Kades Cimareme Jadi Tersangka Kasus Pelanggaran Pidana Pemilu

375
Kepala Desa Cimareme Jajang Haerudin saat melakukan kampenye yang tersebar dalam video

RADARPRIANGAN.COM, GARUT – Jajang Haerudin, kepala Desa Cimareme, Kecamatan Banyuresmi, kini berstatus tersangka dalam kasus dugaan pelanggaran pidana pemilu. Jajang diketahui melakukan ajakan memilih Paslon 01 dalam sebuah video yang sempat ramai menjadi perbincangan warganet.

“Sudah (jadi tersangka),” kata Kasat Reskrim Polres Garut AKP Maradona Armin Mafaseng kepada wartawan melalui whatsapp, Selasa (26/3).

Maradona menyebut bahwa sejak kemarin, Jajang sudah mulai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka.

“Hari ini (kemarin) sedang pemeriksaan tsk (tersangka),” katanya.

Meskipun sudah berstatus tersangka, Jajang tidak ditahan. Ancaman hukuman di bawah satu tahun menjadi alasannya.

Sebelumnya, Kepolisian Resor Garut melalui Kepala Satuan Reserse dan Kriminal, AKP Maradona Armin Mafaseng mengaku sudah menerima pelimpahan kasus pidana pemilu video ajakan Kades Cimareme Kecamatan Banyuresmi dari Sentra Gakkumdu. Saat ini, pihaknya tengah memeriksa sejumlah saksi yang berkaitan dengan hal tersebut.

 “Kita sudah menerima pelimpahan kasusnya dari Sentra Gakkumdu memang pada 13 Maret kemarin. Kita sendiri mendapatkan waktu selama 14 hari kerja sebagaimana diatur dalam peraturannya,” kata Maradona di kantornya, Rabu (20/3).

Maradona menyebut bahwa pihaknya hingga saat ini sendiri sudah memeriksa sejumlah saksi yang berkaitan dengan video tersebut. Di antara mereka yang diperiksa adalah Kepala dan Sekretaris Desa Cimareme.

“Selain Kades dan Sekdes Cimareme, kita juga memintai keterangan dari Panwascam Banyuresmi yang pertama kali menemukan video tersebut. Yang kita jadikan saksi juga termasuk pendamping Panwascam. Dari masyarakat juga kita ambil sampel dua orang yang telah menonton video tersebut,” jelasnya.

Objek dalam kasus tersebut, dikatakan Maradona adalah video. Karena itu pihaknya juga menerjunkan tim ke Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan digital forensik.

“Tujuannya adalah agar bukti video tidak terbantahkan. Kenapa ini dilakukan? Karena kita khawatir kalau video ini kemudian disebut editan,” katanya.

Selain itu, mantan Kasat Reskrim Polres Karawang ini menyebut bahwa sang Kepala Desa Cimareme belum ditahan oleh pihaknya. Hal tersebut dikarenakan ancaman kurungan yang akan dikenakan kepadanya paling lama satu tahun.

“Dengan ini maka memang tidak bisa ditahan, baik dalam proses penyidikan maupun penuntutan, hingga pemeriksaan di persidangan. Penahanan bisa dilakukan kalau ancaman hukumannya diatas lima tahun atau karena melanggar pasal yang ada pengecualian seperti pembunuhan dan beberapa kasus lainnya,” jelasnya lagi. (igo)