Koordinasi Mulus, Logistik Sampai

232
Penduduk mulai membersihkan barang-barang, kemarin (29/4) setelah banjir menerjang Bengkulu beberapa hari lalu. Warga tetap meningkatkan kewaspadaan karena intensitas banjir mengancam permukiman warga. (DIVA MARHA/AFP)

DAS Bengkulu Kritis, Siti Nurbaya Tawarkan Solusi

RadarPriangan.com, JAKARTA – Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengirimkan 60 ton bantuan logistik yang diberangkatkan dengan truk dari gudang Humanity Distribution Center ACT di Gunung Sindur, Bogor, untuk para korban terdampak banjir Bengkulu berjalan mulus.

Direktur Global Humanity Response ACT Bambang Triyono mengatakan koordinasi lintas lini dengan tim di wilayah Bengkulu baru saja tuntas. “Dengan demikian, ke depannya kita akan meningkatkan volume aksi ini,” terangnya, Senin (29/4).

Bantuan logistik yang dikirimkan di antaranya sembako, selimut, popok bayi, susu, biskuit, termasuk juga pakaian untuk korban banjir Bengkulu.

ACT mendirikan posko kemanusiaan dan dapur umum yang tersebar di lima titik terdampak banjir maupun longsor. Bantuan diyakini semakin bertambah dengan pemberangkatan truk kemanusiaan dan armada bantuan yang dikirimkan, Senin (29/4).

Bantuan diberangkatkan pada Senin (29/4) sore ini bersamaan dengan pengiriman tiga jenis armada, yakni tiga unit mobil rescue, satu unit Humanity Food Truck, dan satu unit ambulans pre-hospital untuk fase darurat.

Menurut Bambang, aktivitas tim ACT di Bengkulu pada Senin lebih difokuskan kepada bantuan pangan siap santap dan distribusi logistik awal kepada korban. Namun ke depannya, Bambang menuturkan diperlukan kembali penguatan posko-posko di Bengkulu dan penambahan posko lain mengingat kondisi lokasi saat ini.

Hari ketiga sejak banjir melanda, Jumat (28/4), jumlah pengungsian masih masif meski banjir perlahan mulai surut. Apra Julianda Poetra, relawan yang tergabung dalam Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Bengkulu mengatakan warga terdampak banjir juga ada yang bertahan di sekitar rumah dengan mendirikan tenda darurat maupun berteduh di posko.

“Pengungsian masih masif. Banjir di wilayah kota mulai surut, tetapi beberapa kabupaten masih terendam. Jalan dan jembatan juga banyak yang putus sehingga bantuan dan tim rescue belum bisa masuk dan menyebabkan akses kami menjadi terbatas juga,” tutur Apra.

Sementara itu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar telah menginstruksikan Direktorat Jenderal (Dirjen) Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (DASL) untuk melakukan analisis ilmiah penyebab banjir Cikeas, banjir Bogor dan Bengkulu. “Saya sudah minta Dirjen DASL untuk melakukan analisis scientific untuk banjir Cikeas, kenapa restoran apung sampai terendam, juga banjir Bogor, juga Bengkulu,” kata Nurbaya.

Bencana banjir di Bengkulu terjadi pada wilayah daerah aliran sungai (DAS) bagian hilir, yaitu Sub-DAS Bengkulu Hilir yang memiliki luas 23.606, 340 Ha di daerah terdampak, yakni Kelurahan Beringin Raya dan sekitarnya, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu, Kelurahan Sawah Lebar Baru, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu, Kelurahan semarang dan sekitarnya, Kecamatan Sungai Serut dan Kota Bengkulu.

KLHK, katanya, telah melakukan kajian dan menyatakan bahwa secara kronologis banjir di Bengkulu, terjadi saat hujan dengan intensitas lebat atau ekstrim selama tiga hari berturut-turut dengan rata-rata curah hujan kurang lebih 126,575 mm per hari pada bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengkulu dan rata-rata curah hujan 245,667 mm per hari pada bagian hulu DAS Bengkulu.

Tipe banjir, katanya, merupakan kombinasi banjir genangan yang rutin terjadi dengan banjir rob. Siti mengatakan curah hujan tinggi atau ekstrim sebesar kurang lebih 186,1185 mm per hari menyebabkan debit aliran tinggi sehingga tejadi luapan karena debit melebihi besarnya kapasitas pengaliran.

Daerah terdampak banjir memiliki topografi yang relatif datar dan terpengaruh sistem pantai, sehingga dataran alluvio-marine. Kejadian hujan yang berlangsung cukup lama lebih dari enam jam menyebabkan terjadinya banjir genangan.

Bentuk daerah tangkapan air adalah segitiga merupakan bentuk yang paling rawan terjadi banjir limpasan karena hujan yang jatuh di berbagai titik langsung menuju dan terkonsentrasi pada titik outlet dengan jarak yang pendek, sehingga waktu konsentrasi sangat pendek. Hal ini yang mengakibatkan konsentrasi air dengan volume besar cepat datang, sehingga debit banjir sangat besar.

KLHK menawarkan solusi, antara lain optimalisasi kapasitas tampung sungai melalui pengerukan, transformasi budaya menanami lahan dengan satu jenis tanaman ke sistem agroforestri, kampanye dan kegiatan sungai bersih.

Daerah ini masih berpotensi untuk terjadinya banjir secara rutin pada musim hujan. Mengingat kondisi peruntukan lahan yang secara umum sudah merupakan areal pemukiman, maka salah satu solusi atau pemecahan masalah yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki sistem drainase dan penataan kota yang ramah lingkungan.Untuk jangka panjang perlu dilakukan kegiatan rehabilitasi lahan dengan penerapan bangunan konservasi tanah, seperti dam penahan dan sumur resapan.

Seperti diketahui sejak Jumat (26/4) malam, hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu terendam banjir.Banjir yang diperkirakan terjadi karena intensitas hujan yang tinggi selama dua hari berturut-turut itu menyebabkan sejumlah jalur transportasi terputus, baik antar-kabupaten maupun antar-provinsi yang menghubungkan Bengkulu dengan Sumatera Selatan serta Bengkulu dengan Lampung. (rls/ful/fin)