Pedagang Pasar Tetap Boleh Jualan Asalkan Syaratnya Dipenuhi

127

RadarPriangan.com, GARUT – Stabilitas perdagangan menjadi salah satu sektor yang terkena dampak besar dengan adanya virus Korona.

Hal itu juga dirasakan oleh pengusaha di Kabupaten Garut, baik pedagang skala kecil, menengah maupun skala besar.

Kepala Disperindagpas-ESDM Kabupaten Garut Gania mengatakan, untuk mengantisipasi pelambatan laju ekonomi saat ini, pihaknya mulai menyusun strategi dalam antisipasi jangka pendek kaitan penanganan masalah ekonomi akibat Covid-19.

“Langkah pertama kita buat surat edaran agar pasar (aktivitas usaha, red) tetap dibuka dengan syarat pedagang harus bersih, Dinas Kesehatan akan berikan sosialisasi bagaimana menjaga kebersihan, menjaga jarak saat berdagang, tidak berkerumun (untuk mencegah penyebaran virus corona di pusat perdagangan di Garut, red),” katanya, Rabu (25/03/2020).

Selain itu, untuk memaksimalkan upaya pencegahan, Disperindagpas-ESDM Garut juga akan menunjang dalam pemberian hand sanitizer dan masker bagi para pedagang di pasar.

Lanjut Gania, langkah lain yang akan dilakukan yakni penyelesaian masalah jika kian hari terus terjadi penurunan daya beli masyarakat.

“Kita akan koordinasi dengan bulog dari sisi penyediaan seperti beras, minyak goreng dan bahan pokok lainnya . Yang jelas Bulog siap bantu Pemkab Garut dalam antisipasi penurunan daya beli masyarakat. Mudah-mudahan tidak ada lockdown pasar,” jelasnya.

Gania juga bersyukur, sejumlah pedagang siap mendukung program tersebut dalam kaitan pencegahan penyebaran virus korona tanpa menghambat sektor usaha.

“Alhamdulillah dari asosiasi pedagang pasar ada koordinasi untuk suplay bahan pokok bisa antar jemput (tanpa harus berangkat ke pasar, red). Mekanismenya seperti apa, yang jelas keuangan negara harus bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Menurutnya, kondisi ini juga berpengaruh terhadap psikologi pembeli maupun pedagang. Dimana aktivitas usaha ada kecenderungan menurun.

“Pengaruh ke jumlah konsumen seperti di pasar Cisurupan, Andir, Cibodas itu pembeli jadi berkurang, jam dua sudah sepi. Dampaknya barang menumpuk, daya beli kurang. Ada juga beberapa pedagang kecil sudah mulai tidak beraktivitas,” tambahnya.

Sementara itu, untuk sejumlah stok bahan pokok yang berasal dari impor nyaris tidak tersedia. Dampaknya, bahan-bahan lokal yang terbatas pun menjadi incaran, meski dengan harga yang relatif mahal seperti gula, jahe, bawang bombay dan beberapa komoditas pangan lainnya terjadi kenaikan harga.

Maka dari itu, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Bulog untuk menjaga stabilitas harga maupun stok kebutuhan pangan bagi masyarakat. (erf)