Kepala Digesek-gesek, Orang Tua Akan Laporkan Kepsek ke Polisi

678

GARUT – Tindak kekerasan dalam dunia pendidikan Kabupaten Garut kembali terjadi. Kali ini, diduga oknum Kepala Sekolah telah melakukan tindak kekerasan terhadap sejumlah siswa di SMP Baitul Hikmah, Kecamatan Tarogong Kaler.

Kabar itu menyeruak usai sejumlah siswa SMP mengaku mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah.

Diantaranya, Selvan Oktavian ,14, siswa kelas 8, ia mengaku mengalami kekerasan oleh kepala sekolah pada Jumat (4/1/2019) pagi. Padahal dirinya merasa tidak melakukan kesalahan.

Dampak dari itu, orang tua siswa mendatangi sekolah untuk meminta pertanggungjawaban.

“Kejadiannya waktu salat duha di masjid. Padahal saya waktu itu lagi diam. Cuma teman di kiri dan kanan bercanda. Kepala sekolah yang lihat lalu menggesek-gesekan kepala teman-teman dan saya,” kata Selvan di SMP Baitul Hikmah, Sabtu (5/1/2019).

Selvan menderita luka di pelipis kiri dan masih berbekas. Usai mendapat perlakuan tersebut, ia sempat diminta oleh oknum kepala sekolah agar tak menceritakan peristiwa tersebut kepada orang tuanya.

Siswa lain yang mengaku dianiaya, Rian Gunawan,15, dan seorang temannya, juga mengakui dugaan tindak kekerasan tersebut. Bedanya, tak ada luka yang membekas. Ia menceritakan, kekerasan oleh oknum kepala sekolah juga kerap dialami oleh siswa lainnya.

“Kalau enggak pakai peci di sekolah pasti dihukum. Memang aturannya harus pakai peci. Kadang di-push up, digampar, terus suka lempar-lempar kursi,” katanya.

Orang tua Selvan, Pipit Anggraeni ,46, tak terima atas perbuatan yang dilakukan oknum kepala sekolah kepada anaknya. Dirinya sudah merasa curiga ketika Selvan pulang dengan pelipis yang terluka.

“Saya kira dia berantem. Tapi pas ditanya enggak ngaku. Malah dikasih tahu temannya kalau kepala anak saya diadu-adu sama kepala sekolah,” kata Pipit.

Geram atas tindakan oknum kepsek, ia berniat akan melapor kasus kekerasan tersebut kepada Kepolisian. Terlebih berdasarkan beberapa informasi lainnya, kekerasan terhadap anaknya di sekolah diduga bukan yang pertama kali terjadi.

“Teman-teman anak saya juga banyak yang jadi korban. Saya enggak terima makanya mau lanjut lapor ke Polisi,” ujarnya.

Kapolsek Tarogong Kaler, Iptu Tito Bintoro, mengatakan telah memediasi orang tua siswa dengan kepala sekolah. Menurut orang tua siswa, perbuatan kepala sekolah sudah sangat keterlaluan.

“Saat mediasi, kepala sekolahnya memang sudah mengakui kesalahannya dan siap diproses hukum jika kasusnya berlanjut,” ucap Tito.

Lanjut Tito, pihak keluarga tetap ingin melaporkan kasus tersebut. Dirinya tak bisa berbuat banyak.

Kalaupun mau melapor maka harus melapor ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Garut.

“Korbannya masih di bawah umur jadi tidak bisa ditangani kami (Polsek). Jika memang mau lapor, saya persilakan ke Polres,” ujarnya.

Sementara ini, Tito menyebut ada tiga korban yang mengalami kekerasan. Jumlah korban kemungkinan masih bisa bertambah. “Tapi baru tiga orang yang mengaku,” katanya.

Terpisah, Kepala Sekolah SMP Baitul Hikmah, Sultan Pahad, mengakui kesalahannya terhadap Selvan. Tak ada unsur kesengajaan dari perbuatannya tersebut.

“Saya hanya memberi peringatan. Saat kemarin (4/1), red) pagi bersalawat, di antara anak ada yang bercanda,” kata Sultan di SMP Baitul Hikmah.

Menurutnya, Selvan yang menderita luka di pelipis, tak bersalah. Namun saat itu, Selvan berada di tengah di antara temannya yang diberi peringatan olehnya.

Menurutnya, siswa yang bercanda ada di samping kiri dan kanan Selvan. Kemudian, pihak lihat mereka bercanda dan kemudian ia rangkul, dan menasihati, “Tong heureuy nya, sok salawatan (jangan bercanda yah, salawatan saja),” kata Sultan mengulangi percakapannya kepada siswa.

Usai kegiatan di masjid beres, pihaknya melihat Selvan terluka di pelipis. Ketika masih berada di masjid, dirinya mengaku tak sadar jika siswanya itu mengalami luka. Kemudian ia pun menanyakan penyebab luka di wajah Selvan lalu mengobatinya.

Dia berharap permasalahan tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan jalur musyawarah. Meksi demikian, dia tetap siap mengikuti proses hukum jika pihak keluarga tetap ingin melapor ke Kepolisian. (erf)