Kemendikbud Bolehkan Sekolah Beli Hand Sanitizer dari BOS

180
ilustrasi: Pixabay

RadarPriangan.com, JAKARTA – Pemerintah mendorong agar lingkungan sekolah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk menangkal virus corona. Diantara perilaku hidup bersih dan sehat itu adalah dengan rutin mencuci tangan.

Karena itu pula, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membolehkan kepada sekolah untuk membeli hand sanitizer dari dana BOS (dana operasional sekolah).

Seperti dilansir dari fin (Grup RadarPriangan.com), Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Dasar dan Menengah Kemendikbud, Harris Iskandar mengatakan, ketersediaan saran pemberish tangan atau cuci tangan ini terdapat dalam surat edaran No 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Corona Virus Disease (Covid-19) pada satuan pendidikan.

“Sekolah bisa menggunakan dana BOS untuk membeli hand sanitizer yang nantinya ditaruh di sekolah,” kata Harris, Jumat (13/03/2020).

Dalam surat edaran itu lanjut Harris, terdapat 16 poin tentang pencegahan penularan Covid-19 di lingkungan sekolah.

Antara lain, dimulai dari mengoptimalkan peran Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) atau unit kesehatan di perguruan tinggi, koordinasi dengan Dinas Kesehatan, pendidikan dan layanan pendidikan tinggi untuk mengetahui apakah Dinas Kesehatan telah memiliki rencana atau persiapan dalam menghadapi Covid-19.

“ Selanjutnya, memastikan ketersediaan sarana untuk cuci tangan pakai sabun dan alat pembersih sekali pakai. Memastikan bahwa warga satuan pendidikan menggunalan sarana cuci tangan pakai sabun dan pengering tangan sekali pakai,” jelasnya.

“Satuan pendidikan juga diminta untuk melaporkan dugaan Covid-19, memastikan makanan yang disediakan sudah dimasak sampai matang, mengingatkan warga sekolah untuk tidak berbagi makanan, minuman, dan alat musik tiup,” ujarnya.

Selain itu, Harris juga mengingatkan warga satuan pendidikan untuk menghindari kontak fisik langsung, menunda kegiatan yang mengumpulkan banyak orang seperti berkemah, dan membatasi tamu dari luar satuan pendidikan.

“Terakhir, warga satuan pendidikan dan keluarga yang bepergian ke negara terjangkit yang dipublikasikan WHO diminta untuk tidak melakukan pengantaran, penjemputan, dan berada di area satuan pendidikan untuk 14 hari saat kembali ke Tanah Air,” teranganya. (fin/red)