Kemendikbud: Adopsi Teknologi PJJ Harus Dipercepat

72

RadarPriangan.com, JAKARTA – Kemendikbud mengatakan, bahwa dalam kondisi pandemi covid-19 perlu upaya untuk mempercepat adopsi teknologi pembelajaran guna memaksimalkan kualitas pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Perlu adanya upaya untuk mempercepat adopsi teknologi pembelajaran sehingga kualitas pembelajaran di rumah semakin meningkat,” kata Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud, Iwan Syahril dalam pernyataannya, Jumat (26/6/2020)

Desakan itu di dasari dari hasil survei Kemendikbud secara daring terhadap 38.109 siswa dan 46.547 orang tua pada seluruh jenjang pendidikan di seluruh provinsi di Indonesia, pada 13-22 Mei 2020.

Kemendikbud juga bekerja sama dengan UNICEF dalam melakukan survei melalui layanan sms gratis terhadap 1.098 siswa dan 602 orang tua. Hasil survei, kata dia, sebanyak 96,6 persen siswa belajar sepenuhnya dari rumah.

“Ada sebuah harapan dari survei ini yang bisa kita cermati, yaitu semakin banyaknya siswa yang mulai belajar dari sumber-sumber belajar lain, seperti dari TVRI, atau dari buku, maupun sumber-sumber belajar lain,” ujarnya seperti dilansir dari FIN (Radar Priangan Group).

Lebih lanjut Iwan menjelaskan, tantangan pertama belajar di rumah yakni terkait kebiasaan. Selama ini, proses pembelajaran selalu berpusat kepada guru. Tantangan kedua, adopsi teknologi yang semakin dipercepat.

“Survei mengatakan semakin banyak guru dan siswa yang mulai menggunakan teknologi dalam melakukan pembelajaran. Percepatan itu dinilai cukup menggembirakan karena sejak lama Kemendikbud mendorong adopsi teknologi dalam pembelajaran,” terangnya.

“Dengan adanya pandemi ini, terjadi adopsi teknologi yang signifikan, mulai dari teknologi yang sederhana hingga kompleks,” imbuhnya.

Menurut Iwan, pembelajaran dari rumah oleh guru dan siswa secara interaktif saat ini yang masih terbatas, sangat dimungkinkan dengan tingginya tingkat penggunaan media sosial sebagai sarana interaksi antara guru dan siswa.

“Hal itu juga didukung dengan sudah banyaknya siswa yang menggunakan aplikasi pengelolaan pembelajaran (learning management system), khususnya untuk jenjang SMA dan SMK,” jelasnya.

Terlebih lagi, aplikasi sumber belajar daring sebagai sarana pembelajaran yang mendukung terjadinya personalisasi belajar (personalized learning) telah dimanfaatkan oleh lebih dari separuh siswa.

“Personalisasi belajar memungkinkan pengalaman belajar yang adaptif, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing anak,” ujarnya.

Iwan juga menyampaikan, perlunya sosialisasi lebih masif lagi mengenai tidak adanya tuntutan menuntaskan kurikulum selama pembelajaran di masa pandemi. Serta, asesmen capaian belajar peserta didik yang tidak harus berbentuk nilai atau skor kuantitatif.

Relaksasi nilai ini sudah termuat dalam Surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020. Aturan relaksasi diperjelas dengan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Nomor 15 Tahun 2020.

“Bahwa hasil belajar peserta didik selama belajar dari rumah lebih mengutamakan umpan balik yang sifatnya kualitatif. Tidak harus memberikan skor atau nilai yang kuantitatif,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbud Hendarman menjelaskan, bahwa program belajar dari rumah lewat tayangan TVRI juga merupakan alternatif pembelajaran di tengah pandemi yang bersifat tidak wajib.

“Meski begitu, siswa dan guru mengapresiasi ditayangkannya program-program peningkatkan kemampuan literasi, numerasi, penumbuhan karakter, dan wawasan kebudayaan yang disiarkan melalui TVRI ini,” katanya.

Hendarman menyebutkan, bahwa survei daring Kemendikbud mengungkap sebanyak 79 persen siswa mengatakan program belajar dari rumah Kemendikbud yang ditayangkan di TVRI merupakan tayangan yang paling sering ditonton selama masa pandemi.

Survei terpisah yang dilakukan Pusat Penguatan Karakter Kemendikbud pada 20 April-24 Mei 2020, 6.061 responden siswa memberikan nilai 8,4 dari 10, untuk manfaat yang diberikan program belajar dari rumah. Sementara itu, sebanyak 2.391 responden guru memberikan nilai 8,1.

“Para guru menganggap bahwa program ini membantu dalam melaksanakan pembelajaran dari rumah. Hal ini juga diperkuat dengan sejumlah Kepala Dinas Pendidikan yang menganjurkan guru menggunakan tayangan Belajar dari Rumah untuk pembelajaran,” terangnya.

Menurut Hendarman, Kemendikbud akan terus merespons tantangan dalam kegiatan belajar mengajar di masa pandemi. Caranya, dengan memberikan layanan kepada pemangku kepentingan melalui berbagai program, kemitraan, dan kanal.

“Kemendikbud juga telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mendukung kegiatan belajar mengajar di masa pandemi. Salah satunya, keputusan bersama empat kementerian tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran dan tahun akademik baru pada masa pandemi covid-19,” tuturnya.

Guru Besar University of Applied Science and Arts, Hannover, Germany and Senior Experten Services (SES) Germany, Gerhad Fortwengel menilai, Covid-19 ini justru menjadi katalis hebat yang memacu dunia pendidikan.

“Seperti mendorong lebih banyak pemanfaatan teknologi informasi dalam aktivitas pembelajaran jarak jauh,” kata Gerhad

Fortwengel mengingatkan, ada tantangan besar pelaksanaan model pembelajaran jarak jauh. Salah satunya civitas akademika belum terbiasa memakai sistem pembelajaran yang bersifat gabungan dan sepenuhnya dilakukan secara daring.

“Muncul kesulitan karena belum dilatih mengunakan peralatan untuk model pembelajaran jarak jauh. Karenanya, perlu tambahan dukungan dan mentoring untuk menyesuaikan dengan model pembelajaran yang baru ini,” ujarnya.

Harus diakui, bahwa pada era 4.0, dunia pendidikan tinggi hadapi tantangan dengan berbagai perubahan yang ada. Lalu, Covid-19 menuntut penyesuaian dalam penyelenggaraan pendidikan.

“Salah satunya mengubah metode pembelajaran luring menjadi daring. Di UGM sejak pertengahan Maret mengganti segala kegiatan akademik dan perkuliahan yang bersifat tatap muka dikelas dengan pembelajaran secara virtual,” kata Dekan Fakultas Farmasi UGM Agung Endro Nugroho. (der/fin/RP)