Kejari Garut Akan Ungkap Kasus Human Trafficking, yang Menimpa Keluarga Aan Warga Bantaran Rel

200

Penulis : Iqbal Gojali | Editor : Feri Citra Burama

RadarPriangan.com, GARUT – Kepala Kejaksaan Negeri Garut, Sugeng Hariadi, komitmen akan mengungkap dugaan kasus Human Trafficking (pergadangan manusia) yang menimpa anak dari Aan Supartini (45) warga bantaran rel di Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut.

Dimana anak dari Aan sendiri saat ini mengalami gangguan jiwa akibat kasus yang menimpanya itu. Bahkan dikabarkan Aan sang ibu juga sempat setres berat karena memikirkan kasus yang menimpa anaknya.

“ Memang anaknya bu Aan yang bernama Ai ini diduga menjadi korban trafficking saat bekerja di Jakarta. Akibat hal tersebut, Ai ini mengalami gangguan jiwa karena berbagai hal yang ia dapatkan selama di Jakarta dari majikannya,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, kata Sugeng, pihaknya memastikan akan berusaha menyembuhkan Ai dari gangguan jiwa yang saat ini masih dialami.

Sugeng pun mengaku sudah berkoordinasi dengan dinas terkait agar Ai bisa disembuhkan dari gangguan jiwanya.

Penyembuhan Ai, menurut Sugeng menjadi kunci terpenting untuk mengungkap kasus human trafficking tersebut. Karena selama ini yang tahu persis kasus itu hanya Ai dan neneknya yang saat ini sudah meninggal.

“Yang tahu persoalan Ai ini hanya neneknya saja yang ada di Bungbulang, Garut. Sekarang neneknya sudah meninggal, sehingga kuncinya ya sekarang di Ai nya langsung. Semoga bisa segera sembuh dan terbuka kasusnya seperti bagaimana,” ucapnya.

Menurut Sugeng, mengungkap kasus ini menjadi sangat penting agar ke depan tidak ada lagi korban serupa lainnya. Karena dalam modusnya, pelaku diduga menyasar masyarakat yang tinggal di pedesaan yang berkeinginan mencari penghasilan di kota.

Dari informasi sendiri yang diterima Sugeng, kasus Ai ini dia dijanjikan bekerja sebagai asisten rumah tangga di Jakarta oleh seorang yang mengaku sebagai penyalur pekerja.

Namun saat di Jakarta, rupanya ia dijual kepada seseorang dan harus melayani berbagai keinginan pembelinya.

“Ini informasinya kan belum jelas siapa-siapanya yang menyalurkan, dimana lokasi Jakartanya. Itu pun cerita yang didapatkan dari warga yang sempat ngobrol dengan neneknya. Kalau ini tidak didalami, khawatirnya ternyata ada korban lainnya sehingga kami berpikir ini harus diungkap,” katanya. (igo/RP)