Kisah Seorang Janda Miskin di Garut dengan Segudang Cita-cita Anaknya

130
Rohaeni tinggal di rumah dengan kondisi nyaris ambruk ( foto Mia Helmiyani)

SEBUAH rumah yang sangat sederhana, terlihat sudah tua tanpa jendela di Kampung Cihaur, Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut.


Rumah dengan dinding bilik itu tampak berwarna hitam efek dari asap kayu bakar di perapian. Tampak seorang perempuan paruh baya dengan uban sudah memenuhi seluruh rambutnya.

Ruangan yang tidak besar membuat penghuninya terpaksa berdesak-desakan tanpa kursi dan meja. Inilah rumah Rohaeni perempuan yang sudah 13 tahun menjanda. Di rumah inilah Ia berjuang membesarkan keempat anaknya sendirian.

Rumah yang mereka tinggali itu sebetulnya bukan milik Rohaeni ataupun almarhum suaminya, rumah itu merupakan peninggalan saudara Rohaeni. Namun sudah sangat lama dia tinggal di rumah itu, kurang lebih sudah 40 tahun.

Rumah reyot ini menjadi saksi perjuangan Rohaeni semenjak ditinggal suaminya. Ada begitu banyak cerita suka dan duka di dalam rumah yang sebagian bangunannya sudah hampir roboh ini.

Ketika ditemui di rumahnya itu, Rohaeni bercerita tentang bagaimana sulitnya kehidupannya selama ini. Bahkan sekedar mendapatkan seonggok beras untuk satu hari saja sangat sulit baginya.

Alat masaknya pun masih sangat sederhana karena menggunakan kayu bakar. Terkadang ia tidak masak, bahkan sekarang sudah jarang sekali masak dengan lauk pauknya yang enak.

Telur adalah lauk pauk paling mewah di keluarganya. Ia tak mampu membeli lauk lebih dari itu. Hampir setiap hari ia membeli gorengan untuk makan pagi dan sore. Bagi dia, tak peduli gorengannya sudah dingin yang terpenting anak-anaknya bisa makan.

Meskipun kompor gas sudah dipakai oleh sebagian besar tetangganya, tapi Rohaeni tetap bertahan dengan kayu bakar. Bukan tidak memiliki kompor gas, namun menyadari ruangannya sangat sempit. Dan ia takut jika kompor gasnya bermasalah tanpa sepengetahuannya bisa saja melahap rumah kecilnya ini. Tak peduli muka mereka hitam karena asap.

Di dalam hati terdalam, seringkali ia mengeluh karena tak bisa memberikan kebahagiaan seperti orang tua pada umumnya kepada anak-anaknya. Namun, ia berusaha tegar di depan anak-anaknya dan berusaha untuk menenangkan saat keinginan anak-anaknya tidak bisa ia penuhi.

Anak-anaknya memang sudah besar, dua orang anaknya sudah bekerja namun cukup dilema dengan kondisi Covid-19 saat ini.
Dua orang anaknya yang lain masih sekolah. Lagi-lagi mereka dilema karena tak mampu membeli android untuk belajar secara daring (dalam jaringan).

Jika pun ada, tetap harus mengeluarkan uang untuk membeli kuota. Sedangkan penghailan Rohaeni tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Selama belajar secara daring, anaknya hanya bisa meminta bantuan teman-temanya agar bisa berbagi informasi dan mengerjakan tugas bersama.

Dengan penghasilan paling besar 20 ribu per hari, Rohaeni hanya bisa menggunakannya untuk makan sehari-hari. Tak jarang ia pun terpaksa berhutang kepada warung.

Rohaeni hanya bergantung kepada bantuan pemerintah untuk biaya sekolah anak-anaknya. Buruh menganyam sarung tangan dan hasil kerja anak-anaknya jelas tak mampu untuk menutupi biaya sekolah.

Anak-anaknya sudah terbiasa membantu pekerjaan Rohaeni di sela-sela libur sekolah. Baginya, satu pencapaian dan kebahagiaan ia persembahkan untuk Almarhum suaminya ketika ia berhasil menyekolahkan semua anak-anaknya hingga jenjang SMA.

Rasa haru tak terbendung lagi ketika Rohaeni mendengar anak-anaknya memiliki cita-cita yang tinggi. Anak ketiganya bercita-cita sebagai seorang guru, dan anak keempatnya bercita-cita menjadi seorang Presiden.

Tanpa kurang percaya diri sedikitpun, lantang mereka memberitahu ibunya. Rohaeni tak ingin mematahkan semangat mereka walaupun mungkin ia merasa itu mustahil. Ia hanya ingin anak-anaknya dapat mengabdi kepada masyarakat, memanfaatkan pelajaran yang sudah mereka dapat, dan selalu membela warga yang lemah.

Di masa-masa sekolah, anak-anaknya harus belajar hidup mandiri, kuat, dan bertahan walau tanpa uang jajan. Ya, Rohaeni mengatakan jika dirinya seringkali tak mampu memberikan uang jajan saat anak-anaknya hendak pergi sekolah.

Pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sudah terbiasa anak-anaknya lakukan. Menyangkut ini, Rohaeni tak mampu lagi menahan tangis. Di depan anak-anaknya ia tak mampu menyembunyikan atas rasa salah dan kurangnya ia sebagai seorang ibu.

Pendidikan anaknya menjadi hal yang paling penting bagi Rohaeni. Meski hanya sampai SMA, ia merasa hajatnya sudah terpenuhi. Terlebih untuk ke Perguruan Tinggi, ia sudah tak sanggup, kecuali dengan bantuan Tuhan.
Mendengar itu, anaknya tak bisa berkata-kata lagi. Ingin rasanya

membahagiakan ibunya dengan pencapaian atas pendidikannya. Anaknya memasang wajah percaya diri dan berkata ia bisa ke perguruan tinggi dengan usahanya sendiri tanpa membebani ibunya.

Dalam setiap cahaya lampu yang seadanya, malam menjadi renungan panjang baginya. Ia berharap setiap sudut rumahnya terdapat berkah Tuhan. Rumah yang dipenuhi dengan barang-barang tak layak pakai.

Setiap hujan, rumahnya menjadi langganan dimana air menggenang, setiap lubang ia sudah tak peduli hewan apa yang akan menjadi tamu tak diundang. Ia hanya berharap pada Allah untuk melindungi keluarganya dari marabahaya.

( Mia Helmiyani / RP )