Ngaku Lebam Dipukulin Orang, ini Alasan Ratna Sarumpaat

319
Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong, Ratna Sarumpaet didampingi putrinya Atiqah Hasiholan. (Salman Toyibi/JawaPos.com)

RadarPriangan.com, JAKARTA – Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong, Ratna Sarumpaet mengaku kaget melihat hasil operasi plastik. Dia mengaku kali pertama bisa melihat wajahnya setelah perban di matanya dibuka pada 23 September 2018. Saat itu dia langsung bercermin dengan cermin yang sudah disediakan pihak rumah sakit.

“Tanggal 23 saya bisa lihat (wajah). Saya kaget tapi dokter mengatakan itu biasa. Saya berkaca jam 10 pagi,” ujarnya dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (14/5).

Namun, dampak tersebut dikatakan Ratna sudah pernah disampaikan oleh dokter. Bahwa efek samping dari operasi sedot lemak bisa berbeda-beda pada setiap individu dan kondisinya.

Pada 24 September 2018, Ratna memutuskan untuk pulang ke rumah karena ada sejumlah kegiatan yang harus dihadiri. Saat pulang kondisi mukanya masih lebam.

Saat taksi yang ditumpanginya sudah dekat dari rumah, dia kemudian mengirimkan foto muka lebamnya kepada salah satu stafnya yang bernama Rubangi. Di situ dia menceritakan bahwa telah dianiaya di Bandung. Dan dia meminta segera dibukakan gerbang rumah karena sudah mau tiba.

“Saya kirimkan ke staf saya waktu saya pulang. Saya kirim (foto wajah) ke Rubangi. Rubangi tanya kenapa. Nah, itu pertama kali saya bohong saya dipukuli orang,” kata Ratna.

Dari situ Ratna berdalih alasan dianiaya menjadi yang paling masuk akal digunakan dengan kondisinya saat itu. Sebab, dengan muka lebam begitu tidak mungkin dia beralasan tertimpa tangga atau mengalami kecelakaan.

“Karena yang paling mendekati oleh muka saya ya penganiayaan. Pada saat itu yang terpikir itu, dan itu yang masuk akal,” ungkapnya.

Rubangi pun sempat bertanya-tanya perihal muka lebamnya, namun Ratna tak banyak menjawab. Dia hanya mengatakan dianiaya di Bandung. Namun, dia mengaku tak mengenali pelakunya.

“Saya bilang gak kenal (pelakunya). Identitasnya laki-laki aja,” imbuhnya.

Sesampainya Ratna di rumah, terjadi perdebatan antara dia dengan staf dan dua anak laki-lakinya Iqbal dan Ibrahim. Mereka berusaha menyakinkan Ratna supaya membuat laporan polisi atas kejadian ini. Namun, Ratna tetap menolaknya.

“Terjadi juga perdebatan, tapi tetap saya bilang nggak usah. Itu informasi pertama yang mereka tahu,” sambungnya.

Atas dasar itu, Ratna pun menolak memberi tahu kondisinya kepada anak-anaknya yang lain. Sebab akan semakin banyak dorongan untuk membawa kejadian ini ke jalur hukum.

Diketahui, Ratna didakwa dengan Pasal 14 Ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana. Serta Pasal 28 Ayat (2) juncto Pasal 45 A Ayat (2) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Kasus ini mulai muncul pada Oktober 2018. Saat itu foto lebam wajah Ratna Sarumpaet beredar luas di media sosial. Kepada beberapa pihak, Ratna mengaku jadi korban pemukulan orang tidak dikenal di Kota Bandung, Jawa Barat.

Kemudian pada 3 Oktober 2018 Ratna membuat pernyataan ke publik melalui konferensi pers bahwa berita penganiayaan terhadap dirinya adalah bohong. Dia mengakui luka lebamnya di dapat dari operasi plastik di sebuah rumah sakit kecantikan di Jakarta. (jpc)