Kopi Garut “Pelaggio” ini Diklaim sebagai Varietas Tertua, Harganya juga Wah…

470
Rektor Uniga Dr Ir H Abdusy Syakur MEng, berbincang bersama pegiat kopi dan media usai diskusi tentang Kopi Garut.

RadarPriangan.com, GARUT – Kopi priangan menjadi salah satu varietas andalan warga Kampung Pelag, Desa Sukalilah, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, dalam mengais rezeki dan meningkatkan taraf ekonomi mereka. Varietas kopi yang dinamai Pelaggio itu cukup diminati para pencinta kopi daerah maupun luar daerah.

Kepala Desa Sukarillah Asep Haris mengatakan, kopi Java Preanger di Kampung Pelag diklaim sebagai kopi jenis tertua yang pertama kali dibawa Belanda sejak 1662 silam.

Priangan menjadi daerah pertama atau project pilot Belanda dalam upaya budidaya kopi di Nusantara, melalui Prianger Stelsel (tanam paksa di wilayah Priangan). Salah satu daerah penanaman kopi di zaman Preanger Stelsel tersebut adalah wilayah Kampung Pelag saat ini.

Menurutnya, varietas kopi prianger masih di wilayah Priangan (preanger), jumlahnya ada 17 jenis.

“Para petani di sini sudah mulai pada tahap packing dan memasarkan, secara bertahap kita yakin produk Kopi Pelaggio (kopi asal Kampung Pelag, red) bisa diterima khalayak banyak, saat ini pun sudah cukup digandrungi oleh beberapa kalangan,” katanya, Jumat lalu (3/5) di Kampus Uniga.

Diskusi tentang kopi Garut di Universitas Garut, Jumat (3/5).

Haris menyebutkan, jenis kopi Java Preanger yang ditanam di Kampung Pelag terbagi dalam tiga kategori yakni jagur (tinggi) semi KT (sedang) dan KT (pendek). Setidaknya, tanaman yang baru bisa dipanen yakni yang sudah berusia 5 tahun lebih, semakin tua pohon kopi tersebut akan semakin produktif.

“Sebelum tahu cara pengolahannya, kopi Pelag dalam bentuk ceri hanya dihargai Rp7 ribu per kilogram, sekarang green beansnya bisa Rp500 ribu sampai Rp600 ribu, bahkan untuj peaberry (biji tunggal) bisa menembus Rp1,5 juta per kilogram,” tambahnya.

Haris juga mengklaim, kopi Java Preanger di Kampung Pelag juga memiliki tingkat susut yang rendah.

Para petani serta pemerintah desa menjalin kerja sama dengan Universitas Garut dalam menciptakan kualitas hasil tani serta konsep manajemen usaha di sana.

Rektor Universitas Garut (Uniga) Dr Ir H Abdusy Syakur mengatakan, produk kopi asal Kampung Pelag ini bisa diselaraskan dengan banyaknya potensi alam yang bisa dikonversi menjadi daerah wisata, sehingga nantinya desa maupun kampung di sana menjadi daerah wisata.

Saat ini, kata Syakur, di sana ada padang Buffalo Hill, itu memiliki daerah sangat indah namun itu masuk kawasan cagar alam, kalau itu bisa dijadikan destinasi wisata (dengan perubahan regulasi dari pihak berwenang, red) akan lebih menarik menarik.

“Tidak hanya kopi, daerahnya pun saya kira bisa semakin diminati banyak pihak,” kata Syakur didampingi Perwakilan dari PT Indonesia Power UBP Kamojang Supervisor Senior & Humas Heri Hermawan. (erf)