Menristekdikti Sebut Startup Tak Perlu Kena Pajak

251
Menristekdikti Mohammad Nasir

RadarPriangan.com, JAKARTA – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir di hadapan ribuan penggiat startup Indonesia mengatakan pemerintah tidak perlu mengenakan pajak kepada para startup.

“Saya minta agar tidak dibebani pajak dulu. Mudah-mudahan startup bisa menikmati pajak yang dibebaskan pemerintah,” kata Nasir dalam acara Indonesia Startup Summit (ISS) 2019 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (10/4).

Menurut Nasir, startup memiliki kesamaan dengan bisnis lainnya yang dekat dengan pajak. Karena startup mampu menghasilkan omzet yang tidak sedikit.

Nasir mencontohkan, dalam tiga tahun ini, startup besutan ISS sudah ada yang beromzet Rp1 miliar hingga Rp7 miliar. Nah sejalan dengan pertumbuhan yang sedemikian pesat, maka nantinya startup bisa dikenakan pajak.

Lanjut dia, bonus demografi Indonesia yang diprediksi Badan Pusat Statistik (BPS) akan mencapai puncak pada sekitar tahun 2030. Ini akan makin mendorong peluang lahirnya startup terbaik dalam beberapa tahun ke depan.

Terpisah, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Hanif Muhammad tidak sependapat dengan Menristekdikti Nasir bahwa startup tak perlu dikenai pajak. Sebab ada startup yang menghasilkan omzet cukup besar, dan ini harus dikenai pajak.

“Aturan tetap perlu ada, namun harus ada pertimbangan karena penerapan pajak pada startup kecil bisa mematikan mereka,” kata Hanif kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Rabu (10/4).

Menyoal pencabutan penerapan pajak pada startup beberapa waktu lalu, Hanif mendukungnya. Karena tidak relevan dengan kondisi para pelaku startup saat ini.

“Saya sendiri mendukung pencabutan aturan pajak setengah persen pada pelaku startup, karena sebenarnya itu enggak relevan. Pembatalan penerapan pajak tersebut sangat bagus, karena bisa merangsang startup untuk lebih berkembang,” ujar Hanif.

“Ya artinya aturan-aturan perlu ada namun harus berimbang itu yang masih harus objektif,” kata Hanif lagi.

Dikutip dari laporan Startup Ranking, Indonesia masuk dalam daftar lima besar negara di dunia dengan jumlah startup terbanyak. Totalnya mencapai 1.705 startup, menempatkan Indonesia di urutan keempat di bawah Amerika Serikat (28.794 startup), India (4.713 startup), dan Inggris (2.971).

Sebagai perbandingan, jumlah startup yang dimiliki negara lainnya di kawasan Asia Tenggara seperti Singapura yaitu 508 startup, Filipina 193 startup, Malaysia 144 startup, Thailand 81 startup, dan Vietnam 73 startup.(ibl/din/fin)