Mengenal Euis Rohayati, Pedagang Tahu yang Jadi Polisi TB

49
Euis Rohayati, karena kegigihannya mengajak penderita TB berobat, dia dijuluki Polisi TB (Iqbal Gojali)

Berawal dari keikutsertaannya dalam pelatihan untuk menemukan dan memberikan penyuluhan tentang tuberkulosis (TB) di tahun 2012 di organisasi Aisyiah. Euis Rohayati (53), warga Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat ini terus mencari dan membantu warga yang menderita TB. Karena keseriusannya itu, oleh warga pun ia mendapat julukan Polisi TB.

Iqbal Gojali, GARUT

Saat ditemui di Klinik Darul Arqam, Euis saat itu diketahui tengah mengantar seorang balita yang belum berusia satu tahun namun sudah dinyatakan positif TB. Ia bercerita bahwa sang balita mendapatkan penyakit itu karena tertular dari ayahnya.

“ Saat itu ayahnya tidak tahu kalau dia positif TB sehingga berinteraksi secara langsung dengan anaknya yang masih bayi. Rupanya interaksi tersebut menjadikan penyakit TB itu menular kepada anaknya yang masih kecil,” ujarnya.

Diketahuinya sang balita mengalami TB, adalah saat ia mengetahui bahwa ayahnya positif sehingga ia pun langsung mengajak orang tuanya untuk memeriksa anaknya. Setelah diperiksa tenyata sudah positif sehingga kini Euis pun rutin mengantar sang balita bersama orang tuanya untuk berobat.

Kegiatannya mencari hingga mengantar penderita TB sendiri, diakui Euis sudah dilakukannya sejak November 2012. Hingga saat ini, ia menyebut sudah mengantar 447 warga yang diduga menderita TB.

“ Dari jumlah tersebut 93 orang dinyatakan positif TB sehingga harus diobati dan sisanya hanya suspect saja. 89 orang sudah sembuh Alhamdulillah dan 4 orang lainnya hingga saat ini sedang mendapatkan pengobatan,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa selama menjadi polisi TB di Garut tidak jarang ia dihadapkan dengan tantangan. Diantara tantangan yang ia hadapi adalah penolakan warga yang secara tanda-tanda dipastikan positif TB namun enggan diajak diperiksa bahkan berobat.

Tidak hanya itu saja, di awal-awal ia bergerak tidak sedikit Puskesmas yang menolak untuk mengobati pasien yang dibawanya karena keterbatasan sarana.

“ Kalau sekarang mah hampir semuanya sudah bisa, dulu mah karena kurang fasilitas banyak yang menolak,” ungkapnya.

Wanita yang sehari-hari berjualan tahu di Pasar Guntur Garut ini menjelaskan bahwa di Kabupaten Garut warga yang paling banyak menderita TB rata-rata tingkat ekonominya menengah ke bawah.

Kondisi tersebut pun dikuatkan dengan kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang kurang bersih karena berada di kawasan yang padat penduduk.

Jika melihat pekerjaan para penderita sendiri diketahui mulai dari buruh pasar, sopir angkot, pedagang kecil, hingga pengangguran.

“Namun memang secara umum penyebabnya adalah lingkungan yang kumuh ditambah pemahaman tentang kebersihan yang sangat kurang,” jelasnya.

Kepedulian terhadap TB saat ini sendiri di kalangan masyarakat, menurutnya sangat minim, padahal ia menyebut hal itu lebih bahaya dari HIV. Pernyataan Euis tersebut ia lontarkan karena penularannya bisa langsung kepada 10 hingga 15 orang.

Yang terjadi kemudian, disebut Euis adalah adanya anggapan bahwa TB adalah penyakit biasa. Namun meski demikian, ia mengaku tidak pernah merasa lelah untuk terus mencari mereka walau harus melakukan berbagai cara untuk merubah pandangan tersebut.

Euis bercerita bahwa ia pernah harus melakukan pendekatan selama tiga tahun kepada penderita TB agar mau berobat. Pola pendekatan pun tidak hanya secara langsung saja, tetapi juga melalui keluarga, tetangga, bahkan ketua RT dan RW.

“ Ya memang pendekatan kepada penderita TB ini tidak mudah. Kalau saya kasih tahu malah dibilang so tahu dan malah memarahi. Tetapi sekarang Alhamdulillah banyak yang mengerti bahkan tidak sedikit orang yang menyebut saya polisi TB karena seringnya mencari dan mengajak juga mengantar warga untuk berobat TB,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Kabupaten Garut sendiri diketahui merupakan salah satu kabupaten dengan target penemuan kasus TB yang cukup tinggi di Jawa Barat. Penemuan kasus TB masih belum mencapai target dari estimasi penderita TB sekita 8.033 kasus per tahun.

Penemuan kasus TB sejak 2015 hingga 2018 cenderung meningkat. Tahun 2015 ditemukan 2.559 kasus. Jumlah itu meningkat menjadi 2.727 kasus pada 2016. Sedangkan pada 2017 ada 3.170 kasus TB. Di 2018 ada sedikit penurunan kasus menjadi 3.079 kasus. Pada tahun 2019 dari estimasi penderita 5.845 orang, baru ditemukan 3.662 orang.

Selama ia bergerak mencari hingga mengantar penderita TB, Euis mengaku tidak pernah dibayar oleh pemerintah. Namun ia menyebut bahwa ada salah satu lembaga dari luar negeri yang ikut membantunya dengan memberikan Rp 30 ribu setiap menemukan penderita positif TB.

“Alhamdulillah bisa membantu untuk ongkos saat mengantar berobat pasien,” ucapnya.

Sebelum mendapatkan bantun tersebut, Euis mengaku bahwa untuk ongkos hingga yang lainnya ia keluarkan dari saku pribadi. Ia tidak pernah berharap uang yang sudah dikeluarkannya diganti oleh siapapun karena apa yang dilakukannya adalah bentuk kepedulian kepada masyarakat.

Beberapa hari kemarin, Euis mendapatkan undangan dari Presiden Joko Widodo di Cimahi dalam acara Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TB 2030. Ia berharap, masyarakat penderita TB tak perlu malu untuk berobat.

” TB itu memang penyakit menular, napi bisa diobati dan disembuhkan. Jangan sungkan untuk memeriksakan kondisi ke Puskesmas,” tutupnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here