Kivlan Zein Dibui Karena Pasok Senjata Ilegal?

406
Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen TNI (Purn), Kivlan Zein didampingi pengacaranya menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka kasus hoaks dan makar di Bareskrim, Mabes Polri, Jl. Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (29/5/2019). (FIN)

RadarPriangan.com, JAKARTA – Mayor Jenderal (Purn) TNI Kivlan Zein ditetapkan sebagai tersangka kepemilikan senjata api ilegal. Namun, herannya tak ada senjata api ilegal yang dimiliki Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat tersebut. Kivlan kabarnya dijadikan tersangka karena kepemilikan senjata sopirnya (Armi). Apakah Kivlan dianggap sebagai pemasok senjata Armi, salah satu tersangka kasus kerusuhan 22 Mei?

Setelah menjalani proses pemeriksaan di Polda Metro Jaya, sejak Rabu (29/5), hingga Kamis (30/5), Kivlan Zein resmi ditahan di Rutan Guntur, Jakarta Selatan. Sebelumnya Kivlan ditetapkan sebagai tersangka dugaan kepemilikan senjata api ilegal.

Berdasarkan keterangan Suta Widhya, kuasa hukum Kivlan Zein, penahanan terhadap kliennya lantaran dianggap terlibat kepemilikan senjata api ilegal. Kliennya diduga mempunyai hubungan dengan tersangka kerusuhan yang memiliki senjata api atas nama Azwarmi alias Armi.

Suta mengatakan dasar penetapannya klienya sebagai tersangka dan harus ditahan selama 20 hari ke depan yang diputuskan penyidik sangat tidak kuat bukti ataupun alasan. Meski demikian, kliennya menyatakan siap mengikuti prosedur hukum yang berlaku, dan tak masalah jika ditahan.

“Sangat tidak beralasan sebetulnya penyidik memutuskan Pak Kivlan menjadi tersangka dan harus ditahan. Karena senjata itu milik orang lain kan. Senjata yang diketemukan oleh orang lain dianggap ada hubungan, kan aneh,” kata Suta kepada awak media di Polda Metro Jaya, Kamis (30/5).

“Tapi, tadi Pak Kivlan menyatakan siap mengikuti prosedur hukum yang berlaku. Dia seorang patriot. Dan seorang patriot tidak akan mundur kecuali kita akan mengupayakan untuk sebuah upaya hukum di luar dari ini nanti kita lihat,” sambung Suta.

Suta mengatakan langkah penyidik melakukan penahanan sangat tak beralasan. Hanya saja, pihaknya atau kliennya sendiri pun menyatakan siap untuk ikuti prosedur dulu.

“Intinya, kita ikuti proses dulu walau sebetulnya bukti-bukti yang kuat itu tidak ada. Dan beliau tidak pernah memegang senjata setelah pensiun. Beliau seorang akademisi dosen di berbagai tempat, dia pembicara di berbagai tempat,” tegas Suta.

Kuasa hukum Kivlan Zein lainnya, Djuju Purwanto menolak kliennya dikaitkan dengan kepemilikan senjata api milik tersangka perusuh atas nama Azwarmi alias Armi. Meski Armi merupakan bekas supir pribadi kliennya. Djuju menyebut Armi pernah menceritakan memiliki senjata, tapi tak ada hubungannya dengan kliennya.

“Bukti penyidik tidak kuat jika dalihnya senjata api milik drivernya itu digunakan untuk menetapkan sebagai tersangka. Pak Kivlan itu hanya pernah diberitahu drivernya, kalau dia (Armi) punya senjata dan menginformasikan membawa itu. Tapi saat itu, Pak Kivlan langsung mengatakan, ‘Kamu harus punya izinnya’,” ungkap Djuju.

Menurut Djuju, saran Kivlan kepada Armi dilandasi oleh usaha Armi di luar sopir yang perlu memiliki izin kepemilikan senjata api. Alasannya, untuk mengikuti aturan hukum yang berlaku. Ini merupakan salah satu bukti kliennya orang yang disiplin dan taat hukum.

“Pak Kivlan pernah menyarankan, kalau tidak punya izin, kamu harus meminta izin secara resmi tentang penggunaan senjata ini, kenapa? Karena beliau ini si driver ini (Armi) kan punya suatu usaha pengamanan, jasa pengamanan. Jadi mungkin memerlukan senjata,” tutur Djuju.

Tak sampai di sana, kata Djuju, pihaknya pun membantah jika kliennya itu minta dicarikan senjata oleh Armi. Lalu dikaitkan dengan aksi pembunuhan terhadap empat tokoh nasional, ataupun kerusuhan 21-22 Mei. Djuju mengakui, kliennya memang pernah cerita ingin memiliki senjata api, hanya saja hendak digunakan untuk berburu babi di sekitar rumahnya.

“Cerita ini pernah disampaikan di rumah Pak Kivlan di Gunung Sindur, ya? Di sana banyak babi. Di rumah Pak Kivlan itu, (banyak) babi liar. Jadi, Pak Kivlan pernah ngomong sama sopirnya itu (Armi), perlu senjata untuk buru babi. Dan perlu diketahui, senjata itu sampai sekarang, tidak pernah ada. Jadi, senjata itu sampai sekarang belum ada, sehingga pak Kivlan sama sekali tidak memiliki senjata api apapun yang dipegangnya sejak pensiun,” ucapnya.

Dengan demikian, soal penetapan sebagai tersangka kepemilikan senjata api dengan sangkaan UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 sama sekali tidak ada bukti kuat. Sebab unsur-unsurnya tidak dimiliki kliennya.

“Jadi, Undang-Undang Darurat (Tahun) 51 menyebut, penguasaan, penggunaan, memiliki gitu. Tapi unsur-unsur itu tidak dimiliki Pak Kivlan. Tidak ada bukti apa pun dan pihak penyidik mengetahui betul itu. Penguasaan fisik senjata itu tak ada di Pak Kivlan,” terangnya.

“Ya jadi memang sudah tersangka sesuai UU Darurat tahun 51. Tapi, sampai saat ini, di BAP tidak ada bukti Pak Kivlan memiliki, menguasai atau memakai senjata api satupun. Beliau tidak memiliki atau menguasai satupun. Hanya kebijakan dari polisi tetap menahan 20 hari ke depan di Rutan Guntur,” tambahnya.

Adapun hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari kepolisian atas kasus tersebut. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono maupun Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi tidak memberikan jawaban.

Sementara ssbelumnya, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Mohammad Iqbal menyebut sudah ada enam tersangka yang dijerat terkait kasus yang serupa dengan Kivlan zein Keenamnya adalah HK alias Iwan, AZ, IF, TJ, AD, dan AF alias Fifi.

Para tersangka itu diduga memiliki senjata api ilegal yang digunakan untuk menyasar empat tokoh nasional. Dan hingga kimi, penyidik juga masih mendalami perihal hubungan Kivlan dengan enam orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka tersebut. (Mhf/gw/fin)