Pasar Tradisional Makin Diminati di Masa Pandemi

120
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Garut, Nia Gania

RadarPriangan.com, GARUT – Di tengah penurunan daya beli masyarakat akibat pandemi corona virus disease (Covid19), bahan pangan di pasar tradisional lebih digandrungi masyarakat, ketimbang pasar modern. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Garut, Nia Gania kepada wartawan, Jumat (7/8/2020).

“Jika dibanding pasar modern, sebetulnya pasar rakyat jauh lebih banyak konsumennya, kenapa? Karena bagaimana pun bahan pokok di pasar rakyat (harganya, red) bisa ditawar, di pasar modern tidak,” kata Gania.

Menurutnya, konsumen pasar rakyat jauh lebih banyak, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Selain murah, ketersediaan kebutuhan pokok lebih seperti sayuran lebih kumplit.

“Yang tidak ada di pasar modern (seperti, red) sayur-sayuran yang kumplit (ada di pasar tradisional, red),” katanya.

Oleh karena itu kata Gania, belanja di pasar tradisional cenderung dipilih warga selama pandemi Covid19. Meski begitu, aktivitas ekonomi di pasar modern masih tetap berjalan.

Gania menyebutkan, jumlah pasar rakyat di Kabupaten Garut berjumlah 15, dengan 16.800 pedagang. Sejumlah pedagang saat ini mulai berangsur kembali menjalankan usahanya di pasar, dengan imbauan protokol kesehatan.

“Awal pandemi cemas, ada penurunan (aktivitas usaha, red) karena beberapa pedagang enggan masuk pasar, pas bulan maret kembali ke pasar hingga kita berlakukan protokol kesehatan, meski agak sulit memberlakukan protokol kesehatan terutama physical distancing dan social distancing, kita selalu sosialisasi itu agar pakai masker,” katanya.

Menurutnya, memasuki bulan Juni hingga Juli, aktivitas pasar berlangsung normal. Dari seribu rapid tes yang sudah dilakukan, tidak ada satupun pedagang yang reaktif.

“Peningkatan (aktivitas ekonomi, red) terjadi dua minggu sebelum idul adha, permintaan sayur meningkat, meski ada yang turun itu daging (penjualannya, red), tapi harga tidak turun, karena masih ada pedagang baso yang jualan dan beli daging,” tambahnya.

Penurunan omzet penjual daging berkurang 30 persen, hal tersebut disebabkan karena jumlah warga yang melaksanakan kegiatan massal seperti resepsi pernikahan, seminar, dan kegiatan yang mengundang banyak orang nyaris tidak ada.

“Tapi yang lain aman, hanya satu kali saja kami lakukan operasi pasar, itu gula saja. Gula normal, adapun gula rafinasi tidak bisa dijual begitu saja harus pakai gula dalam negeri,” pungkasnya. (erf/RP)