Pemuda Asal Garut ini Bercita-cita Jadi Presiden, Ingin Merubah Indonesia Melalui Pendidikan

1029

Penulis : Mia Helmiyani |Editor : Feri Citra Burama

RadarPriangan.com, GARUT – Purwa Burhanudin, seorang pemuda berusia 21 tahun asal Kampung Padasuka, Desa Situsaeur, Kecamatan Karangpwitan, Kabupaten Garut sangat mencintai pendidikan.

Purwa adalah seorang pemuda dengan segudang prestasi dan cerita inspiratifnya.

Perjuangan Purwa untuk menjadi pemuda berprestasi tidaklah mudah. Banyak sekali tantangan dan pengorbanan, jatuh bangun untuk senantiasa kuat demi keluarganya.

Purwa bercita-cita ingin menjadi seorang Presiden. Ia mengatakan, jika ia menjadi Presiden kelak ia ingin mengubah Indonesia menjadi lebih baik lagi. Melalui pendidikan, harapannya dirinya bisa lebih banyak berkontribusi untuk masyarakat Indonesia.

Purwa adalah siswa lulusan dari MI Al Irsyad, MTs Al Irsyad, dan MAN 1 Garut. Saat ini ia sedang menjalankan jenjang S1 jurusan PPKN semester 4 di Institut Pendidikan Indoensia (IPI) Garut.

Purwa lahir di keluarga yang sangat sederhana dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Purwa adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Kedua orang tuanya sudah lama tidak bekerja. Ayahnya berusia 74 tahun lulusan SD dan ibunya berusia 62 tahun tidak tamat SD.

Purwa sangat bersyukur dibesarkan dengan didikan dari keluarganya.
Ibunya mendidik Purwa untuk selalu bersikap sopan santun dan selalu menghargai orang lain. Selain itu, ibunya mengajarkan untuk senantiasa menolong orang lain yang membutuhkan.

Berbeda dengan ayahnya, didikannya adalah selalu berusaha menjadi orang yang disiplin. Meskipun ayahnya hanya lulusan SD, sifat menyukai kompetisi dan giat belajar dari ayahnya menurun kepada dirinya.

Purwa mengakui bahwa dirinya sekarang adalah didikan terbaik dari kedua orang tuanya. Dengan didikan mereka, Purwa menjadi pribadi yang mudah untuk menyayangi orang lain dan selalu ingin membalas lebih bagi siapapun yang telah menolongnya.

Sejak memasuki jenjang SMP, Purwa sudah belajar untuk mandiri. Sifatnya yang selalu yakin bahwa keinginan dan cita-citanya harus tercapai, setiap to do list dalam hidupnya harus ia realisasikan.

Perjuangan untuk mencapainya pun sangat luar biasa. Ia sangat mengerti kesusahan yang dialami kedua orang tuanya dalam menyekolahkannya.

Maka dengan usahanya dan dukungan dari semua kakaknya, guru-guru, serta teman-temanya lah hingga saat ini ia bisa kuliah dan mencapai semua impian yang sudah lama ia nanti-nantikan.

Ya, jika tanpa beasiswa atau menabung ia tak akan pernah bisa kuliah. Dulu saat lulus SMA, ia terpaksa mengubur keinginannya untuk kuliah dengan bekerja selama lebih dari satu tahun, di mana uangnya ia tabung untuk kuliah.

Ia juga sangat berhutang budi kepada gurunya yang telah mendaftarkannya di IPI Garut. Ia yakin bahwa Tuhan menolongnya dari tangan yang tak ia sangka, ia yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan do’anya untuk sekolah lebih tinggi lagi.

Meskipun sudah lulus di IPI Garut, tantangannya belum selesai. Jika saat semester 1 ia memiliki uang tabungan untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), tidak demikian dengan semester 2. Di semester 2 ia rela menjual laptop kesayangannya demi menutupi uang kuliahnya. Karena ia paham penghasilan dari kakak-kakaknya saat itu hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya.

Tak sampai di situ, ia memikirkan dari mana mendapatkan uang kuliah untuk semester 3. Tepat saat ia membutuhkan, ada dua beasiswa yang bisa ia ikuti di kampus.

Akhirnya ia mendapatkannya dan bisa menutupi UKT hingga semester 4.
Terdapat niat tulus berdasar cinta untuk keluarganya mengapa ia sangat ingin sekolah tinggi. Ia sangat ingin membanggakan kedua orang tuanya dan mengangkat derajat mereka.

Entah sudah berapa banyak ia dan keluarganya mendapat cibiran masyarakat bahwa dirinya tidak mungkin mengemban pendidikan tinggi karena terkendala biaya.
Banyak yang meragukannya untuk mencapai cita-cita tinggi.

Mereka yang meragukan berkata bahwa jika keluarga tidak mampu jangan berharap memiliki cita-cita yang tinggi.

Cibiran-cibiran itu sangat mengganggu mental dan keyakinannya. Saat itu, Purwa memutuskan untuk berjuang keras dan mematahkan cibiran-cibiran itu dengan prestasi, salah satunya dengan pendidikan. Ia ingin membuktikan kepada mereka yang meragukan potensinya bahwa ternyata ia bisa mencapai pendidikan tinggi meskipun dari keluarga yang tidak mampu.

Hingga pada akhirnya ia bisa membuktikan bahwa ia bisa kuliah dan menjadi salah satu pemuda dari dua orang yang saat ini berhasil kuliah di kampungnya.

Ia selalu ingat pesan ibunya untuk selalu berlaku jujur dan ia sedang mengemban sebuah keyakinan serta amanah dari seorang ibu untuk menjadi orang sukses dengan mengambil sisi positif dari penilaian buruk orang lain.

Sejak dirinya masih di MI, ia memang sudah senang mengikuti kompetisi. Berlanjut hingga saat kuliah, berbagai penghargaan berhasil ia raih juga. Diantaranya, Juara Terbaik I Duta IPI 2019, Juara Terbaik II Duta Genre Kabupaten Garut 2019, Juara II Duta Pendidikan Jawa Barat 2020, Ajudan Millenials Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2020, dan masih banyak lagi.

Hingga pada akhirnya ia berhasil mencapai impiannya untuk pergi ke luar negeri sebagai Koordinator Umum dan Delegasi Pemuda Indonesia dalam Program SSN#4 di Singapura, Malaysia, dan Thailand pada 2019.

Purwa bercerita bahwa dirinya tak menyangka bisa lolos dan terpilih dalam delegasi tersebut. Ia mengakui bahwa CV dan motivation letter yang ia lampirkan tak sebagus peserta yang lain. Namun, siapa sangka justru motivation letter dirinya mendapat apresiasi dari juri.

Lebih dari sebuah keberuntungan, ia meyakini bahwa ada peran Tuhan sehingga menjadikannya layak untuk mendapatkan kesempatan ini.

Selama dua minggu berada di negeri orang, Purwa mendapatkan banyak ilmu, pengalaman, relasi, dan terpenting ia tetap bangga menjadi anak bangsa Indonesia. Ia berusaha agar kesempatan ini tak ia gunakan dengan sia-sia.

Ia belajar dari banyaknya masalah yang terjadi di negeri lain yang harus dibenahi dari mulai pendidikan, ekonomi, dan politik. Ia juga belajar untuk menerapkan beberapa poin yang tercantum dalam SDGs.

Dalam perjuangannya hingga sampai ke luar negeri, tak jarang juga dirinya mendapati berbagai kendala. Baginya, kendala yang paling krusial adalah biaya. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena dirinya memang memerlukan itu. Jika bukan karena banyaknya relasi, ia tak mungkin mendapat banyak bantuan. Kendala krusial kedua adalah perizinan dari semua pihak, khususnya kampus.

Untuk menjadi seseorang yang percaya diri dalam berkompetisi, menurut Purwa ada beberapa hal penting, diantaranya pahami diri sendiri, pantaskan diri, senantiasa menghargai diri sendiri dan orang lain, tentukan niat, benefit apa yang bisa didapat baik materil maupun non materil, harus aktif dan jangan anti sosial, belajar komunikasi dengan baik, dan jangan lupakan jati diri. Purwa menegaskan bahwa semua berawal dari diri sendiri.

Purwa mengatakan bahwa dirinya selalu menganggap positif atas setiap masalah yang menimpanya. Ada saat dimana dirinya benar-benar terpuruk, yaitu jika keluarganya tersakiti atau berkeluh tentang sesuatu.

Keluarga adalah segalanya bagi Purwa, ia tak memusingkan masalah-masalah luar yang menimpa, namun jika sudah menyangkut keluarganya, ia tak akan tenang sampai masalah keluarganya itu terselesaikan.

Namun, masalah keluarga justru menjadi motivasi terbesar bagi Purwa untuk bangkit kembali dan berjuang lebih keras lagi.

Dorongan dari teman-teman sejawatnya pun menjadi energi yang membuat ia tak berputus asa lagi.

Setiap anak muda terkadang kebingungan mencari passion dalam hidupnya. Begitupun dengan Purwa, pendidikan yang membuat ia meraba hampir semua pelajaran dan mencoba untuk bersaing menjadikan ia harus memilih kemana arah geraknya dan fokus utamanya.

Berbicara tentang tujuan utama dalam menemukan passion, dari temannya Purwa membagikan kata mutiara bahwa “My vision is My Passion”. Purwa mengatakan bahwa seseorang bisa menemukan passion ketika dalam menggeluti sesuatu rela mengorbankan waktu, pikiran, dan yang lainnya, serta dengan menggeluti hal itu dapat menghasilkan sesuatu. Maka, itulah passion.

Purwa berpesan kepada para pemuda yang hanya menikmati rebahan untuk segera bangun dan beri perubahan untuk Indonesia. Meskipun kondisi pandemi mengharuskan bekerja dan belajar di rumah saja, jadikan waktu produktif, coba renungkan apakah kita hanya ingin menjadi penonton saja ataukah menjadi pemain ?.
Apakah jika ada kebijakan yang menyimpang kita hanya menonton saja ?.

Perjuangan Purwa ke depan masih panjang. Apa yang dirinya hasilkan saat ini belum cukup untuk membalas jasa kedua orang tuanya. Purwa sangat berterima kasih kepada semua orang yang telah membuatnya kuat dan meminta maaf jika dirinya masih belum menjadi orang yang diharapkan. Purwa berharap dirinya dapat lebih banyak berkontribusi untuk Indonesia di masa depan.(Mia Helmiyani)