Pola Penjemputan Pasien Korona di Garut, Agar Tidak Stres

47

RadarPriangan.com, GARUT – Dinas Kesehatan Kabupaten Garut seiring berjalannya waktu terus berupaya mengubah pola penjemputan terhadap warga yang terpapar virus korona. Sebab masalah penjemputan juga ternyata sangat berpengaruh terhadap psikologis pasien.

Tak jarang pasien merasa stres ketika dijemput oleh tim medis karena takut diasingkan oleh tetangga sekitar. Karena itu, pola penjemputan ini harus benar-benar diperhatikan agar si pasien juga tidak merasa menjadi dikucilkan.

Ada juga masalah yang timbul karena masalah waktu penjemputan. Ada pasien positif yang dijemput ambulans tengah malam. Rupanya pola seperti ini menimbulkan pro kontra di sebagian masyarakat. Memang ada juga yang menerima karena merasa tidak ketahuan. Tapi ada juga yang tidak menerima karena mereka merasa seperti orang yang melangar hukum dijemput tengah malam seperti itu.

dr Asep Surahman, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Garut menyebut, berangkat dari masalah tersebut, kemudian Dinas Kesehatan menyediakan beberapa alternatif penjemputan.

Bupati Garut pun menurutnya sangat mewanti-wanti bahwa dalam hal penjemputan ini diusahakan harus menggunakan pola yang humanis. Pola penjemputan itu harus memanusiakan manusia.

“Artinya apa yang kita lakukan sesuai protokol kesehatan. Adapun pengaturan jadwal yang terjadi di Kabupaten Garut kemairn kan ada yang dijemput malam. Ternyata di masyarakat menimbulkan pro dan kontra. Ada juga yang mungkin tidak menerima. Artinya mereka tidak mau malam karena saya bukan pelanggaran hukum,” ujar Asep dalam Talk Show yang digelar Radar Garut dengan tema Peran Elemen Masyarakat dalam Penanggulangan Pandemi Covid-19, belum lama ini.

Lebih lanjut Asep menjelaskan, ada beberapa alternatif pola penjemputan pasien terpapar virus korona.

Yang pertama adalah dijemput dengan mobil ambulans ke rumah. Kedua si pasien yang ditawarkan berangkat sendiri ke puskesmas lalu dijemput di puskesmas tapi dengan catatan menggunakan masker yang baik. Ketiga pasien dipersilahkan datang sendiri ke rumah sakit lalu ditunggu di gerbang rumah sakit. dan Keempat penjemputan tidak menggunakan mobil ambulans, tapi menggunakan mobil biasa yang didesain seperti ambulans.

“Jadi sekarang ini kita berpikir ketika masyarakat kita jemput merasa senang bahwa mereka bukan seperti orang sakit, tapi mereka mau disembuhkan mau dipulihkan kesehatannya,” ujarnya. (RP)