Ketua KNPI Garut: Dialog Diharapkan Jadi Solusi Pengentasan Masalah PKL

604
Okke M. Hadits

PKL Dinilai Mampu Topang Perekonomian Rakyat

RadarPriangan.com, GARUT – Prosesi pelantikan anggota DPRD Kabupaten Garut periode 2019 – 2024 diwarnai aksi demo Pedagang Kaki Lima bersama organisasi kepemudaan mahasiswa di Kabupaten Garut.

Aksi tersebut menyita perhatian banyak pihak, terutama para pejabat publik hingga tokoh masyarakat yang hadir pada momentum pelantikan tersebut.

Menyikapi hal tersebut, Ketua KNPI Kabupaten Garut, Okke M. Hadits,  melihat bahwa keberadaan Pedagang Kaki Lima merupakan salah satu penopang ekonomi kerakyatan yang berpotensi menumbuhkan ekonomi mikro di suatu daerah dan hal tersebut tentu akan berdampak pada kontribusi PAD di Kabupaten Garut.

“Pemerintah Kabupaten Garut dalam upayanya menjalankan kebijakan dalam rangka menciptakan ketertiban, keindahan, keamanan di kabupaten Garut. Lalu kepentingan PKL untuk dapat memenuhi dan mempertahankan hidup (survival life, red) dengan berjualan, begitu pun dengan masyarakat sekitar, masalah ini harus mampu diselesaikan dengan pendekatan dialog. Dengan pendekatan dialog antar semua pihak, diharapkan tidak memunculkan konflik interest lanjutan antara pembuat kebijakan, pelaku usaha maupun masyarakat sekitar, dan tentunya kami merasa perlu penanganan khusus dalam rangka mengakomodir semua kepentingan tersebut,” katanya.

Menurutnya, kehadiran organisasi kepemudaan mahasiswa sebagai pihak yang turut menyampaikan aspirasi terkait masalah PKL pada momentum pelantikan tersebut pun perlu di apresiasi sebagai bentuk kepedulian terhadap situasi Garut hari ini. Sehingga kata Okke, para pemangku kebijakan dan para pihak yang berkepentingan terus concern untuk menyelesaikan permasalahan itu.

“Kita berharap pendekatan dialog ini bisa terjadi, dan memunculkan solusi yang seutuhnya, seperti yang diharapkan oleh Bupati Garut, bahwa Bupati pun memiliki harapan yang sama, mengingat PKL pun merupakan masyarakatnya yang perlu di dengar berbagai keluhannya,” katanya.

Lanjutnya, penyelesaian masalah tersebut disertai dengan menerapkan adat dan budaya Garut “Herang Caina Beunang Laukna”, dimana kebijakan yang diambil itu bisa saling menguntungkan.

“Itu harus tercermin di dalam solusi yang dihasilkan dari dialog ini, tentunya dengan kondisi yang sama – sama dingin seperti pepatah ‘Sing Katepi ku Ati Sing Kahontal ku Akal’, yang berarti sebelum bertindak tetapkan dulu dalam hati dan pikiran secara seksama. Tentunya itu demi penyelesaian masalah yang baik dan situasi yang tetap kondusif demi kebaikan semua pihak,” pungkasnya. (erf)