Mendengar Menjawab

390

Oleh :
Dahlan Iskan

Hongkong mau
punya Gurkha lagi. Seperti di zaman penjajahan Inggris dulu. 

Gurkha baru
ini juga akan dipekerjakan sebagai aparat keamanan. Tapi khusus untuk di
stasiun-stasiun MTR –kereta bawah tanah.

Mengapa? 

Selama
hampir 100 hari ini banyak stasiun MTR yang dirusak demonstran. Setidaknya 40
stasiun yang jadi sasaran kemarahan pendemo.

Banyak
petugas keamanan MTR yang mudah terpancing. Mereka mudah marah. Terutama kalau
terus diejek dan dimaki demonstran.

Petugas
keamanan itu akan digantikan oleh Gurkha. Agar tidak mudah tersinggung. Agar
tidak terjadi bentrok. 

Di zaman
penjajahan dulu, Inggris memang mempekerjakan Gurkha. Sebagai tentara Inggris
di Hongkong.

Pasukan
Gurkha itu sudah dibubarkan. Sudah tidak ada lagi. Sejak Inggris menyerahkan
Hongkong ke Tiongkok. Tahun 1997.

Istilah
pasukan Gurkha terkenal di Indonesia. Terutama di sekitar Pertempuran 10
Nopember 1945. Yang lantas menjadi Hari Pahlawan itu.

Waktu itu
Inggris kembali ke Indonesia. Setelah Jepang kalah di Perang Dunia ke-2 dan
meninggalkan Indonesia. Inggris merasa berhak menguasai kembali
Indonesia. 

Pasukan
Inggris tiba di Tanjung Perak Surabaya. Sebagian besar mereka adalah tentara
Gurkha. Yakni tentara berkebangsaan Nepal. 

Orang
Indonesia, umumnya mengira Gurkha itu berasal dari India. Wajah mereka memang
sangat mirip. Nepal memang satu rumpun dengan India. Letaknya pun berbatasan
dengan India.

Sekarang pun
masih banyak eks Gurkha yang tinggal di Hongkong. Beserta keluarga mereka.
Menurut sensus 2011, masih ada 25.000 warga Nepal tinggal di Hongkong. Menjadi
warga negara Hongkong.

Mereka
itulah yang akan direkrut menjadi petugas keamanan MTR. 

Menghadapi
demo yang tidak kunjung berakhir itu CEO MTR nekad. “Kami akan merekrut
sekitar 200 Gurkha,” kata Jacob Jam, sang CEO.

Mengapa?

“Mereka
kan tidak mengerti bahasa Kanton. Tidak mudah terpancing,” ujar Jacob.

Makian para
demonstran itu umumnya memang dalam bahasa Kanton. Kata ‘anjing’, ‘babi’,
‘preman’ sering ditujukan pada mereka. Petugas keamanan MTR sering 
terpancing. Lalu melawan. Akibatnya kian rusuh.

Orang Gurkha
tidak akan tersinggung dimaki-maki sebagai anjing –kan tidak mengerti kata
anjing dalam bahasa Kanton. 

Tentara Gurkha
juga dianggap lebih tegas. Mereka tidak punya banyak teman atau kenalan. Siapa
pun yang melanggar bisa ditindak. 

Orang
Hongkong juga bisa lebih segan. Terbukti dulu, penjajah Inggris sukses menjaga
keamanan Hongkong dengan menggunakan Gurkha.

Namun Gurkha
Hongkong umumnya sudah pensiun. Yang masih muda di tahun 1997 pun kini sudah
dalam usia pensiun.

Tapi Jacob
akan tetap mempekerjakan mereka. “Demonstran itu tidak hanya merusak.
Mereka juga banyak yang loncat portal. Menghindari pembayaran,” ujar
Jacob.

Tanggal 17
September ini demo di Hongkong genap 100 hari. Kian brutal pula.

Sampai pekan
lalu sudah 1.453 yang ditahan. Termasuk 280 wanita.

Polisi sudah
menggunakan 2.414 tabung gas airmata. Tapi demo belum surut.

Memasuki
hari ke 100 ini memang ada tren baru: demo nyanyi. Lagunya Glory of Hongkong
–lagu perjuangan para demonstran. Tempat nyanyinya di mal. Biasanya
dilanjutkan dengan lagu-lagu gereja. Inti dari gerakan ini memang para aktivis
gereja juga.

Aktivis pro
Tiongkok ganti menyanyi. Lagu kebangsaan Tiongkok. Di mal yang sama. Sambil
mengibarkan bendera RRT.

Saling adu
lagu ini hanya tiga hari. Setelah itu justru saling adu fisik. Antara yang pro
demonstran dan yang anti. Padahal asyik juga kalau perlawanan ini hanya sebatas
saling serang dalam bentuk lagu.

Joshua Wong
sendiri sudah sampai di Washington DC. Tokoh demo berumur 22 tahun itu sudah
menemui anggota Kongres. Yang merancang usulan UU demokrasi dan kebebasan di
Hongkong. Yang usulan itu sudah ditandatangani 40 anggota Kongres dan Senat.

“Itu
hanya menegaskan bahwa memang ada campur tangan asing di Hongkong”. Begitu
penilaian juru bicara Kemlu Tiongkok.

Lebih dari
itu, Tiongkok juga mengingatkan “Tidak mungkin Barat bisa menolong kalian,
karena mereka sudah repot dengan diri sendiri”.

Intinya:
belum ada titik terang di Hongkong. 

Tiongkok
belum mau turun tangan –menjaga komitmen perjanjian penyerahan Hongkong tahun
1997.

Pemerintah
Hongkong tidak menunjukkan tanda-tanda tunduk pada tekanan demonstran. 

Para pendemo
masih berpegang pada lima tuntutan mereka. 

Yang demo
tidak mau mendengar pemerintah. 

Pemerintah
tidak mau mendengar demo. 

Saya
teringat ucapan tokoh masa lalu: banyak orang mau mendengar. Tapi mendengar hanya
untuk menjawab, bukan mendengar untuk memahami.(Dahlan Iskan)