Neraka di Pabrik Korek Gas, 30 Tewas Terpanggang

366
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara, tercatat sebanyak 30 orang tewas terpanggang akibat kebakaran di pabrik perakitan mancis Jalan Tengku Amir Hamzah, Desa Samberejo, Kabupaten Langkat. Berikut nama-nama yang diperoleh hingga pukul 20.08 WIB, Jumat (21/6). (AFP)

RadarPriangan.com, LANGKAT– Setidaknya 30 orang tewas terpanggang dalam tragedi di pabrik home industri tersebut. Di antaranya 4 orang anak-anak dan 24 orang dewasa korban tewas mayoritas karyawan gudang korek yang tinggal di sekitar lokasi.

Peristiwa bermula saat warga tengah melaksanakan salat Jumat. Tiba-tiba, dentuman ledakan sebanyak tiga kali memecah kesunyian warga Desa Sambirejo. Lokasi yang terbakar berupa rumah permanen berukuran sekitar 5×7 meter yang sesak dipenuhi alat produksi.

Dari informasi yang dihimpun, para korban tak bisa menyelamatkan diri akibat terjebak di sana. Kebanyakan korban menumpuk di dekat pintu depan pabrik yang dalam keadaan terkunci.

Saat ledakan terjadi, warga berhamburan datang melakukan penyiraman, sebelum akhirnya lima mobil pemadam kebakaran dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Langkat tiba di lokasi.

Diduga suara ledakan berasal dari kebocoran tabung gas di ruang belakang. Gas memantik api yang cepat menyebar ke seluruh gudang. Setelah proses pendinginan pasca pemadaman selesai, pemandangan menyayat hati terpampang jelas. Kondisi jenazah dalam kondisi hangus terbakar. Korban tewas terdiri dari ibu rumah tangga dan anak-anak.

Proses evakuasi bersama Polda Sumut kemudian dilakukan. Sekitar 30 kantong jenazah dimasukkan ke dalam lokasi. Hingga pukul 16.00 WIB, jenazah para korban akhirnya diungsikan ke Rumah Sakit Bhayangkara, Medan untuk diidentifikasi.

Salah seorang saksi mata bernama Suryadi mengaku, para pekerja yang didominasi wanita tak bisa keluar saat kejadian. Hanya ada empat pekerja yang selamat dalam peristiwa kebakaran tersebut.

Saat kejadian, sambungnya, kepanikan terjadi. Api yang menjalar membuat para korban menuju pintu depan yang kondisinya terkunci.

“Pas kejadian, kondisi pintu depan terkunci, yang buka hanya pintu belakang, sedangkan sumber kebakaran dari arah belakang,” katanya.

Suryadi yang saat itu berada dalam ruangan mengaju masih trauma. Ia tak menyangka akan melihat rekan kerjanya terpanggang dalam api.

“Saya keluar dari pintu belakang. Waktu kejadian, saya lagi makan. Begitu kejadian katanya ada kebakaran, saya sempat melihat ke depan. Setelah itu saya lemas. Mau berdiri saja pun enggak sanggup. Kami lihat semuanya kawan kami yang jadi korban,” terangnya.

Diakuinya kejadian berlangsung cepat, gas membuat api menjalar ke seluruh ruangan. Tak ada alat pemadam dalam ruangan sempit tersebut.

Sementara, Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto, mengatakan, kebakaran terjadi karena pengusaha mengabaikan keamanan dan keselamatan kerja para pekerja yang merupakan kaum perempuan. Tidak ada standar keamanan dalam pabrik tersebut. ” Tidak ada (alat pemadam kebakaran-red) di dalam, ” jelasnya.

“Para korban diduga meninggal dunia karena terjebak di dalam ruangan di pabrik saat terbakar tadi. Jalan keluar tidak ada dan mereka diduga terkunci dari dalam,” imbuhnya.

Disinggung, proses penyelidikan, Agus mengatakan tengah memeriksa pemilik perusahaan pabrik mancis rumahan. Sayang, ia enggan menyebut inisial pemilik usaha pabrik mancis rumahan itu. “Yah nantilah, masih kita selidiki,” paparnya.

Selain korban jiwa, sejumlah kendaraan ikut hangus terbakar. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Langkat Irwan Syahri mengatakan, sekitar 10 unit motor juga terbakar. Pihaknya belum bisa menyebutkan nilai kerugian akibat kebakaran. “Belum bisa kita sebut, masih dihitung dan fokus pada lokasi,” terangnya.

Diketahui, rumah tersebut milik Suriadi, 35, penduduk Desa Sambirejo. Dari keterangan kakak kandung Suriadi, Rusmiati, 59, pabrik yang berada persis di depan rumahnya itu dikontrakan adiknya kepada salah seorang pengusaha, warga Medan sejak 2011.

“Rumah itu milik orang tua saya yang sudah meninggal dan rumah itu diwariskan untuk adik saya yang paling kecil, yaitu Suriadi,” ujarnya.

Dari keterangan Rusmiati, para korban dibayar berdasarkan borongan, tetapi tidak tahu berapa target dan pembayarannya. Rata-rata karyawan dibayar Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per bulan. Jumlah itu merupakan akumulasi gaji mereka yang dibayar seminggu atau per sepuluh hari kerja.

“Karyawannya hanya memasang pemantik mancis, kalau gas memang sudah terisi dalam mancis yang belum ada kepalanya,” terangnya.

Terpisah, Bupati Langkat Terbit Rencana PA akan memanggil Dinas Perindustrian terkait izin. Hal itu diungkapkanya saat meninjau lokasi.

Jika ditemukan tidak memiliki izin, pihaknya akan bertindak tegas sesuai dengan peraturan yang berlaku. Hal ini bukan saja dilakukan terhadap pemiliknya, melainkan juga kepada pihak-pihak yang terlibat.

“Proses hukum kepada pemiliknya kita serahkan kepada kepolisian, kita akan rapat bersama mengenai izin pabrik tersebut,” paparnya.

“Secepatnya Pemkab Langkat akan melakukan pemeriksaan izin perusahaan. Bukan saja terhadap pabrik ini, melainkan semua pabrik yang ada di Langkat. Agar peristiwa yang sangat memiluhkan ini tidak terulang lagi,” imbuhnya. (dbs/fin/tgr)