerjaan yang membutuhkan semangat kebersamaan, ternyata tidak begitu saja infrastruktur itu hadir. Dari obrolan dengan masyarakat yang ditemui di perjalanan, mereka berharap transportasi kereta ini segera dan dapat cepat bermanfaat. Mereka pun masih terkenang dengan si kuik dan si gombar-nya,” katanya.

Sementara itu, sejumlah warga yang rumahnya dibongkar mengaku pasrah dan mendukung reaktivasi ini.

“Ya sadar bahwa rumah saya dibangun di atas tanah milik PT KAI. Untung masih dikasih uang pengganti juga,” kata Undang, 55, warga Kampung Gg. Iklas Kelurahan Suci. (erf)