Pegiat Lingkungan, Status Gunung Cikuray Harus Ditingkatkan

675
Manajer program pemulihan lingkungan hidup Yayasan Tangtudibuana, Usep Ebit Mulyana sampaikan pemaparan dalam FGD yang dilaksanakan di Kedai Kopituin, Jalan Patriot, Sukagalih Kecamatan Tarogong Kidul, Kamis (13/2/2020). (Foto : Istimewa)


Demi Menjaga Kelesatarian Alam dan Situs Budaya di Gunung Cikuray

Radarpriangan.com, GARUT – Tingginya perambahan hutan di kawasan Gunung Cikuray harus disikapi serius. Pasalnya, kian hari gunung tertinggi di Kabupaten Garut itu kondisinya semakin rusak. Untuk itu, pegiat lingkungan mendorong agar pemerintah pusat hingga daerah melakukan upaya pelindungan kelestarian alam dengan meningkatkan status fungsi kawasan Gunung Cikuray Garut. Usulan tersebut mengemuka dalam Focus Grup Discussion yang digelar oleh Yayasan Tangtudibuana, Kamis (13/02/2020) di Kedai Kopituin, Jalan Patriot, Sukagalih Kecamatan Tarogong Kidul.

Manajer program pemulihan lingkungan hidup Yayasan Tangtudibuana, Usep Ebit Mulyana, mengungkapkan, masalah kerusakan lingkungan jadi sorotan dan tidak bisa dipungkiri oleh pemerintah dan pemangku kawasan.

“Karenanya, salahsatu yang dirumuskan adalah mendorong pemerintah untuk meningkatkan status kawasan Gunung Cikuray,” kata Ebit dalam FGD yang dihadiri oleh berbagai kalangan dari mulai pemerintah daerah, Perhutani, BKSDA, akademisi dan pegiat lingkungan di Kabupaten Garut.

Lanjut Ebit, peningkatan status kawasan Gunung Cikuray menjadi sangat penting dalam rangka memulihkan kelesatarian alam sekitar. Pasalnya, dalam diskusi ini, sejumlah tokoh masyarakat dari kecamatan-kecamatan yang ada di kaki Gunung Cikuray, mulai merasakan dampak dari kerusakan kawasan disana.

“Kita mendorong kawasan Gunung Cikuray menjadi kawasan yang memiliki fungsi konservasi, seperti kawasan Cagar Alam (CA) misalnya,” kata Ebit.

Sementara itu, Pegiat lingkungan dari Kecamatan Bayongbong yang ada di kaki Gunung Cikuray, Imam, mengatakan, perusakan hutan di kawasan Gunung Cikuray semakin meluas hingga ke bagian atas gunung.

Parahnya kerusakan kawasan Gunung Cikuray lebih terlihat ketika mendaki ke pos pendakian Cigedug, jarak kebun masyarakat dengan puncak hanya sekitar 4 kilometer saja.

Lanjut Imam, selain peningkatan status kawasan, upaya perlindungan terhadap situs-situs budaya yang ada di sekitar Gunung Cikuray juga perlu dilakukan pemerintah, secepatnya.

Pasalnya kata Imam, dampak kerusakan lingkungan di Gunung Cikuray juga telah merusak dan mengancam keberadaan situs budaya yang ada di sana.

“Soal keberadaan binatang-binatang seperti merak, macan, monyet, sudah jelas terdesak. Apalagi situs budaya, ini juga penting hingga harus ada upaya perlindungan seperti Situs Budaya Karamat di Desa Pamalayan Cigedug,” tambahnya.

Hingga sekarang, seluruh kawasan Gunung Cikuray, dari kaki gunung hingga puncak, dikelola oleh Perum Perhutani dengan status hutan lindung terbatas dan hutan produksi. Dengan perubahan status fungsi kawasan, Imam berharap fungsi-fugsi ekologis kawasan Gunung Cikuray bisa dipulihkan.

Tokoh masyarakat Desa Sukatani Kecamatan Cilawu yang berbatasan langsung dengan Gunung CIkuray, Rahmat, mengaku, meski berada tidak jauh di kawasan pegunungan, warga di desanya masih kesulitan memperoleh air bersih. Tidak hanya dirasakan saat musim kemarau saja, kondisi sudah terjadi beberapa tahun terakhir bahkan ketika musim hujan tiba.

“Dampaknya (kerusakan) sudah cukup terasa, karena beberapa tahun ini warga di desa Sukatani kesulitan mendapatkan air bersih,” katanya.

Secara administratif kata Ebit, Gunung Cikuray berada di wilayah 5 kecamatan di Kabupaten Garut. Gunung ini, menjadi hulu sekaligus sumber mata air bagi tiga sungai besar yaitu Sungai Cimanuk yang bermuara di Kabupaten Indramayu, Ciwulan yang mengalir ke Kabupaten Tasikmalaya hingga bermuara ke Pantai Selatan Tasikmalaya dan Sungai Cikaengan yang bermuara di Pantai Selatan Garut. Kerusakan kawasan Gunung Cikuray, menurutnya akan memberi pengaruh besar pada keberlangsungan siklus air untuk kepentingan masyarakat.

Maka dari itu, disamping merekomendasikan perubahan status fungsi kawasan, Yayasan Tangtudibuana bersama para peserta diskusi berharap pemerintah daerah melakukan langkah-langkah emergensi respon berupa rehabilitasi dan reboisasi, pemetaan ulang sumber-sumber mata air di Gunung Cikuray dan melakukan penataan dan pemantauan terhadap aktivitas-aktivitas budidaya pada kawasan-kawasan yang rawan dan jadi sumber strategis sumber mata air. (erf/rls)