Salurkan Santunan, Jasa Raharja Datangi Langsung Rumah Korban Kecelakaan

232
SANTUNAN: Jasa Raharja Garut saat menyerahkan santunan kepada ahli waris korban kecelakaan yang terjadi di Tanjakan Kopi, Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora. FOTO: IQBAL GOJALI/RADAR GARUT

Ahli Waris Tuna Wicara, Verifikasi Dibantu Pendamping

RADARPRIANGAN.COM, GARUT – Mereka yang terlibat kecelakaan lalulintas, biasanya akan berurusan dengan Jasa Raharja, baik secara langsung mendatangi kantornya atau dibantu pihak kepolisian. Selain itu juga petugas dari Jasar Rahajra tidak jarang melakukan kunjungan langsung ke rumah keluarga korban.

Icih, 56, adalah ahli waris dari seorang korban kecelakaan tabrak lari di ruas jalan raya Cijapati-Kadungora, tepatnya di kawasan Tanjakan Kopi, Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora.

Mansur, suami Icih yang saat itu mengendarai sepeda motor, ditabrak dari belakang oleh mobil bak terbuka di jalan menurun curam hingga mengalami luka pendarahan di bagian kepala dan meninggal di RSUD dr Slamet Garut setelah beberapa jam menjalani perawatan.

Pengalaman mendatangi keluarga korban kecelakaan lalulintas, bukan kali pertama bagi Imam. Namun, kali ini ada pengalaman berbeda, ahli waris dari korban yaitu istrinya ternyata tuna wicara. Makanya, perlu pendamping saat dirinya melakukan verifikasi.

“Baru kali ini saya ketemu ahli waris yang tuna wicara,” kata Imam Cahyono, penanggungjawab Kantor Pelayanan Jasa Raharja Tingkat II Kabupaten Garut, Kamis (14/3) siang saat mendatangi rumah Icih  di Kampung Kiaragoong Desa Mandalasari Kecamatan Kadungora.

Icih diketahui memang mengalami tuna wicara. Namun tetap saja Imam harus melakukan komunikasi dengan Icih meski dirinya tidak pernah berhadapan sebelumnya.

“Kan kita tanyai dulu hubungannya sama korban seperti apa, kemudian kita cocokan dengan berkasnya, memang tadi sempat sulit, tapi ada pihak keluarga yang mendampingi, jadi komunikasi bisa nyambung lah,” jelasnya.

Dari sekian banyak keluarga korban kecelakaan yang di verifikasinya, menurut Imam kondisinya memang berbeda-beda. Namun, yang paling unik adalah saat dirinya mengunjungi Icih.

“Saya melihat Icih begitu antusias menerima saya yang didampingi anggota Unit Lakalantas Polres Garut, Bripka Rukma. Namun antusias Icih untuk bercerita terganjal oleh cacat yang dialaminya,” katanya.

“Saya lihat dia berusaha membantu kita dengan menceritakan apa yang menimpa suaminya, ini hebat, saya sangat menghargai semangatnya,” ungkapnya.

Imam mengungkapkan, untuk menanyakan satu pertanyaan saja selain bicara dirinya juga harus memperagakan apa yang ditanyakan lewat bahasa tubuh. Padahal, banyak hal yang perlu diverifikasi dari Icih. Hal inilah yang membuat dirinya merasa tertantang.

“Untungnya ada orangtua dan keluarga Icih yang mendampinginya membantu berkomunikasi dengan Icih.  Dan dari awal kita sudah dapat informasi soal ahli waris yang akan kita temui, makanya saya minta ada pendampingnya,” ucapnya.

Setelah setengah jam Imam menanyai Icih, suasana pun begitu cair karena Imam sudah mengetahui sejak awal kondisi Icih. Pertanyaan pun dibuat singkat dan ringan agar tak perlu jawaban panjang, dengan begitu Icih bisa menjawab dengan mudah meski apa yang disampaikannya harus diperhatikan betul dengan seksama oleh Imam.

“Untuk menyalurkan santunan bagi korban kecelakaan memang Imam ada proses yang perlu dilalui. Jasa Raharja sudah berusaha membuat prosedur yang simpel untuk pihak keluarga korban melakukan klaim. Yang paling penting adalah adalah LP (laporan) soal kasus kecelakaannya dari aparat kepolisian, nanti kita akan verifikasi laporannya, kemudian keluarga korban melengkapi berkas-berkas persyaratannya setelah itu bisa langsung cair,” ungkapnya.

Proses verifikasi ini, menurutnya juga harus dilengkapi dengan kunjungan lapangan, seperti yang terjadi pada kasus ahli waris Icih ini misalnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan santunan diberikan pada ahli waris yang tepat, dan korban memang meninggal karena tabrak lari.

“Makanya, kita juga temui saksi-saksi yang melihat kejadian, kemudian kita cek juga tempat kejadian perkaranya, polisi pun sama seperti itu, ada olah TKP sebagai kelengkapan LP untuk ke kita (Jasa Raharja),” katanya.

Jika berkas persyaratan lengkap dan hasil verifikasi di lapangan sudah dinyatakan sesuai, maka menurut Imam, pihaknya bisa langsung mencairkan santunan sebesar Rp 50 juta untuk korban kecelakaan lalulintas yang meninggal dunia.

“Asuransi ini merupakan bentuk tanggungjawab pemerintah kepada para korban kecelakaan lalulintas. Santunan yang diberikan merupakan bukti dari hadirnya pemerintah untuk keluarga korban kecelakaan. Meski tidak seberapa, ini santunan dari pemerintah untuk keluarga,” katanya.

Lina (65) orangtua dari Icih mengakui, ahli waris korban yaitu Icih memang memiliki kekurangan fisik berupa tuna wicara. Makanya, dirinya bersama anak Icih yang telah dewasa berusaha membantu komunikasi Icih dengan petugas yang datang ke rumahnya.

“Ya memang petugasnya minta didampingi biar gampang ngobrolnya, Alhamdulillah bisa lancar,” katanya.

Icih sendiri, terlihat sumringah menerima kehadiran Imam yang didampingi Bripka Rukma anggota Unit Lakalantas Satlantas Polres Garut. Meski sedikit malu-malu dan sulit berbicara, Icih selalu berusaha menjawab apa yang ditanyakan oleh Imam sebagai perwakilan Jasa Raharja dan Bripka Rukma dari Satlantas Polres Garut.

Icih pun dengan bangga memperlihatkan foto dirinya bersama Almarhum suaminya saat pernikahan anak pertamanya. Foto yang tertempel di dinding ruang tengah rumahnya pun, sengaja diturunkan dan dipegangnya. (Iqbal Gojali)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here