MUI: Ummat Islam yang Mati Akibat Korona adalah Mati Syahid

161
Anggota keluarga korban virus korona berduka saat pemakaman di Jakarta Selasa (31/3). (Foto: Bay Ismoyo/AFP)

RadarPriangan.com, JAKARTA – Kematian bagi umat Islam bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti berlebihan karena yang paling penting dipikirkan adalah persiapan untuk menyambut kematian itu sendiri. Sudah cukupkah bekal kita ketika menyongsong itu semua?.

Termasuk ketika menghadapi pandemi virus covid-19 yang cukup mematikan ini. Bagi umat Islam di satu sisi kita diwajibkan ikhtiar untuk menghidarinya, berdoa dengan sungguh-sungguh kemudian tawakkal (menyerahkan segalanya kepada Allah swt).

Namun ketika itu semua sudah ditempuh, lantas masih juga terinfeksi dan kemudian meninggal dunia, maka janganlah khawatir. Karena rupanya orang Islam yang meninggal terkena wabah semacam ini diganjar pahala syahid.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri, melalui dalil-dlail syar’i memberikan kabar gembira, bahwa orang yang meninggal dunia karena virus covid-19 ini, mendapatkan pahala mati syahid.

MUI juga telah mengatur tentang pedoman pengurusan jenazah yang meninggal dunia akibat virus COVID-19. Fatwa tersebut dibuat sebagai bentuk komitmen keagamaan dan ikhtiar dalam menangani, merawat sekaligus menanggulangi pandemik yang kini menyebar ke seluruh dunia.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni’am mengatakan dalam menjalankan pedoman tersebut ada tiga aspek yang harus diperhatikan. Sehingga dalam pelaksanaannya dapat berjalan sesuai komitmen dan ikhtiar.

Yang pertama ketertundukan manusia untuk menyadari bahwa ini sebagai musibah, dan menjamin bagaimana tetap di dalam koridor untuk tetap tunduk terhadap aturan Allah SWT dengan meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan tetap melaksanakan ibadah.

Kedua adalah menjaga keselamatan diri, bahwa hal itu bagian dari tugas keagamaan dan kemanusiaan serta tugas penghambaan diri kepada Allah SWT.

“ Yang ketiga adalah memastikan keselamatan orang lain dan juga proses-proses seperti perawatan, pengurusan jenazah harus sesuai ketentuan agama dan protokol kesehatan,” kata Asrorun Ni’am di Jakarta, Sabtu (4/4/2020).

Secara substansi, Fatwa MUI Nomor 18 Tahun 2020 juga menyinggung mengenai hukum yang mengatur setiap muslim yang menjadi korban COVID -19, secara syari adalah syahid dan mendapatkan kemuliaan dan kehormatan dari Allah SWT.

“Perlu dipahami bahwa setiap muslim yang menjadi korban Korona secara syari adalah syahid. Dia memiliki kemuliaan dan kehormatan di mata Allah SWT,” ungkap Asrorun.

Terkait pemakaman, lanjutnya, ada empat hal yang menjadi bagian dari hak jenazah yang harus ditunaikan oleh setiap muslim. Yaitu pemandian, pengkafanan, salat, dan penguburan jenazah dengan menerapkan protokol kesehatan tanpa meninggalkan ketentuan yang telah diatur agama.

“Pada proses pemandian jenazah dimungkinkan dengan proses pengucuran air ke seluruh tubuh. Jika tidak dimungkinkan bisa tayamum. Kalau tidak dimungkinkan lagi, dapat langsung dikafankan,” paparnya.

Proses pengkafanan, kata Asrorun, bisa dilakukan dengan melengkapi proteksi menggunakan plastik tidak tembus air. Kemudian diletakkan ke dalam dan proses disinfeksi yang dimungkinkan secara syar’i. Setelah itu, proses salat harus dipastikan bahwa tempat salat aman dan suci dari proses penularan. Minimal satu orang muslim.

“Dengan mengikuti protokol kesehatan di dalam proses kepengurusan jenazah dan ketentuan di dalam fatwa, ini sebagai panduan kepengurusan jenazah Muslim. Jadi tidak perlu lagi ada kekhawatiran terjadinya penularan kepada orang yang hidup,” ucapnya.

Menurutnya, kewaspadaan tetap penting. Tetapi harus dibingkai dengan ilmu pengetahuan dan pemahaman yang utuh.

“Jangan sampai, akibat kekhawatiran ini kita minus pengetahuan yang memadai. Jadinya kita berdosa. Sebab, tidak menunaikan kewajiban atas hak jenazah dengan menolak pemakaman. Tidak boleh seperti itu,” tutur Asrorun, seperti dilansir dari Fajar Indonesia Network (Grup RadarPriangan.com).(FIN/red)