Kasus Positif Terus Bertambah, Rencana Sekolah Tatap Muka di Garut Minta Dikaji Ulang

370

Editor : Muhamad Erfan

RadarPriangan.com,GARUT – Kasus konfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Garut bertambah 2 orang. Mereka terdiri dari seorang perempuan (KC-55), usia 25 tahun, asal Kecamatan Cibiuk dan seorang perempuan (KC-56), 25 tahun, asal Kecamatan Kadungora.

“Konfirmasi positif jadi 56 kasus, 1 Kasus isolasi mandiri, 15 Kasus isolasi di Rumah Sakit untuk perawatan, 37 Kasus sembuh dan 3 Kasus meninggal,” kata Humas Gugus Tugas Covid19 Kabupaten Garut, Yeni Yunita.

Adapun total kasus Covid-19 (Kontak Erat, Suspek, Probable dan Konfirmasi +) sampai hari ini sebanyak 5462 kasus, terdiri dari Kontak Erat: 2508 orang, 126 Kasus isolasi mandiri dan 2382 Kasus discarded/selesai pemantauan). Suspek: 2.898 kasus (12 Kasus isolasi mandiri, 1 Kasus Isolasi RS/perawatan, 2850 Kasus discarded/selesai pemantauan dan  35 Kasus meninggal).

Pihaknya menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga kondisi di tengah pandemi covid-19 ini dengan mematuhi protokol kesehatan juga senantiasa menjaga serta meningkatkan stamina dan imunitas tubuh dengan berolahraga secara rutin dan teratur disertai asupan gizi yang seimbang.

Menyikapi peningkatan kasus positif Covid19 saat ini, orang tua semakin was-was menjelang pemberlakuan kembali belajar tatap muka, bagi siswa yang mau dan mendapat izin orang tua.

“Sebetulnya jika kasus di Garut terus meningkat, rencana pembukaan sekolah tatap muka mending ditinjau lagi. Takutnya muncul klaster baru di sekolah, karena di beberapa daerah kondisi itu terjadi, dan kita tidak mau sampai terjadi di Garut,” kata Rahman, salah satu orang tua di Garut.

Hal senada diungkapkan orang tua lainnya, Dorna. Penundaan belajar tatap muka diyakini bisa mencegah potensi munculnya klaster baru, seperti di lingkungan sekolah.

“Jika landasan pembukaan sekolah tatap muka berdasarkan data sebaran kasus beberapa waktu lalu, bagaimana dengan potensi sebaran kasus di lain tempat? Kita kan tidak tahu, karena sebaran kasus yang ada saat ini mulai semakin masif, karena kita juga harus melihat situasi di Garut secara keseluruhan. Jadi baiknya ditinjau ulang, yang terancam tidak hanya siswa, tapi guru-guru, orang tua dan lingkungan juga,” kata Dorna.

Sebelumnya, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat berencana membuka kembali belajar tatap muka untuk sekolah yang memiliki berada di wilayah zona hijau dan memiliki sarana prasarana penunjang penerapan protokol kesehatan.

Sekolah Diberi kewenangan untuk mengatur mekanisme penjadwalan belajar di sekolah, secara tatap muka. Demikian diungkapkan Kepala KCD Disdik wilayah XI Jabar, Asep Sudarsono kepada wartawan, kemarin (10/8).

“Di setiap satuan pendidikan wajib ada satgas Covid19 mengingatkan cuci tangan pakai masker. Kaitan teknis (Pembelajaran dan Penjadwalan belajar, red) diserahkan ke sekolah masing-masing, intinya siswa yang hadir di sekolah 50 persen dari jumlah siswa.
Sekolah Diberi Kewenangan Atur Mekanisme Sekolah Tatap Muka,” kata Asep beberapa waktu lalu.

Menurutnya, siswa boleh memilih belajar tatap muka atau di rumah melalui dalam jaringan (daring). Ia mengatakan, pihak sekolah harus memprioritaskan kesehatan.

“Disini tidak hanya zona hijau, tapi zona kuning Juga boleh. Tapi kalau zona hijau tapi tidak lengkap sarana dan prasarana ya tidak diizinkan,” tambahnya.

Pihaknya telah menerima beberapa usulan sekolah belajar tatap muka, kedepannya KCD akan melakukan pengecekan sarana kurikulum dan guru. (erf)