Pasar Mawar Tutup, Pedagang hanya Bisa Pasrah

663
DIBONGKAR: Pasar Mawar yang sudah rata dengan tanah, beberapa waktu lalu. (MUHAMAD ERFAN/RADAR GARUT)

300 Lapak yang Berdiri di Atas Tanah PT KAI Mulai Dibongkar

RADARPRIANGAN.COM, GARUT – Pedagang di Pasar Gapensa atau Pasar Mawar, Kelurahan Pakuwon, Kecamatan Garut Kota, sudah tidak lagi berjualan. Sejumlah lapak yang berada di tanah PT. KAI sudah dibongkar sejak lima hari lalu.

Endang, 66, salah seorang pedagang ayam potong mengaku sudah 10 hari dirinya tidak berjualan karena lapaknya sudah dibongkar. Pembongkaran dipilih Endang beserta pedagang lainnya karena lahan pasar akan menjadi rel kereta Cibatu-Garut.

Dirinya mengaku sudah berjualan sejak 2004 lalu. Selama 15 tahun berjualan, Endang kini hanya bisa pasrah melihat lapaknya yang sudah rata dengan tanah.

“Memang belum ada surat pemberitahuan resmi. Baik dari pemerintah maupun dari PT KAI. Tapi kami pilih bongkar saja karena sudah tidak nyaman jualan juga,” kata Endang di Pasar Gapensa, Selasa (5/3).

Belum semua kios di Pasar Gapensa dibongkar. Dari 300 kios yang ada di belakang Stasiun Garut, baru sekitar 50 kios yang dibongkar oleh pedagang.

Menurutnya, pasar yang awalnya tertutup, pada 10 hari lalu dibongkar bagian atapnya oleh petugas PT KAI. Ia yang berupaya tetap bertahan untuk berdagang, akhirnya hengkang karena tak tahan panas.

PUING: Pedagang mncari benda yang masih bisa dimanfaatkan. (MUHAMAD ERFAN/RADAR GARUT)

“Pedagang juga enggak mau beli karena panas. Dulu kan ditutup kanopi. Tapi sudah dibongkar. Enggak ada informasi mau dibongkar, tiba-tiba saja,” katanya.

Stasiun Garut yang dulu jadi markas salah satu organisasi masyarakat juga sudah bersih. Cat warna jingga sudah diganti dengan cat dominan putih dan abu-abu. Pintu masuk menuju stasiun pun sudah ditutup menggunakan gerbang besi.

“Enggak tahu ini mau direlokasi ke mana. Katanya mau ke Pasar Jagal, masih dekat dari sini. Tapi enggak tahu seperti apa teknisnya,” katanya.

Menurutnya, dari 300 pedagang yang harus membongkar kios, tempat relokasi hanya bisa menampung sebanyak 50 pedagang. Banyak pedagang geram lantaran tidak ada solusi dari pemerintah.

Kondisi serupa juga dialami Euis, 55, pedagang lainnya. Euis bahkan jatuh sakit selama satu minggu saat rumahnya harus dibongkar.

“Saya ngebangun Rp 180 juta, tapi cuma dapat ganti rugi Rp 19 juta. Katanya sudah Pemilu akan mulai dibongkar,” kata Euis.

Pihaknya meminta pemerintah dapat memerhatikan warga terdampak pembangunan jalur rek Cibatu-Garut. Saat ini, dirinya mengaku sulit , untuk mencari rumah tinggal atau kontrakan untuk keluarga.

“Jangan asal main bongkar saja. Tapi pikirin kami mau tinggal kemana. Saking kesalnya, warga sampai ngancam enggak mau nyoblos pas pemilihan nanti,” katanya.

Terpisah, Bupati Garut, Rudy Gunawan, mengatakan, keinginan hunian sementara bagi warga terdampak merupakan urusan pemerintah pusat. Pemkab menyambut baik, namun harus dianggarkan dari APBN.

“APBD itu kami hanya bisa bangun rutilahu. Itupun harus punya tanah. Kalau ada yang seperti itu (rutilahu, red) kita bisa anggarkan,” ujar Rudy.

Lanjutnya, warga terdampak selama ini menyewa lahan ke PT KAI. Apalagi sudah disadari lahan itu harus dikembalikan jika sewaktu-waktu PT KAI memerlukan.

“Saya ikutin saja karena PT KAI laksanakan tugasnya sendiri. Ke Pemda hanya minta bantuan pengamanan. Bukan cuma pengamanan tapi minta Pasar Gapensa itu dikosongkan,” pungkasnya. (erf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here