Kisah Avif, Penyintas Kanker Otak Bertahan Selama 12 Tahun

246

Penulis : Mia Helmiyani | Editor : Feri Citra Burama

RadarPriangan.com, GARUT – Usia 20 tahun adalah waktu yang membara dan bebas untuk beraktivitas dalam rangka mencari jati diri dan potensi. Namun berbeda dengan Rosidah Avifah Nurjannah atau yang sering dipanggil Avif ini. Sebuah penyakit yang sejak 2008 sudah menyertai kehidupannya, yaitu Brain Cancer atau Kanker Otak.

Semua kegiatan yang Avif inginkan di usianya itu sebenarnya mampu dia lakukan dengan penuh, namun satu hal yang membuatnya terbatas, yaitu fisik yang lemah.

Avif tinggal di Jl. Karangpawitan No. 89 B, Kampung Padesan, Desa Situsaeur, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut. Avif merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Saat ini, ia sedang menempuh jenjang S1 di Universitas Garut, jurusan Public Relation semester 7.  Sudah 12 tahun Avif bertahan dengan kanker otaknya itu.

Pada tanggal 11 Maret tahun 2016 lalu tepatnya kelas 11, Avif melakukan operasi pertama. Operasi pertama berhasil dan nyawanya selamat. Namun, Avif mengalami trauma pasca operasi sehingga ia sulit mengingat nama orang dan kejadian. Kanker yang ada dalam otak Avif tidak sepenuhnya diambil karena posisinya yang menempel pada batang otak dikhawatirkan jika diambil akan sangat berbahaya.

Hingga pada tanggal 19 Maret tahun 2019 lalu tepatnya saat Avif akan baranjak ke tingkat 2 perkuliahan, kondisi Avif justru semakin memburuk. Lagi-lagi Dokter menyarankan untuk operasi. Bedanya, saat operasi pertama Avif siap untuk meninggal. Namun saat itu Avif tidak siap dengan operasi kedua, karena belum sepenuhnya membahagiakan kedua orang tuanya dan saat itu adalah puncak Avif untuk berprestasi dan memuaskan bakatnya. Avif merasa operasi kedua ini semakin mendekatkannya kepada kematian.

Operasi kedua berhasil, 90% kanker dan tumornya terangkat. Namun Avif harus menjalani rehab medis karena sebelum operasi dia dalam kondisi tidak baik. Avif harus menjalani Sinar Radiasi sebanyak 25 kali untuk mengatasi sisa dari tumor dan kankernya. Walaupun begitu efek dari Sinar Radiasi lebih membuatnya lemah karena memengaruhi sistem imunitas Avif.
Tuhan masih berkehendak untuk memberinya kesempatan hidup hingga detik ini. Perjuangan 12 tahun tidaklah mudah baginya.

“Motivasi aku bertahan adalah melihat mereka yang sudah meninggal. Jadi aku merasa orang-orang cancer itu berjuangnya sampai titik dia meninggal. Kalau aku ditakdirkan untuk masih hidup berarti itu satu perintah bahwa aku masih harus bertahan,” kata Avif.

Meskipun masih banyak keterbatasan, Avif masih menjalankan kegiatannya sebagai seorang mahasiswi, menjalani kuliah seperti biasanya. Selain itu, Avif juga sedang mengembangkan sayap potensinya di bidang Event Organizer buatan sendiri. Di bidang pendidikan, Avif aktif menulis jurnal kampus dan masih berusaha untuk merampungkan buku pertamanya. Avif juga sedang menjalankan bisnisnya yaitu menjual sushi dan buka warung kecil-kecilan di rumahnya.

Segudang aktivitas Avif lakukan dengan serius dan senang hati. Namun, Avif tidak lupa batasan yang dokter dan keluarganya sarankan. Avif terhambat pada keseimbangan tubuh, sehingga membuatnya tidak bisa berjalan di jalan yang tidak lurus sendirian melainkan harus ada pegangan. Selain itu, Avif sering kehilangan kontrol pada tangannya. Benda apapun yang dipegang akan terjatuh dengan sendirinya padahal ia tidak menginginkannya.

Sebisa mungkin Avif harus menghindari tekanan atau stress berlebih yang dapat merangsang cancer untuk bereaksi. Avif mengatakan aktivitas padat apapun yang dirinya kerjakan selama ia menikmatinya maka tidak ada masalah. Tetapi jika aktivitas yang sederhana tetapi ia tidak menikmatinya atau merasa tertekan maka akan menjadi bahaya.

Sekitar bulan Desember 2019 Avif melakukan pemeriksaan secara MRI di salah satu Rumah Sakit. Dan sekitar bulan Februari 2020, Avif beserta keluarganya mendapatkan hasil yang cukup mengagetkan. Ternyata ada pembesaran pada cancer yang diderita Avif, dirinya mengakui bahwa  saat itu kepalanya sering merasakan sakit.

Melihat bahwa Avif sudah melakukan dua kali operasi dan kondisi fisiknya lemah, maka Dokter mengatakan jika dilakukan operasi ketiga resiko kematiannya akan sangat tinggi. Akhirnya Avif memutuskan untuk tidak melakukan operasi ketiga, karena dia merasa cancer-nya tidak menghambat aktivitasnya. Avif hanya perlu menjaga daya tahan tubuhnya agar tetap fit. Pengobatan herbal menjadi jalan yang dipilih Avif bersama keluarganya. Tak lupa Avif menjaga asupan makannya dan rutin olahraga.

Setelah melewati dua operasi, Avif merasa senang dan takut. Senang karena hal itu di luar dugaan hingga dirinya bisa bertahan sampai saat ini. Saat operasi kedua, Avif mengira dirinya tidak akan hidup lagi.

“Semakin ke sini aku semakin merasa bahwa aku gak sendiri. Allah itu benar-benar adil, dengan aku yang banyak kekuarangan, Allah memberikan orang-orang di sekitarku yang memiliki banyak kelebihan kepada mereka, kesabaran, ketulusan, dan kekuatan untuk membantu aku,” ujarnya.


Avif mengais banyak sekali pelajaran dari kisah hidupnya. Saat ini, ia merasa tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha.

“Aku sudah merasakan titik di mana antara hidup dan mati. Aku merasa kematian itu benar-benar dekat. Harus ada sesuatu yang aku hasilkan, karena bisa saja besok berakhir. Aku bersyukur karena Allah banyak memberi kesempatan yang sebelumnya gak pernah aku dirasain. Sehingga setiap denyut sakit yang aku rasakan, itu merupakan kasih sayang Allah. Bukan bahagia yang membuat kita bersyukur. Tapi syukur yang membuat kita bahagia” Ujar Avif.

Avif merasakan mendapatkan semangat yang lebih tinggi dibanding dengan sebelum-sebelumnya. Avif mengatakan bahwa Allah memberinya kesempatan untuk lebih memberikan manfaat bagi orang lain. Bagi dirinya “semangat” adalah diri kita yang bentuk, semangat adalah persepsi.

Di masa depan, Avif berencana untuk lebih banyak speak up. Banyak cerita yang ingin ia bagikan dengan orang lain sehingga membuat mereka semangat. Avif ingin meluaskan relasi dan melanjutkan studi S2. Selain itu, ia ingin memperjuangkan fasilitas bagi orang-orang berkebutuhan khusus. Intinya dia ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

“Untuk survivor, kanker itu kuat, maka kamu adalah orang hebat jika bersamanya. Semangat terus, jadi kuat itu harus. Mari bertahan!. Untuk semua aku berpesan, bukan bahagia yang membuat kita bersyukur, tapi syukur yang membuat kita bahagia,” pesan Avif di akhir wawancara.

Diketahui Avif selama ini rupanya juga memiliki banyak prestasi selama ia menderita kanker, Avif berhasil menjadi pemenang cipta puisi Quran tingkat Aliyah, debat bahasa Indonesia Jabar 2018, juga Peserta KTI nasional 2019. Saat ini Avif juga Ssdang aktif menulis jurnal. Selain itu Avif juga tercatat sebagai Aktivis IMM, Aktivis BEM, Aktivis Disabilitas juga Survivor YKI. (**)