Melihat Data Perbedaan Lembaga Survei Jelang Pemilu

363
MENGAPA BEDA: Diskusi Publik tentang perbedaan hasil survei antarlembaga survei, di Jakarta, Selasa (26/3(. (FIN)

RADARPRIANGAN.COM, JAKARTA – Banyaknya lembaga survei mengumumkan hasil penelitian membuat polemik di kalangan peneliti. Independensi sebuah lembaga survey kerap dipertanyakan. Masyarakat sering kali dibuat ragu, karena hasil antara lembaga survey sering berbeda. Masyarakat menduga adanya keberpihakan kepada salah satu pasangan calon.

Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA Ikram Masloman mengatakan, dalam mengkaji survei harus dibandingkan dengan lembaga survei lainnya. Menurut Ikram, kenapa data berbeda, ada yang sekali dilakukan. Ada juga yang dilakukan berkali-kali untuk melihat trend. Jadi data survei hasil bulan Maret hanya bisa untuk membaca dinamika pada bulan Maret saja.

Karena memang dinamika politik cepet sekali berubah. Contohnya di Jawa Barat, soal meningkatnya suara Ahmad Syaikhu dan Sudrajat yang menyalip ke posisi dua. Artinya ada perubahan yang cepat. Lalu ada kendala di lapangan . Misalnya saat ditanya, responden tidak mengatakan yang sesungguhnya saat ditanya soal pilihannya, beber Ikram di Jakarta, Selasa (26/3).

Jadi yang membuat hasil survei berbeda itu, Denny menjelaskan saat melakukan survei ditemukan sampling eror dan not sampling eror. Dan survei itu hanya memotret saat survei itu dilakukan. Lalu lembaga survei tersebut tak bisa memprediksi golput.

Jadi bisa saja saat ditanya berbeda tapi pada saat hari H tak memilih. Jadi golput di pemilih 01 dan 02 itu belum bisa terlihat di survei . Tergantung militansi, terangnya.

Di tempat sama, Pakar Psikometri, Riset dan Statistik Prof. Yahya Umar justru mengatakan, jika hasil survei harus berbeda-beda. Menurutnya, lembaga survei melakukan penelitian dengan samplenya sama hasilnya bisa berbeda.

“Error itu bergantung pada besaran sample. Minimal semua provinsi harus terwakili dan di masing-masing provinsi itu ada random sampling error,” tuturnya

“Kalau ada dua lembaga survei dengan metode sama, samplingnya beda, tapi margin errornya sama itu yg harus dipertanyakan. Sampling error dan non sampling error itu ada dua. Samping error ; bias dan variable,” terangnya kembali.

Menurut Yahya, hampir semua lembaga survei laporkan error hanya random sampling error. Padahal non random error di dalam sampling ada biasnya. Dimana ada lembaga survei yang menyampaikan biasnya seberapa besar dan dibuat rumus untuk melakukan koreksi. Benar atau tidaknya hasil survei bisa dicari indikator-indikatornya.

Mengapa hasil survei berbeda? Ya harus berbeda. Cuma kalau sudah dipublish, seakan-akan semua data sudah comparable, tegasnya.

Sementara itu, Direktur Ekskutif Indo Survey Strategy Hendrasmo menambahkan, jika riset itu kualitatif dan dilakukan pihak lain, dan direplikasi maka hasilnya pasti sedikit sama.

“Karena lembaga riset punya disklaimer bahwa surveinya dilakukan kapan dan siapa yang disurvei,” singkatnya.

Di tempat sama, Chief Ekeskutif Officer Alvara Research Center Hasanudin Ali mengatakan, bahwa ada satu cara untuk meneliti apakah sebuah angka dari survei itu kredibel atau tidak. Trik yang bisa dilakukan adalah mengecek profil demografi responden. Apakah komposisi gender, usia, ekonomi status sesuai dengan komposisi populasi penduduk di Indonesia. Mulai dari agama, tingkat pendidikan, sampai tingkat ekonomi. Ketika komposisi demografi bergeser,dari populasi, maka hasilnya pasti akan berbeda dengan populasi.

Ia mencontohkan, jika komposisi tingkat pendidikan mayoritas masyarakat SMA ke bawah, tapi lembaga survei pakai data pendidikan mayoritas adalah sarjana maka hasilnya akan berbeda. Area sampling juga memungkinkan hasilnya berbeda.

Kalau kita ingin minimalisir non sampling error, maka harus percayai lembaga yang sudah punya jam terbang tinggi karena dia pasti punya pakemnya. Beda dengan lembaga survei setahun belakangan dibuat, pasti dari sisi manajemen reaserchnya akan susah, tuturnya.

Publik banyak heboh melihat angka survei. Harusnya tidak perlu banyak tafsir berlebihan. Mengkapitalisasi hasil survei adalah wajar dilakukan oleh team sukses. Tapi bagi lembaga survey, pasti tunduk pada metodologi dan data.

Pengamat Politik Adi Prayitno menegaskan, lembaga survey tidak boleh tertekan dan terburu-buru. Jika salah mengambil data sampling, maka rusaklah kredibilitas lembaga survei. Kata Adi, responden menjadi ruh dan nyawa utk mengukur keakuratan hasil survei.

Maka butuh kejujuran semua lembaga survei menyampaikan siapa respondennya, tandasnya. (khf/fin)