KPK: PR Jokowi Bukan Hanya Novel

246
Febri Diansyah

RadarPriangan.com, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berharap pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan dapat segera terungkap dalam kurun tiga bulan ke depan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya telah memberikan target kepada tim teknis Polri selama tiga bulan untuk mengungkap pelaku.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menilai, belum terungkapnya identitas pelaku hingga 820 hari lebih pasca peristiwa terjadi merupakan waktu yang lama. “Meskipun KPK kecewa ya dengan hasil tim pencari fakta yang menyampaikan hasilnya kemarin, kita tidak boleh berhenti berharap upaya untuk pencarian itu perlu didukung semua pihak,” ujar Febri di Kantor KPK, Jakarta, Jumat (19/7).

Febri mengatakan, KPK tidak mempermasalahkan tim khusus untuk dibentuk oleh siapapun. Menurut dia, yang terpenting adalah pelaku dapat ditemukan. Namun, kata dia, KPK menghargai setiap tindakan yang diambil Jokowi untuk berusaha mengungkap aktor intelektual maupun eksekutor penyiram air keras.

“Fokus KPK bukan pada pilihan kebijakannya, tapi kami berharap kita berupaya melakukan pencarian pelaku lapangan dan pelaku yang menyuruh ataupun aktor intelektual serangan itu,” ucapnya.

Febri menambahkan, sebetulnya masih banyak pula pekerjaan rumah lain terkait aksi penyerangan terhadap pegawai KPK yang belum terungkap. Ia khawatir, dengan belum terungkapnya kasus-kasus tersebut, dapat memunculkan persepsi di kalangan publik bahwa teror terhadap pelaku tidak akan selesai ditangani.

Sementara itu, Anggota Tim Advokasi Novel Baswedan, Alghiffari Aqsa memandang, seharusnya Jokowi tidak hanya memberikan tenggat waktu bagi tim teknis untuk bekerja mengungkap pelaku penyiraman air keras kliennya. Namun, juga tegas menyatakan akan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

Karena, menurutnya, kasus ini tidak akan bisa terungkap lantaran diduga ada keterlibatan anggota kepolisian. “Jika kasus ini kembali diusut Polri sama dengan mengulur waktu dan membuat kasus ini kecil kemungkinan diungkap,” ucap Alghiffari.

Alghiffari menyatakan, berdasarkan surat tugas yang dikeluarkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Tim Pencari Fakta (TPF) ditugaskan tidak hanya mengungkap pelaku. Namun, juga diperintahkan untuk melakukan penyidikan. Sehingga pembentukan tim teknis dinilainya tidak perlu.

“Jika menambah waktu tiga bulan lagi maka akan memberi peluang pelaku untuk menghilangkan barang bukti, kaburnya pelaku atau membuat alibi baru bahkan mengulangi perbuatannya lagi,” tandasnya.

Jika merujuk Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 12 Tahun 2009 jo Perkap Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan, kata dia, peristiwa yang menimpa Novel Baswedan bukanlah termasuk ke dalam indikator kasus yang sulit diungkap. “Apalagi jika merujuk laporan penyelidikan Komnas HAM maupun TPF sendiri terdapat berbagai alat bukti seperti 74 Saksi, 38 CCTV, 114 toko bahan kimia diperiksa,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi memberikan tenggat waktu tiga bulan bagi tim teknis Polri untuk menjalankan hasil rekomendasi TPF kasus Novel Baswedan. Setelahnya, Jokowi akan melakukan evaluasi untuk menentukan langkah lebih lanjut. (riz/fin/tgr)