Kondisi yang Paling Sulit Dihadapi Uniga dengan Belajar Daring

15

RadarPriangan.com, GARUT – Pandemi covid-19 benar-benar mengubah total tatanan kehidupan. Tak terkecuali dunia pendidikan pun dipaksa harus mengubah metode belajar dari yang awalnya tatap muka menjadi sistem online atau daring (dalam jaringan).

Rektor Universitas Garut (Uniga) Dr. Ir. H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng. menjelaskan, dunia pendidikan benar-benar kaget dengan perubahan sistem belajar ini. Tak terkecuali Uniga juga di masa awal cukup dikagetkan dan belum memiliki persiapan yang cukup untuk menghadapi pandemi.

Walaupun di masa awal kemunculan sekitar bulan Januari, virus korona belum begitu berdampak terhadap Kabupaten Garut, sehingga sistem belajar waktu itu masih normal. Namun ketika pemerintah mengumumkan pandemi nasional dan kasus Garut mulai muncul, maka di situ pendidikan benar-benar dikagetkan.

Yang membuat bingung kata Syakur, dengan sistem daring ini banyak hal yang harus dipersiapkan. Mulai dari infrastruktur jarigan internet, kemudia bagaimana sistem belajar dan ujian secara daring yang efektif. Kemudian banyak juga komplain dari mahasiswa dalam hal biaya kuliah.

” Masalah infrastruktur jaringan internet seperti apa, kemudian masalah biaya ini yang pertama kali kita langsung mendapatkan keluhan dari mahasiswa dan fakultas,” ujarnya saat mengikuti Talk Show bertajuk Peran Elemen Masyarakat dalam Penanggulangan Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan Radar Garut belum lama ini.

Dalam hal ini lanjut Syakur, yang paling meyulitkan adalah mengatur sistem ujian secara daring. Karena banyak hal yang harus dipersiapkan dan yang paling sulit adalah dalam pengawasan.

Karena tidak bisa dipastikan apakah mahasiswa yang mengerjakan ujian itu benar-benar secara individu atau tidak. ” Yang sulit kita memastikan bagaimana mahasiswa mengerjakannya secara individu, itu susah,” imbuhnya.

Belum lagi dalam menghadapi Sidang skripsi dan Wisuda. Ini pula yang sampai saat ini pihaknya pikirkan agar untuk dua acara besar ini kalau bisa dilakukan secara langsung. Karena Syakur menilai, untuk wisuda ini rasanya tidak memuaskan jika dilakukan secara daring.

Oleh karena itu kata Syakur, opsinya adalah dengan menunda sidang dan wisuda. Mengingat sampai saat ini kasus di Kabupaten Garut belum menunjukkan penurunan dan tidak bisa dilaksanakan secara langsung. Mudah-mudahan harapannya kasus korona di Garut bisa melandai dan saat itu bisa dilaksanakan wisuda secara langsung.

Walaupun demikian, Syakur juga mengambil hikmah dari adanya pandemi. Karena mau tidak mau, memang ada saatnya sistem belajar itu tidak harus selalu dilaksanakan secara langsung. Oleh karena itu pandemi juga memaksa agar kita terbiasa melaksanakan belajar secara daring. (RP)