Pembangunan RPH di Limbangan Dinilai Kurang Tepat

132
Ceceng Ali Nurdin


GARUT – Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kabupaten Garut menilai rencana pembangunan Rumah Potong Hewan (RPH) oleh Pemerintah Kabupaten Garut di Kecamatan Limbangan dinilai tidak tepat. Demikian diungkapkan salah seorang pedagang sekaligus Bendahara APPSI Kabupaten Garut, Ceceng Ali Nurdin, saat dihubungi Radar Garut melalui aplikasi pesan, kemarin (2/1).

Alasannya kata Ceceng, jika RPH tetap dibangun disana, tempat tersebut berada di lokasi yang kurang representatif untuk mengakomodir lebih banyak pedagang daging di Kabupaten Garut, terutama yang beraktivitas di wilayah perkotaan maupun Garut Selatan.

ā€¯Pembangunan RPH di Limbangan itu kurang tepat, sangat jauh dijangkau oleh pedagang seperti yang ada di pasar Samarang, Leles, Wanaraja, Kadungora apalagi yang ada di Cikajang. Nantinya, yang kesana hanya sebagian kecil saja yang ada di Limbangan, sedangkan yang lainnya tidak karena bebannya terlalu berat, tidak efektif dan efisien, biaya akomodasi akan semakin mahal, waktu tempuh juga memakan waktu, beda kalau di wilayah pertengahan, misalnya wilayah copong yang saya dengar Pemda punya aset disana dan mudah diakses lebih banyak pihak,” katanya.

Ceceng menjelaskan, sedikitnya potensi peminat untuk datang ke RPH Limbangan akan berdampak pada sedikit target pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Garut.

Pihaknya mengingatkan, pembangunan RPH jangan sampai hanya menjadi monumen saja layaknya gedung PKL satu dan dua. Ia berharap, pembangunan RPH bisa membantu pedagang yang ada di Kabupaten Garut.

“Kalau yang di pasar Ciawitali itu sudah kurang layak, disana sudah padat untuk dipakai tempat pemotongan hewan. Makanya perlu dibangun di kawasan perkotaan yang lebih representatif. Kalau dibandingkan dengan di perkotaan potensinya berkali-kali lipat, ketimbang disana,” tambahnya.

Pemerintah harus bisa membantu pedagang, terutama yang berskala kecil menengah. “Tidak hanya itu, saya kira pembatasan peredaran daging (sapi, red) beku impor harus dilakukan. Karena sekarang daging impor itu lebih mendominasi ketimbang lokal, itu menggerus pasaran para peternak lokal juga,” pungkasnya. (erf)