Kemenlu: Tak ada WNI Terlibat Pengeboman di Sri Lanka

261
AFP

RadarPriangan.com, JAKARTA – Kementerian Luar Negeri RI membantah, terkiat beredar kabar tentang dugaan WNI yang terlibat serangan bom beruntun di Hotel Shangri-La, Kolombo, Sri Lanka pada perayaan Hari Paskah, Minggu (21/4) pekan lalu.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI, Lalu Muhamad Iqbal menyatakan, bahwa pelaku pengeboman di Hotel Shangri-La, Kolombo, pada akhir pekan lalu bukan warga Indonesia, melainkan warga Sri Lanka.

“Kedutaan Besar RI di Kolombo telah melakukan komunikasi langsung dengan otoritas keamanan Sri Lanka dan memperoleh informasi bahwa nama (pelaku) yang benar adalah Insan Seelawan, warga negara Sri Lanka,” kata Iqbal dalam pernyataan resminya, Selasa (23/4).

Pernyataan itu diutarakan Iqbal, dalam tujuan mengklarifikasi kabar tentang dugaan keterlibatan WNI dalam delapan serangan bom beruntun di Sri Lanka pada perayaan Hari Paskah, Minggu (21/4) pekan lalu.

Kabar itu mulai simpang siur setelah salah satu media lokal merilis nama pelaku pengeboman di Hotel Shangri-La yang telah teridentifikasi bernama Insan Setiawan. Hotel Shangri-La menjadi salah satu hotel yang menjadi sasaran dalam serangan paling mematikan dalam satu dekade terakhir itu.

“Dalam artikel itu tidak disebutkan kewarganegaraan pelaku tersebut. Namun, spekulasi mulai muncul bahwa pelaku itu adalah WNI lantaran nama belakangnya yang identik dengan nama umum bagi laki-laki Indonesia,” terangnya.

Untuk itu, Iqbal mengklarifikasi bahwa kemungkinan telah terjadi salah penulisan nama pelaku bom oleh media-media lokal di sana.

Istri dan anak-anak Insan tewas meledakkan diri ketika hendak ditangkap oleh polisi. Sang adik juga melakukan hal yang sama ketika hendak ditangkap, dan menewaskan tiga polisi.

Sejauh ini, jumlah korban meninggal terus bertambah tercatat hingga hari ini, Selasa (23/4) total ada 310 orang tewas dalam serangan bom beruntun di tiga kota itu.

“Beberapa di antara korban tewas itu sempat kritis karena luka serius, lalu meninggal,” kata Juru bicara Kepolisian Sri Lanka, Ruwan Gunasekera.

Selain memakan korban tewas, sedikitnya 500 orang ikut terluka dalam serangan bom yang terjadi di delapan tempat terpisah pada Minggu (21/4) pekan lalu itu.

“Sejauh ini ada 40 orang yang telah ditangkap kepolisian lantaran diduga terlibat serangan bom beruntun tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sri Lanka menyatakan, bahwa tidak ada laporan WNI menjadi korban dalam rangkaian ledakan tersebut.

Dapat diketahui, ada sekitar 374 warga negara Indonesia di Sri Lanka, termasuk 140 orang di ibu kota Kolombo. Hingga laporan ini disampaikan, Kemlu RI terus memantau perkembangan situasi lewat KBRI di Kolombo dan telah berkoordinasi dengan otorita keamanan, rumah sakit dan perhimpunan warga negara Indonesia setempat.
“Hingga saat ini belum ada informasi mengenai WNI yang menjadi korban dalam insiden tersebut,” kata Kemlu RI.
Meski belum ada kelompok yang mengklaim, pemerintah Sri Lanka meyakini serangan paling mematikan selama satu dekade terakhir itu dilakukan oleh kelompok ekstremis setempat, Jemaah Tauhid Nasional (NTJ). (der/fin)