Konsep Pasar Wisata Jauh dari Harapan

448
Pasar Wisata Samarang yang masih menyisakan sejumlah persoalan bagi yang dianggap merugikan para pedagang lama. (Dok. RADAR GARUT)

Dianggap Bermasalah, Pedagang Tuntut Pemkab Benahi Pasar Samarang

RadarPriangan.com, GARUT – Revitalisasi Pasar Samarang nampaknya masih menyisakan masalah. Tidak hanya pada bangunan, melainkan pada penempatan para pedagang dan fungsinya. Karena itu, beberapa pedagang di sana memilih untuk berhenti beroperasi.

“Kesimpulannya, masih jauh dari harapan para pedagang. Persoalannya sekarang ini banyak pedagang yang berhenti berjualan, gara-gara penempatan lokasi kios yang tidak benar,” kata juru bicara pedagang Pasar Samarang Tudi Sopian Hamidi, usai audensi dengan Bupati Garut Rudi Gunawan, Jumat (17/5).

Tak cuma itu, ungkap Tufi, di sana juga ada pembokongan nomor kios.

“Kan biasanya (penentuan kios) itu diundi, ini tidak, tapi dipaksakan sudah dikondisikan. Padahal kata Pak Bupati yang tadinya di depan, harus di depan lagi, tapi nyatanya tidak. Tadi kita konfirmasi ke Pak bupati, beliau menyatakan iya, makanya Pak Bupati tadi sangat marah,” beber Tudi di Gedung Pamengkang.

Tudi juga mengatakan, banyak pedagang baru yang tadinya bukan pedagang di Pasar Samarang yang sebelum direnovasi. Bahkan mereka menempati kios yang lokasinya strategis.

“Jadi dalam penempatannya itu ada kesewenang-wenangan dari petugas. Mereka yang tadinya menempati kios di depan, hari ini jadi di belakang. Bahkan eksistingnya, yang tadinya bukan pedagang, mereka beli kios ke petugas, pedagang lama lah yang dirugikan,” imbuhnya.

Karena itu, pihaknya akan terus mengawal kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah, dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Garut, termasuk pengundian ulang untuk penempatan kios pedagang.

“Kami akan kawal terus komitmen Kabid Pasar yang sudah menentukan rute, sampai pengembalian prioritas dari yang tidak berhak, diberikan kepada yang punya haknya, termasuk pengundian ulang,” tegasnya.

Bupati Garut Rudy Gunawan, mengakui adanya kebijakan Disperindag yang merugikan para pedagang lama, sehingga akan dibuat kebijakan baru.

“Kita tidak mau ada kebijakan lama yang merugikan yang lain. Kita tampung aspirasi mereka, karena mau menempati kios, kiosnya ditempati orang lain. Mereka minta ada layout yang baru, tidak ada gang buntu. Kita akan sempurnakan lagi lah kondisi pasarnya, karena kan harus ada pemeliharaan,” katanya.

Diakui Rudy, fungsi pasar yang menelan anggaran Rp27 miliar itu, fungsinya tidak sesuai konsep awal sebagai pasar wisata. Konsep pasar wisatanya tidak jalan, karena di bagian bawah itu digunakan para pedagang kaki lima yang baru datang. Persoalannya selalu itu lah,” sesalnya.

Menurutnya, untuk penyempurnaan pasar tradisional yang kini sudah menjelma jadi pasar modern itu, pemerintah akan menganggarkan dananya dari APBD Perubahan. (erf)