Masalah Kesejahteraan dan Status Guru Honorer Tak Kunjung Usai

237
Cecep Kurniadi

 

GARUT – Kesejahteraan guru dan status pengakuan Guru honorer oleh pihak Pemerintah menjadi persoalan yang tak kunjung usai. Forum Aliansi Guru dan Karyawan (Fagar) Kabupaten Garut, berharap, pemerintah daerah maupun pusat memperhatikan nasib guru yang statusnya honorer usia di atas 35 tahun untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Khusunya untuk honorer Kategori 2 yang usianya 35 tahun ke atas harus ada skala prioritas pengangkatan CPNS,” kata Ketua Fagar Kabupaten Garut, Cecep Kurniadi usai menghadiri peringatan Hari Guru di Pendopo, Garut, Senin (26/11/2018).

Menurutnya, jumlah guru honorer di Kabupaten Garut mencapai 4394 orang, 3000 diantaranya merupakan honorer diatas usia 35 tahun.

Pengakuan guru honorer diatas 35 tahun terkendala peraturan pemerintah, diantaranya tidak bisa mengikuti tes penerimaan CPNS.

Oleh karena itu, kendala peraturan pemerintah itu harus menjadi pengecualian bagi guru honorer yang berusia di atas 35 tahun untuk dapat diangkat statusnya menjadi PNS, termasuk dalam seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).

Belum pastinya sikap pemerintah terhadap honorer, maka pihaknya akan terus melakukan perjuangan dalam menyampaikan aspirasi mereka.

Cecep mengatakan, selama ini pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Garut, provinsi, pusat bahkan ke Komisi 2 DPR RI.

“Peraturan pemerintah tentang batasan usia itu tidak memihak melainkan telah merugikan para honorer yang sudah bertahun-tahun mengabdi. Jadi sangat merugikan honorer yang usianya 35 tahun ke atas,” katanya.

Lanjutnya, pengangkatan honorer dengan program perjanjian kerja (P3K) yang akan diterapkan Pemerintah pusat maupun daerah belum tentu memberi solusi. Hal tersebut akan tetap menjadi kendala honorer yang sudah berusia tua karena harus mengikuti tes seleksi dengan honorer usia muda.

“Usia akan mempengaruhi, dari segi pengalaman betul, tapi segi materi-materi sudah dikuasai oleh usia yang masih muda,” katanya.

Karena muncul P3K tetap dites, dan akan bersaing dengan usia 19 sampai 58 tahun. Saya yakin yang usia 50 tahun berpotensi kalah dengan yang muda secara teoritis, tapi kalau pengalaman yang tua tidak kalah. Tapi kan yang menjadi patokan itu tes secara teoritisnya. Makanya kita ingin yang usia diatas 35 tahun ini ada skala prioritas,” katanya. (erf)