Pemantauan Aktivitas Papandayan Sulit Dilakukan karena Seismograf Hilang, Bikin Khawatir Warga Sekitar

351

RADARPRIANGAN.COM, GARUT – Hilangnya tiga unit seismograf dan sejumlah perangkat lainnya yang berfungsi mencatat dan mengukur aktivitas kegempaan di Gunung Papandayan membuat prihatin masyarakat Kabupaten Garutr.

Pasalnya, tidak adanya alat tersebut membuat petugas tidak bisa memantau kondisi gunung merapi saat ini. Hal tersebut memberi rasa khawatir bagi masyarakat sekitar Gunung Papandayan.

“Berdasarkan berita katanya hilang alat pemantau gempa di gunung papandayan, ini tentu mengkhawatirkan kami masyarakat sekitar. Kita tidak tahu kondisi gunung. Syukur saja kalau baik-baik, tapi giliran ada gejala atau aktivitas gunung merapi kita jadi gak tahu,” kata Uzi Aman, 27, salah seorang warga di Kecamatan Cikajang.

Kekhawatiran juga dirasakan Irwan, 38, warga lainnya di Kecamatan Cikajang. Menurutnya, tidak adanya alat pemantau gempa merupakan masalah serius yang harus segera diatasi. Jika tidak, hal itu bisa merugikan banyak pihak.

“Gunung Papandayan kan tempat wisata, banyak orang yang datang. Kalau tiba-tiba gunung reaksi, misalnya ada semburan atau semacamnya, tiba-tiba gempa juga, banyak warga disana yang berpotensi menjadi korban. Makanya pihak terkait harus cari solusi segera,” kata Irwan.

Sebelumnya diberitakan, tiga dari empat empat unit seismograf dicuri pihak yang bertanggung jawab. Oleh karenanya, petugas pos Gunung Papandayan harus melakukan pemantauan dengan mengandalkan satu unit seismograf yang tersisa dan pemantauan langsung secara kasat masa saja.

Petugas pos pantau Gunung Papandayan, Momon menyebut bahwa hilangnya seismograf tersebut sebetulnya terjadi sejak 2016, tepatnya saat Gunung Papandayan dikelola oleh pihak swasta, PT AIL (Alam Indah Lestari). Yang terakhir, perangkat tersebut hilang di awal 2019.

Ia mengaku heran dengan hilangnya alat tersebut karena berdasarkan pengakuan PT AIL mereka melakukan pengawasan selama 24 jam penuh oleh puluhan petugas keamanan.

“Seharusnya kalau diawasi 24 jam penuh ketahuan. Dulu pas masih dikelola BKSDA tidak pernah ada alat kita yang hilang,” katanya.

Kerugian akibat hilangnya alat deteksi sendiri, diungkapkan Momon mencapai ratusan juta rupiah. Hal ini dikarenakan yang diambil belasan solar cell, accu, power, sensor lapangan, hingga transmiter.

“Jadi ada tiga stasiun yang hilang yang berada di Walirang, Nangklak, dan Tegal Panjang. Sekarang tinggal satu stasiun aja, jadi kurang maksimal pemantauannya,” katanya.

Momon mengaku bahwa pihaknya sudah melaporkan hilangnya alat tersebut kepada pihak kepolisian. Namun hingga saat ini belum terungkap siapa yang mencuri alat-alat tersebut.

Gunung Papandayan sendiri merupakan salah satu gunung berapi di Kabupaten Garut. Terakhir, Gunung Papandayan meletus di tahun 2002, dimulai pada tanggal 11 November terjadi peningkatan aktivitas vulkanis.

Erupsi yang besar terjadi di 13-20 November dan aktivitas menurun hingga 21 Desember.

Akibat dari erupsi ini terjadi longsoran pada dinding kawah Nangklak dan banjir disepanjang aliran sungai Cibeureum gede hingga ke sungai Cimanuk sejauh 7 km, merendam beberapa unit rumah dan menyebabkan erosi besar sepanjang alirannya. (erf/igo)