P2TP2A Siapkan Rumah Aman untuk Dua Anak yang Dicabuli Bapaknya

189
ilustrasi

RadarPriangan.com, GARUT – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut mengaku telah menyiapkan rumah aman untuk dua anak kandung UR, 42, yang menjadi korban pelecehan seksual. Hal tersebut disiapkan agar kondisi psikis korban bisa dipulihkan.

Sekretaris P2TP2A Kabupaten Garut, Rahmat Wibawa menyebut bahwa pihaknya akan menawarkan rumah aman tersebut kepada korban agar bisa melindunginya disana.

“Kita, begitu mendapat laporan adanya kasus pemerkosaan anak oleh ayah kandungnya, tim P2TP2A langsung mengonfirmasi ke Kecamatan Malangbong, dan datang ke rumahnya untuk langsung memberikan pendampingan kepada korban,” ujarnya, Rabu (3/7).

Kedatangan tim ke rumah korban pun dilakukan bersama psikolog untuk mengetahui secara langsung kondisi psikisnya. Namun selain itu juga, Rahmat mengaku sudah menyiapkan pendamping selama korban menjalani proses kasusnya hingga pengadilan.

“Tentunya kita akan berkoordinasi dengan Polres Garut. Nanti kita akan assesment karena harus tahu dulu dampaknya berat atau gimana. Meski kasus berat, tapi belum tentu traumanya berat juga,” jelasnya.

Sebelumnya, seorang ayah berinisial UR, 42, di Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut ditangkap Polsek Malangbong. UR diketahui menyetubuhi anaknya sendiri hingga hamil dan bahkan melahirkan.

UR sendiri statusnya kini telah menjadi tersangka. Ia mengaku semua perbuatan bejatnya terhadap anaknya yang masih berusia 15 tahun selama 4 tahun, atau sejak ia bercerai dengan istrinya.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna menyebut bahwa akibat perbuatannya, UR diancam kurungan minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun. “Ditambah sepertiga masa kurungan dan tahanan karena korbannya adalah keluarga tersangka,” ujarnya, Selasa (2/6).

Budi menyebut bahwa awalnya dugaan pencabulan diketahui saat warga curiga anak berusia 15 tahun yang sudah melahirkan padahal belum bersuami. Korban sendiri kemudian melahirkan pada 15 Juni dan pihaknya menerima laporan pada 29 Juli 2019 dari ibu korban.

“Kita langsung menangkap pelaku di Malangbong dan memeriksa dan melakukan gelar perkara hingga menetapkan UR sebagai tersangka. UR ini diketahui menduda sejak bercerai dengan istrinya di tahun 2010. Dan korban ini pun diketahui tinggal bersama ayahnya,” ungkapnya.

Berdasarkan keterangan korban, lanjut Budi, aksi bejat UR dilakukan sejak tahun 2015 atau saat korban masih berusia 12 tahun. Aksi tersangka dilakukan hingga 2019 lalu diketahui hamil dan melahirkan.

Aksi bejat UR sendiri tidak berani diceritakan korban karena melakukan ancaman. “Setiap aksi UR dilakukan di rumahnya. Jadi korban ini dipaksa untuk melayani nafsu ayahnya hampir setiap malam,” ungkapnya. (igo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here