Potret Pemberdayaan Keluarga Difabel Terintegrasi

372

RADARPRIANGAN.COM, GARUT – Ma Unih adalah seorang wonderwoman, tokoh fiksi yang justru mewujud dalam dunia nyata di sosoknya tersebut. Hidup tanpa keberadaan suami, dengan total anaknya yang berjumlah lima orang.

Satu orang anaknya Ma Unih meninggal dunia karena gizi buruk dan sakit panas. Adapun AH (29) dan IN (19) tidak bisa berjalan dan berbuat apa-apa. Khusus untuk AH jikalau hanya sekedar mau ke air, maka Ma Unih lah yang akan selalu membopongnya dengan cara menaikkannya ke atas karung plastik untuk kemudian diseretnya secara digusur paksa.

Aktivitas ini sangatlah dramatis tentunya. Bak dalam sebuah sinetron, namun inilah satu-satunya cara yang bisa dilakukan. “Pun anak anu lalaki teh teu tiasa diakod. Jalaran pananganna merengkel, sahingga lamun diakod sok nyekek margi teu tiasa nyepengan. Nya digusur ku karung weh”, pekik Ma Unih sambil menirukan gerakan membopongnya.

Adapun EN (37) yang pernah berumah tangga, kemudian bercerai ditengarai mengalami gangguan mental dan kinipun menjadi tanggungan Ma Unih. Hanya ada satu anak perempuan Ma Unih bernama IL (15) yang berkondisi normal yang kini sedang belajar di kelas 9 SMP.

Perempuan tua ini begitu sakti dan tidak pernah mengeluh. Tepat tanggal 17 Maret tahun ini, genap memasuki usia yang ke 64 tahun. Di usianya yang tua ini ia tinggal kampung Citorondol Desa Sarimukti Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut.

Ia tetap setia mengurus anak-anaknya yang difabel dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Kini ia menempati petak rumah berbilik yang semakin menyempit, sisa dari separo tanahnya yang konon dahulu harus rela dijual untuk membiayai upacara kematian suaminya.

Pertemuan keluarga Ma Unih dengan dunia pemberdayaan, bermula dari program AssessmentDesa Caang. Keluarga ini terdata sebagai keluarga tidak mampu yang layak mendapat instalasi listrik gratis.

Program Desa Caang adalah program yang digagas oleh Star Energy Geothermal Darajat II, Ltd. dan The Creative Institute.

Program ini mencoba mengintegrasikan multibidang pemberdayaan yang meliputi: Caang Listrikna (kemandirian energi), Caang Pesakna (ekonomi), Caang Otakna (pendidikan),Caang Alamna (lingkungan), Caang Warugana (kesehatan), dan Caang Hatena(revitalisasi budaya). Gagasan ini diambil mengingat persoalan kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi, namun berjejaring dengan bidang persoalan lainnya.

Begitupun persoalan Ma Unih yang merupakan Kelompok Binaan Khusus Difabel Desa Caang, mencoba diadvokasi dari semua sudut persoalan yang menderanya. Pemberdayaan kelompok ini melalui pendekatan pemenuhan hak dasar.

Guna menuju ketahanan pangan terintegrasi, maka dibangunkanlah kandang ayam dan program Buruan Hejo di halaman. Begitupun akses dan MCK ramah disabilitas. Untuk menopang sisi ekonominya, dibangun café yang bernama: “BACA”, alias Baso Si Caang.

Kedai baso ini mengambil konsep dan berbasis literasi. Pengambilan jenis usaha baso ini dengan memerhatikan risalah Ma Unih yang konon dahulunya pernah berjualan usaha tersebut. Kini, berkat usaha BACA ini kehidupan Ma Unih terbantu secara ekonomi.

Di tahun ketiga Program Desa Caang ini, menurut Direktur The Creative Institute, Heri Mohamad mengungkapkan telah menerangi 500 Kepala Keluarga dengan pemberdayaan ekonomi di 51 kelompok, serta penerapan model MASAGI (Maca Sakali Ngarti) pada 463 siswa.

Program Caang Alamna berupa penanaman pohon sebanyak 3.451 untuk program Ngajaga Gawir, Preman dan Dai Tangkal. Sedangkan pemberdayaan khusus untuk difabel telah dilakukan kepada 5 kelompok khusus.

Jika ditilik, potret keluarga Ma Unih memiliki pembelajaran bagi kita semuanya betapa hidup memang komplek. Ma Unih tidak pernah berdoa kepada Tuhannya agar dikurangi beban persoalan hidupnya.

Namun, ia selalu berdoa agar dikuatkan pundak dalam mengarungi cobaan hidupnya. “Abdi mah mung ngadoa, moga Allah nguatkeun ka diri abdi tina pasualan hirup”, pungkasnya. Hal ini terlihat dari semangatnya yang kuat dalam bekerja untuk membiayai anak-anak difabelnya seorang diri. (Iqbal Gojali)