Jangan Takut Mengunjungi Pantai Garut

389
Pantai Sayangheulang, Kecamatan Cikelet. (dok. RADAR GARUT)

RADARPRIANGAN.COM, GARUT – Dampak dari bancana tsunami selat Sunda begitu besar terhadap wisata bahari di Kabupaten Garut.

Sejumlah objek wisata pantai mengalami penurunan wisatawan yang sangat luar biasa.

Misalnya pantai Sayangheulang yang terletak di Kecamatan Pamengpeuk, Garut. Biasanya memasuki H-2 menjelang malam pergantian tahun, pantai ini sudah dipadati ribuan pengunjung, namun saat ini sepi sekali seperti hari-hari biasa.

Popi Nugraha ,42, pemilik penginapan di pantai Sayangheulang mengajak kepada seluruh masyarakat untuk tidak takut terhadap isu miring yang beredar selama ini.

Menurut Popi, selama ini belum ada prediksi dari lembaga resmi seperti BMKG, yang menyatakan bahwa ada potensi tsunami di laut Garut.

Selain itu, tidak ada gunung yang menjolor di laut Garut, sehingga tidak akan ada potensi tsunami seperti yang dialami di selat Sunda.

“Sesuai dengan teori yang kita himpun, bahwa di Garut itu belum ada keterangan potensi untuk gempa dan tsunami. Kedua kami tidak punya gunung yang menjolor ke laut sehingga dinobatkan tidak ada potensi,”kata Popi Sabtu malam (29/12/2018).

Dia menyayangkan ada orang-orang yang menyebarkan isu miring terhadap pantai Garut. Menurutnya itu hanya suatu sikap kedengkian yang sengaja dilontarkan untuk membunuh pariwisata di Garut.

” Info itu dari orang yang sakit, karena tidak mungkin kriminal dari orang yang sehat. Sehingga ada yang luka salah satu, akhirnya dia mau luka semua,”sesalnya.

Sebagai orang yang sudah puluhan tahun tinggal di pesisir pantai, Popi memahami betul bagaimana gelagat alam jika akan terjadi bencana. Walaupun hanya Allah saja yang maha mengetahui kapan bencana itu akan terjadi, namun dari sifat alam, Popi bisa mengenalnya.

Popi bisa mengenal dari tingkah laku hewan yang ada di sekitar. Jika hewan-hewan gelisah dan menunjukan tingkah laku tidak bisa, itu menunjukan akan terjadi suatu bencana.

“Tidak ada bukti bahwa kehidupan selain manusia ketakutan. Peliharaan masyarakat aman, kepiting tidak ada yang datang ke daratan. Karena hewan paling sensitif karena dia otaknya hanya satu yaitu rasa, tidak ada akal. Kalau akan ada bencana itu biasanya burung terbang tidak tentu arah, cacing keluar dan mati, kepiting pada keluar ke darat, ayam peliharaan gelisah, itu menunjukan suatu tanda akan adanya hal yang tidak diinginkan,”jelasnya.

Selain itu Popi juga bisa melihat dari laut. Jika air laut berbunyi dan bergelombang seperti biasanya itu berarti kondisi alam bagus. Tapi jika laut tidak bersuara, tenang, landai, dan sunyi, bahkan air laut tiba-tiba surut, maka berhati-hatilah dengan kondisi seperti itu. “Nah sekarang ini laut berbunyi itu menunjukan kondisi laut aman,” imbuhnya.

Sementara itu menurut Ujang Selamet ,48, seorang jurnalis yang turut memantau kondisi pantai di Sayangheulang membenarkan perihal turunnya jumlah pengunjung.

Sampai Minggu pagi (30/12/2018) menurut Ujang kondisi pantai sepi seperti hari biasa. Padahal di tahun sebelumnya, H-2 menjelang malam pergantian tahun kondisi pantai Sayangheulang sudah penuh oleh pengunjung. (fer)